Cerpen untuk Anakku

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
Cerpen untuk Anakku

Senin, 25 Januari 2016

Malam itu, lebih dari dua malam sebelumnya. Masih tentang hal itu. Tentang lelap yang tak kunjung tiba dipelupuk mata ibumu. Tengah malam itu, rasa mulas yang ibumu rasakan jelas takkan pernah kita benar-benar pahami sebagai seorang lelaki. Melebihi mulasnya ketika engkau sarapan dengan sepotong bala-bala dengan cabai rawit tua 20 biji.
Malam itu, bahkan sebelum tengah malam. Ibumu sudah tak bisa lagi sekedar menutup matanya. Ia, mau tidak mau mesti terbelalak. Merasakan mulas dan sakit luar biasa hingga saatnya engkau dilahirkan pagi itu. Sebagai seorang lelaki, tugas kita akhirnya adalah berusaha memahami, tentang rasa sakit yang bahkan tak pernah bisa kita bayangkan.

?Jadi bagaimana cara kita memahaminya, yah?? Mungkin kelak begitu tanyamu.

Nah, justru itulah tugas kita yang takkan pernah usai. Terlebih untuk seorang anak lelaki seperti kita ini, nak!

Sederhananya begini sayang.
Apakah terjatuh dari gedung 150 lantai itu sakit?
?Ya tergantung, yah.?
Tergantung gimana?
?Ya kalau jatuhnya di dalam gedung, cuman gara-gara kepentok meja resepsionis sih, yaa biasa aja.?
Lha, kok bisa begitu yah. Haha. Tapi kalau jatuhnya di tangga darurat lantai 150, mendarat di basement, terus yang nyampe lantai duluannya hidung, gimana?
?Ya mana adek tau yah. Ayah coba aja sendiri. Adek sih gak minat yah, ngeriik..?

Nah, sebetulnya berusaha memahami ya seperti barusan itu. Tak mesti dengan menjatuhkan diri. Tak perlu pula menanti menjadi seorang wanita lalu melahirkan juga. Karena jelas takkan pernah bisa.

Malam itu, ketika cahaya fajar mulai membelah langit gelap setelah hujan semalam. Rasa sakit itu telah tak terperikan. Ia terus menerus mengerang. Bahkan titik-titik air mata pun sempat bergabung dalam gelora harap-harap cemas kami malam itu. Bagaimana tidak, dokter dan bidan kemarin bilang, mungkin engkau baru akan terlahir bulan Februari, atau bahkan Maret. Sedangkan sekarang Januari saja masih tersisa beberapa hari lagi.
Tahukah anakku, sejak dahulu para ?saintis? itu selalu saja begitu pongah tentang ?rahasia? kehidupan ini. Jadi jika kelak engkau bertemu dengan mereka, tertawalah! Jangan terlalu dipusingkan oleh ?warisan? sikap dan pemikiran mereka. Ayahmu ini sudah terlampau jemu dengan ?mitos-mitos modern? yang mereka buat.


SATYA LATIEF NURROHMAN, ini nama yang kami pilihkan untukmu anakku.
Semoga kelak engkau takkan minder dengan nama ini.

Jelas ada sebuah cita-cita besar kami dalam nama ini. Harapan kami, kelak engkau menjadi seorang kesatria sejati yang berhati lembut, sebagai pancaran cahaya ilahi, Sang Maha Rohman.
Kesatria adalah orang yang setia pada kebenaran. Tak pernah ciut dengan kasta dan tahta. Tak pernah takut untuk memperbaiki kesalahan, mengakui kekeliruan, dan untuk senantiasa mencari dan menemukan kebenaran. Karena kebenaran memang bukan hanya untuk dicari, tapi lebih dari itu, ?ditemukan?.
Hati yang lembut bukanlah pengecut. Ia akan tetap berpegang teguh pada kebenaran. Namun melalui hatinya yang lembut itu, tak membuat orang ?takut? dengan kebenaran. Bahkan justru semakin jatuh hati melalui ke-latif-annya.
Pancaran cahaya ilahi, ini unsur nama paling penting padamu. Kebenaran yang kau genggam, mestilah benar ?menurut? Allah. Kelembutanmu, adalah kematangan pribadi Muhammad, Sang Cahaya Ilahi. Sebagai pancaran Maha Pengasih-Nya Allah, Rabb Semesta Alam.

