“Surat untuk Muridku...”

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
“Surat untuk Muridku...”

Jujur, rasanya aku tak pernah layak menyebut diri sebagai guru kalian..

Terlalu banyak kebodohan yang selama ini aku tunjukan..

Terlalu banyak pelajaran tak penting yang aku sampaikan..

Bahkan mungkin terlalu banyak omong kosong yang aku ucapkan..

?

Tapi tahukah kalian?

Hal-hal yang berharga itu selalu saja terlambat kita sadari..

Ketika ia hendak pergi, dan mungkin tak pernah bersua lagi..

?

Tapi tahukah kalian?

Bahkan dalam marah dan kesalku, tak pernah terselip rasa dendam.

?

Aku jelas terlalu bodoh, untuk menisbatkan diri sebagai seorang guru.. yang bahkan sedikitpun tak bisa membuat kalian paham dengan materi-materi pelajaran itu..

?

Maaf... jika selama ini aku tak pernah tahu yang kalian butuhkan.

Maaf... aku banyak meninggalkan kalian di belakang, bahkan tanpa sempat menengok dan sekedar menunggu.

?

Teruntuk kalian, yang menguasai masa depan!

Tak ada yang salah dengan kebodohan, kecuali rasa malas yang tak sempat kalian kalahkan.

Tak ada yang aneh dengan kesalahan, kecuali perubahan yang terlambat kalian wujudkan.

?

Untuk kalian, izinkan aku untuk menyebut murid-muridku..

Dunia ini tak pernah berhenti berputar.. Siang bersahut malam, diikuti Sang Fajar yang menuntunmu untuk berjumpa dengan esok hari.

?

Salah, benar.. ingat dan lupa..

Itu semua ada untuk membuat kita sadar diri, bukanlah makhluk sempurna.

Selalu ada bayang di ujung cahaya.

Pun selalu ada fajar gemerlap di setiap ujung malam-malam paling gelap.

Juga selalu ada pelangi, yang membayar lunas semua badai yang menerpa ini.

?

Lelah? Itu pasti. Bukankah ibu kalian pun setengah mati melahirkanmu?

Tidak ada yang salah dengan terjatuh.

Selama kita tahu cara untuk bangkit kembali.

Tidak pernah ada yang salah dengan perubahan.

Selama kita menuju cahaya yang lebih terang.

Tidak pernah ada baiknya menjadi bodoh, dan tak ada untungnya membodohi diri sendiri.

?

Setiap diri kita adalah pemenang.

Satu diantara jutaan sel sperma yang berhasil mewujudkan diri.

Setiap diri kita begitu berarti, yang pernah diperjuangkan setengah mati, dengan sepenuh hati.

?

?

?

Kanreapia, 18 Desember 2015

17:36 WITA

  • view 733