Kontroversi Vaksin: Mereka yang “Mendadak Saintis”

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Lainnya
dipublikasikan 07 April 2016
Kontroversi Vaksin: Mereka yang “Mendadak Saintis”

Program PIN Polio yang diselenggarakan pemerintah beberapa waktu yang lalu, kembali memicu perdebatan tentang ?Pro-Kontra Vaksin dan Imunisasi?. Sebagian besar masyarakat Indonesia, sedikit-banyak, dibuat bingung dan galau. Apakah ia mesti memberikan imunisasi kepada anak-anaknya, atau justru mesti menolaknya. Kebingungan ini bertambah ketika ada sebagian orang yang justru ?memancing di air keruh?; demi mengedarkan produk jualannya, supaya lebih laku. Terlebih melihat kondisi sebagian besar masyarakat Indonesia yang memang masih gagap informasi terkait penelitian ilmiah, yang mayoritas berbahasa asing. Hadirnya tulisan ini bukan untuk memaksakan kesimpulan ?ijtihadi? penulis dalam masalah ini. Hanya sekedar penyeimbang bacaan, agar pembaca memiliki sudut pandang lain melihat kontroversi ini.

Tentu banyak hal yang menjadi titik sorot dalam kontroversi ini. Ada yang menghubungkan dengan konspirasi orang Yahudi, yang bermuara pada kesimpulan bahwa, ?Semua yang datang dari barat itu pasti ingin melemahkan Umat Islam.? Ada pula yang menghubungkan dengan fatwa ?Haram? yang entah datang dari Ulama mana. Lalu ada lagi yang memonsterkan ?kandungan kimia? dan ?ilmu kedokteran modern?. Tidak cukup sampai di sana, seruan back to nature dan thibbun nabawi secara serampangan mulai digembor-gemborkan. Belum cukup pula, dibubuhkanlah gelar ?tidak cinta Rasul?, ?tidak tawakkal?, ?tidak iman kepada al-Quran dan Sunnah?, dan lain sebagainya, hanya dilantarankan kesimpulan yang diambil itu berbeda dengan kesimpulan mereka.

Berbagai macam alasan ?ilmiah? ditampilkan dalam link yang mereka sebarkan. Hebatnya, banyak sekali ?Ustadz? yang mendadak saintis ketika membahas perkara ini. Ulasan-ulasan dari nama ?asing? yang tidak biasanya dalam urutan pengambilan putusan mereka pun, begitu lancar mereka kutip dan percayai begitu saja. Sekali lagi, tanpa mempelajari lebih dalam latar belakang sosok-sosok tersebut. Seakan-akan, mereka lupa ada metode jarh-ta?dil, atau setidaknya silang referensi dalam membahas satu masalah. Standar ganda. Ya, penolakan mereka terhadap apapun yang datang dari Barat seketika sirna ketika mereka memasukkan judul ?kata ilmuan tentang vaksin?.

?

Sebuah Asumsi Dasar

Hal seperti ini jelas terjadi di masyarakat yang memang masih memiliki pondasi berpikir ilmiah yang tergolong rendah. Umat Islam Indonesia memang diakui memiliki semangat yang tinggi, terlebih jika menyangkut nama ?Yahudi?, semua pasti dikecam. Padahal bahkan Allah Swt. telah mengingatkan dalam QS. Al-Mumtahanah: 8, ?Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.? Berlaku adil berarti tidak menempatkan mereka dalam keadaan ?selalu salah?. Karena bahkan level orang non-muslim atau kafir ini telah dibedakan sejak zaman Rasulullah Saw. Ada kafir yang dzimmi (moderat; toleran), dan ada pula yang harbi (garis keras; intoleran). Bahkan Syekh as-Sa?diy menegaskan, bahwa berhubungan dengan orang kafir yang dijelaskan dalam ayat tersebut, tidaklah terlarang dan tidak mengandung kerusakan (Taisir Karim ar-Rahmah, hlm. 819).

?

