MENGAPA UMAT ISLAM TIDAK DAPAT BERSATU?

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Inspiratif
dipublikasikan 16 Februari 2016
MENGAPA UMAT ISLAM TIDAK DAPAT BERSATU?

Pasca agenda tahunan kaum Syi?ah dengan perayaan Asyura-nya isu tentang persatuan Umat kembali menyeruak ke permukaan. Menjadi isu santer yang banyak diperbincangkan di media sosial. Muncullah istilah Sunni, Syi?i, Wahabi, Sufi, dan lain sebagainya. Entah bagaimana, masalah ini memang selalu saja baharu dan menarik untuk diperbincangkan, dari masa ke masa; tiada henti-hentinya. Ada sebuah pertanyaan yang begitu menggelitik untuk ditujukan kepada seluruh pihak, mengapa umat Islam tidak bisa bersatu? Ya, ada masalah apa sebenarnya sehingga kita, umat Islam, tidak bisa bersatu. Apakah karena jumlah ormas yang begitu beragam di bumi Indonesia ini? Ataukah karena kadung sejak dahulu umat Islam telah ber-madzhab-madzhab? Kiranya pertanyaan itu masih sangat pantas untuk ditujukan kepada kita semua, yang mengaku kaum muslimin. Lalu bagaimana jawabannya? Menarik kiranya jika kita membaca salah satu pemikiran Tuan Guru M. Natsir dalam perkara ini.

Melalui bukunya yang berjudul ?Mempersatukan Ummat?, M. Natsir menyampaikan bahwa pemikiran ?perpecahan umat terjadi karena banyaknya jumlah golongan dan ormas yang ada di Indonesia? adalah tidak tepat menurut beliau. Asalkan semuanya berdiri di atas satu wijhah; satu tujuan yang sama, kiranya semua tidak akan berakhir sebagai perpecahan; tafarruq. Lalu mengapa hal ini bisa terjadi?

Pertama, beliau menegaskan, karena kita baru ?berwujud? sebagai kaum muslimin, belum menjadi kaum mu?minin. Mengapa demikian? Ya, jika kita membaca QS. Al-Hujurat: 10, jelas-jelas Allah Swt. menegaskan ?innamal mu?minuna ikhwatun? bukan ?innamal muslimuna ikhwatun.? Lalu pertanyaannya, keimanan yang bagaimanakah yang bisa mewujudkan tali persatuan? Beliau memberikan 3 syarat:

  1. Keimanan yang menjelma berupa ?ubudiyah yang tertib dan khusyu hanya Allah Swt. baik yang berupa amal shalih, tingkah laku maupun budi pekerti yang bermutu tinggi dalam pergaulan sehari-hari dengan siapapun itu.
  2. Keimanan yang meletakkan tuntunan Allah dan Rasul sebagai petunjuk; sebagai tempat pulang, dalam menentukan sikap dan langkah bila berhadapan masalah-masalah duniawi maupun ?ubudiyah.
  3. Keimanan yang menjadikan pemiliknya mampu untuk mengendalikan hawa nafsunya, kemudian menempatkannya sesuai dengan ketentuan Allah dan Rasul; sebagai tempat mengembalikan segala persoalan.

Jika ketiga hal ini telah tertanam kuat dalam sanubari setiap kaum muslimin, akan kuat pulalah persatuan dan persaudaraannya. Namun jika lemah, lemah pulalah, atau bahkan hilang sudah, ikatan persatuan dan persaudaraannya.

Kemudian masalah yang tak kalah pentingnya, ketika kita berbicara soal persatuan umat, menurut Natsir, adalah masalah hati. Soal tujuan; soalan wijhah dari perjuangannya masing-masing. Mengapa begitu? Karena inilah yang berfungsi sebagai ?ikatan pemersatu? umat. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam QS. Al-Anfal: 63. Lalu tujuan seperti apakah yang akan menjadi ?ikatan pemersatu? itu? Allah telah menjelaskan pada ayat berikutnya, hasbuka-llah, cukupkan diri kita dengan Allah sebagai wijhah perjuangan. Carilah keridhaan Allah, tegas beliau. Bukan ?asal aku senang? ataupun ?asal golonganku senang?. Logis memang, ketika tujuan kita satu; sama, maka pasti gerak langkah kita akan searah. Namun ketika tujuannya adalah benda-benda yang bertebaran, bertebaran (terpecah; tafarruq) pulalah kita dibuatnya.