Mungkin kelak akan ada orang yang bertanya padamu, ?Mengapa dalam namamu ada unsur bahasa non-Arabnya?? Kelak sampaikan saja pada mereka, bahwa ?kebaikan? tak mesti memiliki unsur bahasa arabnya, dan bahkan tak setiap yang berbau Arab pasti baik. Islam datang bukan untuk menghapuskan semua bahasa dan unsur kebaikan yang telah tertanam dalam banyak adat dan budaya dunia. Islam justru datang untuk mengokohkannya, selain pula melakukan purifikasi akan semua ?kekeliruan? yang kadung tertanam di dalamnya. Cukup, begitu saja dariku, nak.

Kakekmu kemarin berkata, ?Orang tua itu ya begitu. Waktu anak masih kecil, ia kerepotan karena kecilnya. Pun ketika kelak anak dewasa, orang tua cemas karena telah dewasanya.? Selamanya orang tua mestilah begitu. Kini mungkin engkau takkan mengerti. Tetapi kelak, ketika engkau menjadi orang tua. Semua ini, satu persatu, akan kau pahami pula.

Anakku sayang, tahukah engkau? Bahwa pun ketika saatnya engkau telah dilahirkan, rasa ?sakit? ibumu masih saja berlanjut. Setiap engkau menangis meminta disusui, ataupun ketika engkau ngompol dan poop. Selalu saja ibumu yang terbangun sendirian. Sedangkan ayah, hanya bisa tertidur lelap diiringi alunan tangis malammu. Belum lagi dengan panas dingin, sebagai pelengkap ?ritual? menyusuimu. Sekali lagi, ayah melihat air matanya sore itu. Pusing, karena mungkin kurang tidur. Sedih, karena kekhawatirannya saat berpikir tentangmu. Jika ia sakit, lalu siapa yang akan menggantikannya menyusuimu. Mungkin itu yang terlintas di benaknya. Namun justru dengan itu semua, ibumu menjadi seorang ibu sejati. Tetap bisa mengurusmu, meski dengan tubuh yang panas seperti itu. Kelak, ini akan menjadi alasan lain untuk menghormati ibumu sepenuhnya.

Pada akhirnya ayah mengerti, mengapa peran seorang ibu begitu luar biasa melebihi segalanya. Pun di sana menjadi bukti bahwa wanita adalah makhluk luar biasa yang mesti dihormati. Mereka yang mengandung, melahirkan, menyusui, merawat, mendidik, dan bahkan menjadi subjek sekaligus objek cinta paling nyata di antara penghuni bumi ini.
Jika kelak, ketika tua, ia begitu ?kampungan?, tolong maafkan dia. Karena ia memang hidup di masa yang berbeda denganmu. Jika kelak ia begitu cerewet bercerita tentang dirimu, tentang hal-hal yang mungkin ?memalukan? menurutmu. Ayah mohon pahami dirinya. Karena bahkan setiap suara kentutmu, dengkuranmu, tangisanmu, cegukanmu, tawa dan igauanmu, adalah mutiara kebahagiaan paling nyata baginya. Ia mungkin sedang berbagi kebahagiaannya, namun engkau saja yang belum mengerti tentang semua itu.