Warisan Ilmu Kedokteran Islam di Barat

Itu baru asumsi dasarnya. Selain itu, sikap totaliter yang menolak setiap yang berlabel Barat, secara tidak langsung menunjukkan pribadi yang a-historis. Mengapa demikian? Karena diakui ataupun tidak, selama 7 Abad gelap (Dark Age?s) di Barat, justru peradaban Islamlah yang telah mengembangkan teori kedokteran modern menuju tahap yang nyaris sempurna. Sebut saja nama Rhazes (Muhammad bin Zakaria ar-Razi; penulis kitab kedokteran paling komprehensif yang berjudul al-Hawi fi at-Tibb; ?Continens?), Avicenna (Ibn Sina; Father of Modern Medicine), Abulcasis (Abu al-Qasim az-Zahrawi; Father of Modern Surgery), Ibn Qayyim dan nama-nama lainnya, menghuni perpustakaan Barat sebagai sumber pengembangan disiplin ilmu kedokteran bahkan hingga saat ini. Hal ini membuktikan bahwa kedokteran modern yang ?dikafirkan? saat ini adalah jelas-jelas sebuah paham yang buta sejarah; sebuah pengkhianatan nyata terhadap salah satu warisan peradaban Islam.

Ungkapan Imam as-Syafi?i sepertinya layak untuk disampaikan kembali kepada kita hari ini, yang lagi-lagi bersikap a-histori dan acuh terhadap ilmu kedokteran. Kemudian berlindung di belakang nama thibbun nabawi yang ?sesederhana? minum madu dan habbatus sauda; bahkan tanpa dosis yang tepat. Tanpa ingin masuk lebih jauh kepada kajian kedokteran ?expert? seperti yang telah diwariskan Abu Bakar ar-Razi, Ibn Sina, az-Zahrawi, dan Ulama-Intelektual lainnya. Imam as-Syafi?i berkata, ?Umat Islam telah menyia-nyiakan sepertiga ilmu (yaitu: ilmu kedokteran) dan menyerahkannya kepada Umat Yahudi dan Nasrani? (Siyar A?lam an-Nubala, 8/528).

Setelah diketahui bersama bahwa sejarah kedokteran modern adalah warisan peradaban Islam. Tiba saatnya kita memasuki pokok-pokok bahasan dalam makalah ini.

?

Vaksin dan Teori Konspirasi

Pendapat yang menyatakan bahwa vaksin dan imunisasi adalah proyek Yahudi melemahkan Umat Islam, tidaklah memiliki data ilmiah yang valid. Secara berkebalikan, justru data-data dalam jurnal ilmiah menunjukkan bahkan Israel sendiri, yang notabene ?sarangnya? Yahudi melakukan program ini. Selebihnya, negara-negara maju, bahkan Amerika gencar memberikan vaksin dan imunisasi kepada para penduduknya. Bahkan di Jalur Gaza, Palestina, mereka yang jelas sangat ?dekat? dengan Israel dan Yahudi sebagai lawannya, penduduknya malah melaksanakan program imunisasi secara rutin. Bahkan cakupan program imunisasi di Jalur Gaza telah mencakup 90 %. Informasi lebih lanjut terkait hal ini dapat dibaca dalam jurnal berjudul ?Efficacy of Diphtheria and Tetanus Vaccination in Gaza Strip.? Untuk mengetahui lebih jauh terkait informasi ini, penulis menyarankan agar pembaca sudi meminta informasi kepada sumber yang memang kompeten di bidangnya.

?

Bahan Kimia itu Berbahaya! (?)

Terkait klaim ?semua bahan kimia berbahaya? jelas sebuah kesimpulan yang terburu-buru dan tidak tepat sasaran. Karena pada hakikatnya, semua obat herbal seperti jintan hitam sekalipun mengandung unsur-unsur kimia aktif semisal thymoquinone (TQ), dithymouinone (DTQ), thymohydroquimone (THQ) dan thymol (THY). Bahkan dalam gula, beras, dan air minum kita sehari-hari terdapat unsur-unsur kimia di dalamnya, bukan? Dalam ilmu kedokteran moderen, dikenal sebuah teori:

?All substances are poison. There is none that is not poison, the right dose and indication deferentiate a poison and a remedy.? (Toksikologi, UGM, 2006, hlm. 4)

Maknanya, bahwa semua zat itu memang berpotensi menjadi racun. Tidak ada yang tidak berpotensi menjadi racun. Akhirnya, dosis dan indikasi yang tepat akan menentukan, apakah ia racun atau obat.