Banyaknya golongan dan ormas tidak akan pernah cukup sebagai pemecah. Ketika searah yang terjadi bukannya ?saling sikut?, tapi yang terjadi adalah musabaqah; berlomba dengan sehat dan jujur, sebagaimana disampaikan dalam QS. Al-Baqarah: 148. Namun rencana tinggal rencana, pada perkembangannya tujuan perjuangan itu pun samar-samar kabur. Dari yang asalnya hubbullah dan mukhafatallah; cinta dan takut kepada Allah, menjadi hubbul-djah wa hubbul-mal dan karahiyatul maut; cinta kehormatan dan harta, juga takut dengan kematian. Maka jika di satu pihak, tujuan atau wijhah ini telah menjadi ?pemersatu?, berdirilah ?Ananiyyah? atau ?Aku-isme? ini sebagai ?pemecah?-nya.

Perbedaan pendapat dalam banyak persoalan yang telah menjadi sunnatullah ini semestinya berdiri di atas kejujuran. Maksudnya bagaimana? Ya, mesti bersumber dari hasil pemikiran dan ijtihad-nya masing-masing. Jika ini yang terjadi, tentulah tidak akan membuahkan perpecahan, tapi justru semakin mendewasakan umat dalam berpikir dan berargumen. Namun ketika hal ini telah ditunggangi dengan hawa nafsu, ditambah lagi dengan sama-sama tidak tahu ?tempat pulang?, baru timbullah tafarruq!

?

Lalu apa mesti bisa dilakukan sekarang soal usaha mempersatukan umat ini? Apakah semua ormas dan partai-partai Islam harus dilebur dan dijadikan satu golongan saja? Ataukah kita buatkan saja satu ?common enemy? agar semua kaum muslimin sudi bersatu, melangkah bersama-sama?

?

Hal seperti itu jelas sia-sia belaka, jelas Natsir. Mengapa bisa? Karena persatuan yang dipaksakan tidak akan bertahan lama, tegas beliau. Selama masih ada faktor-faktor pemecah umat; aku-isme tadi, lama kelamaan akan terjadi percekcokan juga, yang akhirnya menimbulkan perpecahan kembali dalam satu organisasi tersebut. Pun begitu soal common enemy, beliau menyampaikan sebuah fakta sejarah. Ketika umat Islam Indonesia, pada tahun 1945, bersatu menghadapi penjajah dan masalah-masalah lainnya yang nyata saat itu, umat Islam memang bersatu dalam satu partai yang sama. Namun ketika dirasa musuhnya telah tiada mengancam lagi, udar pula tali persatuan tersebut.

Untuk itu beliau menawarkan suatu proses taalluful qulub, mempertemukan hati dengan hati, yang menurut beliau mesti melewati beberapa tahap, proses didikan, latihan dan juga ujian, lahir dan batin, setaraf demi setaraf, sebagaimana disampaikan dalam QS. Al-Fath: 29. Bagaimanakah hal tersebut dapat diterapkan di negeri kita?

Beliau menyebutkan, bahwa kita mesti sederhana dalam menentukan apa yang hendak kita capai dalam jangka waktu pendek, maupun jangka waktu panjang. Setelah itu mesti pula adanya introspeksi di semua pihak; di semua lini umat Islam. Mempelajari kembali pribadi diri, meneliti kembali hati sendiri, dengan penuh kejujuran tentunya. Jika meminjam bahasa Rasulullah Saw., ibda bi nafsik! Lalu dilanjutkan dengan adanya inisiatif dan senantiasa aktif untuk merekatkan kembali tali ukhuwah yang telah lama udar ini secara informal; tanpa gembar-gembor! Jelasnya seperti apa? Mulailah hubungan antar pribadi yang lebih baik dan terbuka, juga sudi meminggirkan perbedaan ilmiah yang sulit dihindarkan tadi. Ketika hal tersebut telah terjadi, akhirnya umat Islam akan punya waktu yang banyak untuk bertukar pikiran secara jernih, tanpa melibatkan prasangka yang buruk lagi. Untuk apa? Tentu saja untuk mencapai ?kalimatun sawa?; titik-titik pertemuan antara semuanya.

Kemudian di akhir bukunya, beliau mengingatkan, bahwa tugas kita sebagai organisasi dan para pemimpin umat Islam adalah: menebar benih, menanam, memupuk, bersiang melindunginya dari gangguan-gangguan, dingin dan panasnya udara. Sederhananya, menyiapkan kader-kader terbaik, yang siap untuk melanjutkan cita-cita persatuan umat Islam ini.

Wallahu a?lam bi shawwab.

  • view 533