Hikayatmu: "Sang Satya 25"

M Ridwan Nurrohman
Karya M Ridwan Nurrohman Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Maret 2016
Hikayatmu:

?Satyaku kudarmakan, darmaku kubaktikan...?

Setiap janji adalah ketetapan yang harus ditepati dan dilaksanakan.

Moto Gerakan Pramuka

?

Anakku sayang. Kita telah pernah mencentang angka 25 dalam kalender tahun ini sebanyak tiga kali. Dua bulan tentu saja bukanlah waktu yang singkat. Badanmu yang dahulu begitu mungil, kini terlihat lebih berisi. Ujung jemarimu, kemarin, hanya menggapai angka 45, dan kini telah melampaui bilangan 59. Bibirmu yang dahulu hanya tahu menangis, kini telah dapat tertawa, terbahak dan bahkan ?berbicara? meski tak jelas.

Anakku, aku tahu. Betapa tidak menyenangkan berbicara, tapi tak dianggap. Ketika engkau berbicara, tentu dengan bahasamu sendiri, aku tahu kau ingin dipahami. Namun apalah dayaku, yang tak pernah bisa memahami itu. Mungkin akan sedikit berbeda jika itu adalah ibumu, sayang. Karena kabarnya, ibu selalu memiliki meta-bahasa untuk memahami ucapan dan keinginan anaknya. Dalam kamus pun, hanya dikenal ?bahasa ibu? tak ada ?bahasa ayah?. Mungkin karena itu, ibumu selalu bisa menebak-nebak maksud dari ucapanmu.

Sebagai seorang lelaki, tentu engkau mesti memahami 'fungsi' dirimu sendiri. Mengapa Tuhan menciptamu dalam jenis kelamin tertentu. Ya, untuk memaksimalkan peranmu sebagai seorang pengayom bagi keluargamu kelak. Sebagai tulang punggung yang selalu siap menopang tulang rusuk. Karena Tuhan menghadiahkan perbedaan jenis kelamin tak lain untuk saling mendukung dalam kehidupan. Bukankah kita selalu membutuhkan siang dan malam, meski untuk tujuan yang berbeda-beda? Ya, Tuhan menciptakan lelaki dan perempuan bukan sebagai 'tingkatan', hanya sebagai 'macam'. Bahwa kita memiliki tugas yang berlainan, ya! Tapi bukan untuk saling mengalahkan dan menyalahkan. Sekalipun, jangan pernah ada pikiran untuk merendahkan seorang wanita. Bukankah engkau pun dilahirkan dari rahim seorang wanita, nak?

Setiap hari kami selalu menantikan ?kemampuan? baru apa lagi hendak kau tunjukan. ?Pertunjukan? apa lagi yang hendak Tuhan pinton-kan melalui dirimu kali ini? Ya, selalu itu yang terbersit dalam benak kami. Mungkin, tanpa sadar ini telah menjadi hobi baru kami, yang begitu melenakan.

Awal maret kemarin, kami benar-benar bingung. Melihat dan mendengar engkau terbatuk-batuk dan pilek sepanjang hari, hampir-hampir menghilangkan akal sehatku untuk sekedar berpikir lebih tenang. Karena memang, selalu ada ketakutan yang berlebihan untuk setiap peristiwa yang tak biasa kita lewati. Ya, selama hampir 10 hari kami benar-benar dilanda kegalauan. Air mata yang tersisip di ujung mata mungil itu, seperti menyayat hati kami. ?Sudah benarkah cara kami mengurusmu?? pertanyaan itu seringkali kami tujukan kepada diri kami masing-masing. Seakan ingin mengutuk diri kami sendiri, karena masih begitu bodoh dan tidak becus mengurusmu. Namun alhamdulillah, setelah merapalkan cukup banyak bait-bait doa, juga tak lupa memberikan beberapa terapi sederhana, engkau pun bisa segera sembuh.