Anakku sayang, kehormatan dan keshalihan tertinggi seorang anak, adalah mereka yang menghormati dan berperilaku baik juga santun kepada orang tuanya. Bukan soal stratifikasi, tapi ini adalah diferensiasi. Bukan perbedaan yang dibuat-buat, hanya memang berbeda sejak awalnya. Ayah dan ibu, pada hakikatnya adalah perantaraan Allah, alasan engkau mewujud di dunia ini. Sehingga jika kelak kami berbuat salah dan keliru, luruskanlah nak! Tapi tolong catat satu hal, sampaikan dengan cara yang lembut dan penuh hormat. Karena begitulah Nabi kita mencontohkan. Selamanya kebenaran membutuhkan ?hikmah? untuk bisa diterima. Meski tak bisa menjadi jaminan, tapi itu jalan yang memang Allah ajarkan.

Anakku sayang, Dzu an-Nun al-Mishri pernah berpesan kepadamu. Entah melalui berapa banyak orang hingga sampai kepadamu kini. Beliau berkata, bahwa manusia selalu takut dan bahkan menganggap musuh, kepada apa saja yang tidak ia ketahui. Maka semakin sedikit engkau tahu, semakin banyak musuhmu. Terlampau mudah menganggap seseorang pasti salah, tidak akan mungkin pernah benar. Itu karena ia tak banyak tahu tentang apapun. Maka banyak-banyaklah engkau tahu, sehingga tak banyak hal yang akan kau musuhi. Pelajari secara khidmat perjalanan hidup Nabi kita, Muhammad. Beliau adalah orang paling hebat. Ia mengenal Tuhan-Nya, juga tak pernah melupakan orang-orang yang ada disekelilingnya. Ia adalah seorang yang keshalihannya bahkan dirasakan oleh para pembencinya.

Kelak engkau mungkin akan membaca kisah beliau bersama seorang nenek buta beragama Yahudi. Seorang nenek yang setiap sore, ketika beliau dengan penuh kasih menyuapinya makanan. Setiap itu pula ia mencerca pribadi Muhammad yang tak pernah benar-benar dikenalnya itu. Tapi Muhammad tetap memperlakukannya dengan baik. Hingga akhirnya nenek itu benar-benar menyesal, ketika Abu Bakar menceritakan semuanya, dan sayangnya saat itu Muhammad telah tiada. Nenek itupun segera ber-syahadat, ia ber-Islam tanpa pernah dipaksa sedikitpun. Tapi ia ber-Islam, setelah merasakan kebaikan pribadi Muhammad yang mungkin menurutnya, telah di luar nalar itu.
Muhammad telah mengetahui amat sangat banyak hal. Sehingga ia tak mudah memusuhi orang lain. Ia pribadi yang jelas Allah jadikan prototipe penting bagi ummat manusia. Kesesatan jelas berbeda dengan orang yang tersesat.

Muhammad tak pernah memusuhi seseorang karena memusuhi dirinya. Tapi ketika mereka dengan terang-terangan memusuhi Allah, juga melakukan usaha-usaha serius untuk menghalangi cahaya Allah menyentuh tempat-tempat tergelap di sudut hati manusia. Maka saat itulah, Muhammad siap untuk melakukan usaha paling kuat untuk menghilangkan sekat-sekat cahaya-Nya. Karena apa? Karena ia sangat cinta kepada mereka semua. Tak pernah ia berperang karena kemarahan, ia hanya berperang untuk menyadarkan kekeras-kepalaan mereka itu telah keliru.
Muhammad pernah mengingatkan kepada kita. Bahwa perjuangan yang berlandaskan amarah, rasisme, dan kebencian, itu adalah perjuangan yang sia-sia, bahkan berakhir dengan kebinasaan. Maka tak perlu kau dengarkan jika pekikan jihad itu masih membonceng unsur-unsur tadi. Bahkan beliau selalu mencegah para sahabat, yang atas dasar kecintaan mereka, membela habis-habisan beliau. Mereka yang berani menghunus pedang kepada setiap pencaci beliau. Muhammad tak pernah mengizinkan perjuangan berlandaskan amarah. Setiap perjuangan mestilah berlandaskan kasih sayang. Rasa cinta agar mereka yang didakwahi sadar akan kasih Allah kepada mereka, melalui syariat-Nya.