Kesimpulan ini ternyata sesuai dengan penjelasan Imam Ibn Hajar dalam Kitab Fath al-Bari (10/169-170). Beliau mengatakan, ?Seluruh tabib telah sepakat bahwa pengobatan suatu penyakit berbeda-beda, sesuai dengan perbedaan umur, kebiasaan, waktu, jenis makanan yang biasa dikonsumsi, kedisiplinan dan daya tahan fisik. Karena obat harus sesuai kadar dan jumlahnya dengan penyakit, jika dosisnya berkurang maka tidak bisa menyembuhkan dengan maksimal, dan jika dosisnya berlebih dapat menimbulkan bahaya yang lain.?

Maka dari itu, ungkapan bahwa obat herbal itu tidak berbahaya walaupun diminum tanpa aturan dosis tertentu, tidak tepat dalam sudut pandang ilmu kedokteran salaf maupun khalaf. Karena bahkan makan atau minum terlalu banyak saja, dapat menyebabkan begah dan sakit perut, bukan?

?

Thibbun Nabawi vis a vis Kedokteran Moderen

Ada satu pertanyaan yang mesti kita jawab pada akhirnya. Haruskah dipertentangkan antara kedokteran moderen dengan pengobatan tradisional ala Nabi? Antara asi dan imunisasi, antara habbatus sauda dan anti-biotik, antara bekam dan operasi bedah. Apakah hal-hal tersebut benar-benar ta?arrud tadhoddu (kontradiktif) ataukah hanya sekedar tanawwu? (keaneka-ragaman) saja?

Pada hakikatnya, kedua hal tersebut tidak perlu dipertentangkan. Keduanya mesti ada, dan saling melengkapi. Ya, suatu ta?arrud tanawwu?. Imunisasi atau vaksin, ada sebagai pelengkap, upaya prefentif dari penyakit-penyakit yang berpotensi menjadi wabah. Campak, cacar, polio, dan lain-lain sejak dahulu memang sudah ?merenggut? banyak korban. Sehingga orang sekelas Rhazes saja telah menulis kitab al-Jadari wal Hasbah; sebuah risalah tentang cacar dan campak. Jika kita beralasan bahwa di zaman Nabi Muhammad Saw., tidak ada vaksin dan ternyata mereka baik-baik saja. Mungkin kita lupa pada kisah sahabat Umar bin Khattab. Ketika beliau hendak pergi ke Syam, dan ternyata di Syam tengah terjangkit satu wabah; lepra. Singkat cerita, Umar saat itu memilih untuk lari dari satu takdir menuju takdir lainnya. (HR. Bukhari, no. 5288).

Nah, dalam ilmu kedokteran moderen, wabah seperti itu, dapat diminimalisir dengan vaksin BCG; yang telah dibuktikan efektifitasnya pada tahun 1965 di Uganda. Jadi ungkapan ?tanpa vaksin dan baik-baik saja?, sepertinya memang tidak tepat.

Hadis Umar di atas, sekaligus juga menjadi sanggahan terhadap pemberian gelar ?tidak tawakkal? kepada mereka yang memilih untuk vaksin dan imunisasi. Karena hakikat tawakkal, justru ketika kita telah melakukan usaha preventif khusus padanya. Sedangkan ?tarkul asbab?; tidak melakukan tindakan preventif, adalah hal yang tercela, dan bahkan keluar dari ranah tawakkal. Di satu sisi, pemberian ASI eksklusif adalah satu usaha preventif secara global. Sedangkan pemberian vaksin atau imunisasi, adalah usaha preventif khusus, terhadap penyakit-penyakit yang berpotensi menjadi wabah.

?

Vaksin dalam Sudut Pandang Hukum Islam

Lepas dari ?huru-hara? teori konspirasi, masuklah perbincangan ini pada sudut pandang hukum Islam. Berbicara soal vaksin, berarti kita akan berhadapan dengan fatwa dan pendapat para Ulama. Mengapa demikian? Karena memang nash yang sharih tentang hal ini tidak pernah ditemukan dari periode Rasulullah Saw. Sependek penelusuran yang dapat penulis lakukan, fatwa ?haram? terhadap vaksin dan imunisasi secara keseluruhan itu tidak pernah ada. Dari mulai Syekh Abdul Aziz bin Baz (Mufti Besar Kerajaan Arab Saudi), sampai Majelis Ulama Eropa untuk Fatwa dan Penelitian, sama-sama memberikan fatwa "boleh", kecuali yang jelas terbukti secara ilmiah malah membahayakan. Pada kenyataannya, bahkan ditemukan banyak manfaat dari program imunisasi dan vaksinasi ini, guna melawan penyebaran penyakit epidemic semacam polio, cacar dan campak.

