Catatan Kerinduan H-1

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
Catatan Kerinduan H-1

Hari 1

Rabu, 18 November 2015

?

Hal yang sudah ku siapkan dalam retorisnya logika, hari ini mesti aku laksanakan. Sebuah kejutan yang tentu bisa kau tebak arahnya. Entah karena apa, tapi rasanya setiap tingkah polaku sudah dapat kau tangkap betul dengan baik.

Namun arang tak boleh hanya hitam, tapi mesti menyiratkan semangat Sang Api yang tersisa dalam retak tubuhnya sendiri. Ku tetapkan tekadku. Ku kirim inbox di facebook-ku dan ku sampaikan baik-baik maksud dan niatku.

?

?Bang, saya pengen pesan buku yang kemarin saya bilang itu yah, hehe.?

?Iya kang boleh, silahkan,? jawabnya.

?Tapi saya boleh minta sesuatu gak bang?? lagi ungkapku penuh harapan.

?Saya pengen disisipkan kata-kata dipaketnya nanti.. boleh yah? Hehe..? lanjutku segera.

?Kata-kata apa kang? Saya khawatir tidak layak untuk menuliskannya, hehe..? jawabnya seperti keberatan pikirku.

?Kata-katanya sebentar saya kirimkan bang.?

?Hehe. In sya Allah, siap!? jawabnya justru sangat antusias.

?Owh iya, rekening sama totalannya yah jangan lupa.?

?Siap!?

?

Ku nyalakan laptop, tapi aku takut kehilangan semua rasa menulis dalam hatiku. Entah kenapa, karena memang selalu saja begitu. Sehingga tak lama aku singkirkan laptopku, dan segera ku ambil secarik kertas dan sebilah pulpen di tanganku.

?

Setiap detik waktu yang telah kau berikan bersamaku takkan pernah bisa digantikan dengan emas yang bergunung sekalipun.

Setiap helaan nafas yang kau hirup bersamaku adalah semilir angin surga.

?

Setiap hening dan celotehmu...

Setiap tawa dan rajukmu...

Setiap sentuhan lembut jari-jarimu...

Kini adalah permata terindah yang tak bisa gantikan seluruh usahaku untuk bahagiakanmu.

?

Anak yang kini berlindung dengan tenang dalam rahimmu, adalah bukti cintamu yang begitu tulus untukku.

Maaf kekasihku, jika masih begitu banyak kekurangan dari suamimu yang tak tahu terima kasih ini.

?

?Kanreapia with Love?

? riedlovela14

09.00 WITA

?

Ku tulis kalimat-kalimat itu diiringi percakapan anak-anak TK yang ku dengar begitu lembut, seperti saling berbisik kerinduan akan sosok engkau yang selalu begitu antusias menyambut kedatangan mereka. Sampai-sampai engkau hafal cara mereka datang yang begitu khas, pikirmu.

?Wow kereeeen banget, kang. Saya tulis tangan gak apa-apa ya kang?? responnya mungkin agak berlebihan pikirku saat itu.

?Oke bang, abang atur-atur saja bagaimana baiknya. Nanti saya ganti juga jasa ngerepotinnya.. hehe.. terima kasih bang.?

?Hahaha... bisa aja. Saya malah seneng banget bisa menuliskan kata-kata ini.?

?Hehe.. oke bang ditunggu konfirmasinya yah, biar bisa segera saya transfer.?

?Kapan bang bisa dikirim?? tanyaku lagi.

?In sya Allah hari ini saya kirim kang.?

?Oke deh, jangan lupa totalan sama rekeningnya yah.?

?

Namun ia tidak lagi menjawab pesanku. Mungkin ia ada kesibukan lain pikirku.

?

Pagi itu, selepas aku mencari sarapan nasi kuning di Pasar, aku pulang dengan lemas. Karena begitu banyak ruang kosong yang kau sisakan untukku di tanah ini. Begitu banyak waktu yang kau buat begitu lengang, dari setiap detik hari-hariku kini. Betapa setiap tanah yang ku injak, mengingatkan diriku akan senyumanmu yang begitu manis di pagi yang dingin. Bahkan setiap kecut cemberutmu, kini adalah ekspresi yang begitu aku rindukan.

Begitu sampai di pintu rumah, anak-anak TK itu seperti biasa sudah datang, berkumpul di sudut karpet coklat yang mulai lusuh. Ketika mereka melihatku salah seorang anak berkata kepada teman-temannya yang lain.

?Asyik ada ibuu... asyik ada ibuu..? begitu celotehnya kegirangan. Kerinduan itu pun semakin meluap, membuncah, memaksaku untuk menghancurkan harapan mereka.

?Ibu kan kemarin sudah pulang, sekarang ibu sudah ada di Bandung.? Sesaat ku tutup ucapanku dengan senyuman. Terpaksa! Ya, aku terpaksa tersenyum, lagi untuk menutupi kerapuhanku yang sedang dalam titik ?kulminasi melankoli?.