Anakku sayang, maaf jika ayahmu ini terlampau cerewet. Begitu banyak hal yang bisa kau dapatkan dari dunia yang kadung carut-marut ini. Masih begitu banyak hikmah yang tersebar di setiap ujung keburukan yang terjadi di tengah-tengah kita. Ayah tak pernah tahu apa yang kelak akan kau hadapi di masa depan. Hanya satu pesan ayah kepadamu, nak. Jangan pernah takut berbeda dengan kebanyakan orang. Tapi takutlah engkau, jika berbeda dengan kebenaran.
Jatuh cintalah engkau pada kebenaran. Bukan jatuh cinta pada ?pencarian kebenaran? belaka. Jatuh cintalah engkau pada kebaikan. Jangan pernah malu mencintai dengan benar. Cinta yang tak berbatas waktu. Cinta yang tak berbatas momen. Cinta yang tak mesti menunggu hari ibu, hari ayah, hari raya, hari maulidan, hari kasih-sayang, dan hari-hari lainnya. Karena cinta sejati adalah layaknya kasih Tuhan, yang tak pernah dengan gombal mengumbar kata cinta. Namun selalu memberi segala yang kita butuhkan. Kasih sejati adalah kasih ibumu, yang tersimpan dalam tetes air mata harap dan cemasnya. Tak perlu menunggu waktu yang disepakati kemudian hari, namun kasih dan cinta itu terus mengalir bersama kehidupanmu.

Mendewasalah engkau dengan penuh percaya diri. Tak perlu membandingkan dirimu dengan orang lain. Karena memang hidup ini takkan pernah adil, jika kau terus membandingkan dirimu dengan orang lain. Maksimalkan saja kelebihan yang kau miliki. Karena bahkan Allah telah menyiapkan banyak pintu menuju surga-Nya. Namun bukan berarti kau harus sombong dan keras kepala. Belajarlah dari siapapun. Tentang arti sebuah perjuangan tanpa henti. Tentang arti sebuah pengorbanan tanpa pamrih. Selalu melakukan dan memberikan yang terbaik. Belajarlah kepada mereka tentang banyak bentuk dan wujud kebaikan. Hingga kelak engkau menjelma manfaat bagi sesama.
Maafkanlah ayah, nak. Jika kelak ternyata ayahmu ini tak mampu mewujudkan banyak keinginanmu. Karena kebahagiaan bukanlah tentang kumpulan kehebatan yang terwujud. Apapun itu, harta, tahta, wanita. Tapi kebahagiaan adalah tentang memaknai semua yang terjadi dalam hidupmu sebagai kebaikan. Belajarlah dari kehidupan. Kenali lebih jauh Tuhanmu dari kehidupan yang menghadangmu. Bukankah Tuhan yang telah memberikan kita segala rencana terhebat-Nya sehingga kita mewujud di dunia ini?

Jatuh cintalah pada semua rencana-Nya yang begitu memabukkan ini. Jatuh cintalah pada Dzat-Nya yang Maha segalanya ini. Jatuh cintalah kepada cinta-Nya yang Maha luas dan tanpa syarat ini. Sehingga kelak engkau bisa memaknai surga sebagai sebuah pertemuan termanis dengan Dzat yang kau cintai. Lalu neraka sebagai sebuah perpisahan paling menyedihkan. Sebuah kerinduan yang kau siakan begitu saja. Sebuah pengkhianatan paling keji. Perselingkuhan paling memalukan. Saat engkau meninggalkan kasih dan cinta yang Maha besar. Kasih dan cinta yang telah ada, bahkan sebelum engkau ?menjadi? di dunia ini.

Pada akhirnya, cinta memang bukan tentang memberikan semua yang kau inginkan, nak. Tapi cinta adalah tentang berusaha memberikan satu demi satu, apa yang benar-benar kau butuhkan.

?

Sayup Adzan Shubuh,
Kamis, 11 Februari 2016

  • view 229