Adapun sebagian mereka yang ?mengharamkan? beralasan karena dalam proses pembuatan vaksin tersebut ?bersentuhan? dengan enzim tripsin babi, ataupun benda-benda najis lainnya. Namun tepatkah kesimpulan tersebut menurut hukum Islam? Kesimpulan tersebut bisa saja ada benarnya. Namun jika kita melihat mayoritas pendapat para Ulama, yaitu dengan menggunakan pendekatan istihalah (berubah) dan istihlak (melebur), justru membolehkan pemanfaatan vaksin ini. Metode ini memang telah diajarkan oleh Rasulullah Saw. misalnya dalam kasus khamr, yang kemudian ?disucikan? dengan cara dijadikan cuka. Selain itu, para Sahabat pun pernah mencontohkan tentang hewan ?jalalah? yang sering kali mengkonsumsi zat-zat yang najis dan kotor. Melalui proses, diasingkan terlebih dahulu dan memberikan pakan yang jelas bersih (tidak najis) selama beberapa waktu, agar menjadikan hewan jalalah tersebut halal untuk dikonsumsi kembali. Padahal, proses tersebut sama sekali tidak menjamin hilangnya unsur najis yang sudah kadung membuat hewan tersebut tumbuh besar. Namun tetap diperbolehkan oleh para Sahabat (Fath al-Bari, 9/802). Terlebih jika kita kaitkan dengan proses pembuatan vaksin. Enzim tripsin yang diambil dari babi atau kera, hanya digunakan sebagai katalisator (untuk memisahkan sel-sel di dalamnya). Sehingga dapat dipastikan, zat tersebut tidak ada lagi dalam produk akhir; vaksin itu sendiri. Imam Ibn Qayyim menjelaskan dalam kitabnya, I?lamul Muwaqqi?in (1/298), ?Sesungguhnya benda suci apabila berubah menjadi najis maka hukumnya najis, seperti air dan makanan apabila telah berubah menjadi air seni dan kotoran. Kalau benda suci bisa berubah najis, lantas bagaimana mungkin benda najis tidak bisa berubah menjadi suci? Allah telah mengeluarkan benda suci dari kotoran dan benda kotor dari yang suci. Maka dari itu, benda asal bukanlah patokan. Akan tetapi, yang menjadi patokan adalah sifat benda tersebut sekarang. Mustahil benda tetap dihukumi najis padahal nama dan sifatnya telah tidak ada, padahal hukum itu mengikuti nama dan sifatnya.?

MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai salah satu rujukan masyarakat Indonesia, melalui penerbitan Fatwa MUI Nomor 4 tahun 2016 tentang Imunisasi pada tanggal 23 Januari 2016, memutuskan bahwa hukum asal imunisasi dan vaksin itu adalah mubah. Bahkan hukumnya bisa naik menjadi wajib, bila tanpa imunisasi, ternyata melahirkan gangguan atau wabah penyakit di masyarakat. Maka dari itu, sebenarnya masyarakat Indonesia sudah tidak perlu lagi kebingungan terkait hukum imunisasi.

?

"Ketika Semuanya Merasa Lebih Pintar"; Sebuah Epilog

Begitu banyak hal yang dapat diungkapkan terkait kontroversi ini. Namun dalam kesempatan ini, penulis hanya ingin mengajak kepada pembaca semua untuk berpikir lebih ilmiah. Belajar lebih banyak. Jangan karena ada informasi yang ?mencatut? agama, cara berpikir kita menjadi tumpul. Pada akhirnya, ikut imunisasi ataupun tidak adalah pilihan masing-masing. Namun ketika kita berani mengajak orang lain untuk mengikuti ataupun menolak, maka berarti kita mesti berani mempertanggung-jawabkan. Akhirnya, segala yang benar adalah apa yang datang dari Allah Swt. Penulis tutup pembahasan ini dengan sebuah pesan abadi dari Rasulullah Saw. ?Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya. Maka tunggulah kehancuran.? (HR. Bukhari, no. 57).

#berbagai sumber

  • view 385