Selepas sakitmu, dan menjelang pin polio awal Maret kemarin. Aku terpaksa belajar lebih banyak lagi tentang makna tanggung jawab. Sejak awal, aku pernah begitu yakin untuk tidak memperkenalkanmu ke dunia kedokteran moderen. Entah sejak kapan itu semua berawal, aku tidak begitu ingat. Setelah begitu banyak tuntutan berupa berbagai pertanyaan dari ibumu. Aku terpaksa membaca, mencari, dan belajar kembali. Sehingga akhirnya aku sadar, betapa dahulu aku telah menjadi manusia ?a-histori?; lupa dan bahkan buta sejarah. Mengapa? Karena aku telah menghilangkan peranan ar-Razi, Ibn Sina, az-Zahrawi, dan para Ulama-Intelektual lainnya. Melalui perantara mereka ini, kedokteran moderen kini bisa hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Hampir saja aku tak mau menggubris fatwa-fatwa para ?Alim-Ulama yang telah dengan tegas mendukung penggunaan vaksin dan imunisasi. Ya, hampir saja aku mesti mengorbankanmu, hanya karena syak dan dzan; keraguan dan sangkaan belaka.

Akhirnya, melalui dirimu, nak! Aku bisa menemukan benang merah yang berkelit-kelindan, mempertautkan sains dan agama. Betapa Islam tak pernah apatis terlebih antipati, terhadap kemajuan teknologi. Tak seperti yang nampak dalam huru-hara beberapa perusahaan taksi kemarin. Lalu kita, sebagai seorang muslim, mestilah merasa bertanggung-jawab atas kebodohan dan keterputusan kita pada sejarah peradaban agama kita. Sehingga kita mudah dibodohi dan dibohongi oleh orang-orang yang juga membeo kepada para pendusta; dengan sadar ataupun tanpa sadar.

Anakku, tahukah engkau. Betapa kini, orang Islam selalu saja menjadi korban tirani minoritas. Setiap wacana yang muncul, selalu saja menyudutkan kita yang memeluk agama Islam. Mungkin memang benar, apa yang dahulu pernah disampaikan nabi kita, Muhammad Saw. Betapa orang Islam kelak jumlahnya begitu banyak, namun dengan jumlah itu sama sekali tak memberikan dampak besar ke dalam kehidupan manusia. Layaknya buih di lautan, ujar beliau. Ayah sadar diri, karena kini begitu banyak manusia yang telah benar-benar terlenakan dunia, dan memusuhi kematian. Ajaran dan warisan agama kita, lebih sering dipelajari orang-orang non-muslim. Sedangkan kita hanya disibukan oleh perkara ikhtilaf yang hanya bersifat dzanni. Hal-hal kecil memang bukan untuk dilupakan, hanya saja ada kebutuhan yang lebih mendesak untuk mengurus hal-hal yang lebih besar.

Maka anakku! Kelak, ketika engkau dewasa. Jadilah orang besar, yang mampu membuahkan gagasan hebat. Seseorang yang tak hanya berakar, tapi juga mesti berbatang, berdahan, berdaun, dan berbuah. Sehingga engkau dapat berwujud layaknya Syajaratul Kaun, yang akarnya tertancap kuat di bumi, namun rantingnya menjulang, menggapai dan mencapai langit. Tangkaplah cahaya dari langit tertinggi, namun jangan pernah engkau lupa pada tanah yang telah kau pijak selama ini. Tirulah nabimu, Muhammad. Ia telah menggapai langit, bahkan bertemu dengan Tuhan. Namun ia masih lebih memilih untuk kembali ke bumi. Demi menebar cahaya Tuhan yang telah benar-benar ia rasakan kenikmatannya.

Sebagai akhir risalah ini, izinkan ayahmu untuk menyenandungkan kembali nafiri Sir M. Iqbal untukmu, nak! Semoga kelak pada saatnya, ini akan menjadi sebuah nasihat yang berarti bagimu, bagiku, dan bagi kita semua.

Benarkah kamu telah siap-sedia di zaman baru ini?

Menjadi ?abid Allah, tentara Muhammad.

Jadi permata berlian memancarkan cahaya agama ini!

Mana boleh! Sedang pelupuk matamu telah berat.

Untuk sekedar menyambut cahaya subuh dengan takbir shalatmu.

Perangaimu telah turut tidur bersama pelupuk matamu.

?Apakah bedanya terang siang dengan gelap malam,

Bagi yang tidur mendengkur tengah hari??

?

?Syikwa dan Jawabu Syikwa? ? dalam M. Natsir

World of Islam Festival dalam Perspektif Sejarah