Bahkan tempat-tempat bekas makan kita, di hari Selasa dan Rabu kemarin, sengaja tidak langsung aku bereskan. Harapanku, mungkin akan ada sedikit pengobat rinduku dalam piring-piring yang kita pakai sebagai alas makan kita berdua terakhir kali. Ya, piring bekas kita makan mie malam itu. Saat kita sudah bingung akan makan apa malam ini. Karena terlanjur beras sudah habis. Terlanjur kita tidak pergi belanja bahan masakan di Pasar, Sabtu kemarin. Bahkan mangkok yang kita gunakan untuk tempat makan Alpukat siang itu, masih tetap aku biarkan bertumpuk rapi, seperti bersusunnya kerinduan dalam hati ini.

?

Siang datang menggantikan Sang Pagi yang sudah bosan mendengar curhatanku yang termehek-mehek ini. Membuatku harus pergi mengajar ke Aliyah. Ku titipkan gembok dan kunci cadangan yang biasa kau bawa kepada Ibu Marwiyah, karena pasti beliau harus membereskan ruang kelas TK ini nanti.

Ku nyalakan motor itu, lalu ku pacu dengan pelan, pelaaan sekali. Seakan aku masih belajar cara untuk pergi ke sekolah tanpa berpamitan kepadamu. Titik-titik embun kesepian itu kembali menetes. ?Ikhhh, malu dong, masa pergi mengajar dengan mata sembab begini,? tukasku dalam hati.

Selepas jam pelajaran usai, aku pun menghampiri ruangan kamar kawanku. Ku kira jika aku banyak mengobrol, mungkin kerinduan ini akan ada redanya. Beberapa topik pembicaraan kami saling sampaikan. Sampai pada bagian yang membuatku mengulang melankoli ini.

?Bagaimana kabar istrimu? Baik-baik kah??

?Alhamdulillah, kemarin malam sudah sampai mendarat di Husein jam tujuh malam,? jelasku.

?Kemarin, pendaratannya sempat lambat hampir satu jam.?

?Kenapa bisa??

?Kemarin di Bandung hujan besar, sampai berkabut katanya. Jadi pesawat tidak bisa lihat jalur pendaratan. Makanya terpaksa harus transit dulu di Jakarta.?

?

Pasca menonton Drama Korea, ?Take Care of Us Captain?, bersamamu dulu, membuat aku bisa membayangkan betul bagaimana kondisi di Pesawat saat itu. Namun satu hal saja yang aku pikirkan saat itu, bahwa engkau pergi dengan orang yang sangat aku hormati kebajikannya. Sehingga sedikit bisa membuatku tenang, ?banyak orang yang mendoakan kalau sama orang salih begitu,? ucapku dalam hati.

Setelah menyambung beberapa topik pembicaraan lagi, akhirnya jam istirahatpun usai. Kami kembali kepada tugas masing-masing. Setelah itu akupun pulang ke rumah. Tak lupa aku mampir di penjual gorengan, ku rogoh saku, dan ku ambil uang kertas dua ribu yang ku simpan sejak kemarin. Cukup pikirku, setidaknya untuk menyambung hidup sampai malam nanti.

Sampai di rumah aku cek inbox facebook-ku, ternyata si abang baik hati itu mengirim beberapa pesan. Melampirkan beberapa foto tulisan tangannya, disertai beberapa curhatan beliau.

?

?Mohon dikoreksi, kang. Ada yang keliru gak? Maaf tulisanku jelek. Ini sudah saya coba berulang-ulang. Lama gak nulis. Apalagi nulis puitis begini. Hehe..?

?

Tanpa menunggu jawabanku, ia sudah menambahkan lagi beberapa foto yang menarik, membuat hatiku senang tak terkira akan ketulusannya memberikan bantuan kepadaku.

?

?Begini, kang. Kalau sudah oke, saya mau langsung ke JN*.?

?Mohon izin saya kirim ya kang. Terima kasih.?

?Mantap bang. Terima kasih sekali ini. Siap dikirim, hehe..? jawabku mengkonfirmasi.

?Terima kasih sekali lagi sudah mau direpotkan. Semoga menjadi catatan kebaikan yang bermanfaat ya bang.?

Tubuhku yang masih agak kelelahan sepulang dari Bandara kemarin akhirnya memaksaku untuk tertidur. Mengantarkan pulang Sang Terang, yang langsung digantikan Senja kemilau.


Dalam setiap sudut kamar ini aku terus mencari sesosok wajah teduhmu.

Dalam setiap lorong-lorong pasar yang menghimpit, aku menantikan tarikan lembut tanganmu yang tak ingin ditinggalkan jauh.

Dalam setiap jejak langkah kita, di sini, di tanah asing yang justru membuat kita saling mencari.

Kasih, ketika aku membuka pintu depan, masih terlalu terngiang sahut bagi salamku yang begitu tulus.

Setiap teriakan kecil anak didikmu yang sama sekali belum terbiasa untuk tak memanggil namamu,

?Teteeeh... mengajiii...?

ya, teriakan itu yang benar-benar menegaskan kekosongan hidupku. Mendorong begitu kuat. Menghempaskan begitu kencang. Embun kesepian untuk menghambur dari sudut paling sempit di pinggiran mataku.

Ahh... rasanya begitu besar kekosongan yang kau campakan padaku. Layaknya kekosongan yang tengah menyanggah Sang Langit. Penuh rindang kerinduan yang melambai lembut mengusir setiap tawa lepas ketika aku masih memelukmu, kemarin...

?15.30 WITA

  • view 154