Rencana Tuhan Memang Indah

rizqi ilman
Karya rizqi ilman Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Juli 2016
Rencana Tuhan Memang Indah

 

Hari-hari Jatuh Hati

Ibu sering berpesan padaku, jangan sekali-kali pacaran. Aku pun patuh. Karena aku mengerti, itu memang hal yang dilarang. Sehingga, aku pun bertekad untuk tidak jatuh cinta terlebih dahulu, sebelum aku siap untuk menghalalkannya. Aku melakukan demikian, agar cinta tak menggangguku saat aku belum siap menikah. Jadi, aku tidak ingin jatuh cinta sebelum aku lulus dari ITS Surabaya. Kampusku. Karena aku ingin menikah jika sudah lulus nanti.

Saat awal aku masih mahasiswa baru. Semua masih berjalan normal. Aku bisa fokus kuliah, tanpa terganggu dengan kehadiran cinta. Aku bisa fokus menyusun mimpi. Dan bisa fokus untuk mewujudkannya. Tapi sayang, itu tak berlangsung lama. Semua itu terjadi ketika aku bertemu dengan kak Ida. Kakak Seniorku. Pertemuan yang bukan sebuah kebetulan, tentu saja. Karena semua hal yang terjadi memang tak luput dari kuasa Tuhan. Semua telah diatur oleh-Nya.

Waktu itu, kami dipertemukan dalam forum belajar untuk persiapan ujian semester. Karena kak Ida seniorku, kak Ida yang jadi tutorku. Tapi pada forum itu, aku tak bisa fokus dengan materi kuliah yang kak Ida sampaikan, fokusku mengarah pada kak Ida saja. Dan, sejak saat itu, kak ida benar-benar terus mengalihkan fokusku.

***

Hujan itu, dari langit turun ke bumi. Cinta itu, dari mata turun ke hati. Awalnya aku tak mengakui, jika aku jatuh cinta pada kak Ida, pada pandangan pertama. Tak mungkin. Tapi nyatanya aku terbelenggu. Aku tak bisa berkutik dengan perasaan ini. Yang terkadang menyiksaku.

Memang, semua ini salahku. Aku belum mampu menjaga pandangan. Mataku seringkali jelalatan. Tak bisa kutahan. Terutama saat kak Ida hadir di hadapan. Yang benar-benar cantik rupawan.

***

Cinta pada pandangan pertama hanya melihat penampilan, dari wajah dan fisik saja. Tapi, jika kita tertarik dengan hanya melihat penampilan, apakah ia dapat disebut cinta? Tentu, cinta lebih dari itu, kan? Cinta bukan hanya tentang wajah rupawan. Cinta lebih dari itu. Meski, ia juga bisa tumbuh dari melihat penampilan pada awalnya.

Ini mungkin memang hawa nafsu. Tapi aku benar-benar lemah tak berdaya olehnya. Aku tak bisa menghentikan perasaan yang kusebut cinta ini, hilang dari hati. Ia tak mau pergi. Ia masih saja bersemayam dalam hati.

***

Setelah kejadian itu, aku jadi sering mencari hal tentang kak Ida. Aku add facebooknya. Mencoba mengamatinya dari situ. Lalu, aku juga mencarinya di internet, yang akhirnya kudapati, ia memiliki blog. Ia suka menulis di sana.

Aku benar-benar suka membaca segala yang ia tulis. Aku menikmati segala yang ia ceritakan. Aku terkadang membayangkan kak Ida dari cerita yang ia sebutkan. Ah, cinta ini benar-benar menghanyutkan. Hingga lagi-lagi timbul pertanyaan dari dalam pikiran. Ini cinta atau hawa nafsu?

***

Semakin mengenalnya, malah semakin membuatku jatuh hati. Karena kutahu, kecantikannya ternyata tidak hanya dari wajah, tapi juga dari hati. Ia benar-benar pasangan idaman. Dan hal itu semakin menggagu pikiran. Benar-benar menyebalkan.

***

Memang aneh. Terutama bagiku. Karena harus mencintai seorang perempuan yang lebih tua dariku. Padahal biasanya, laki-laki lah yang lebih tua dari pasangannya. Tapi, cinta tak memandang usia, kan? Nyatanya, Nabi Muhammad saw bisa 'jatuh cinta' dengan ibunda Khadijah ra. Jadi, mencintai kak Ida bagiku tak masalah. Karena, cinta memang tak pernah salah.

***

Mungkin karena sikapku yang manja. Sehingga aku ingin perempuan yang lebih dewasa. Tapi kurasa, tidak hanya itu. Karena kak Ida memang lebih dari itu. Ia adalah muslimah yang solehah, menurutku. Dan muslimah solehah itu sangatlah langka, terutama saat ini. Di saat perempuan yang lain sibuk dengan pacaran, ia justru sibuk mendekat kepada Tuhan. Kak Ida tak mau pacaran, meski sebenarnya ia sangat cantik rupawan, yang tentu saja banyak lelaki yang menjadikannya incaran.

***

Bertahan dan Mencoba Memantaskan

Dari awal aku tahu, kak Ida memang muslimah yang istimewa. Tapi aku tak menyangka, dua tahun setelah pertemuan dengannya, ia menjadi semakin luar biasa. Aku semakin malu melihat diriku yang begini. Yang berani-beraninya jatuh cinta padanya.

Ingin menyerah berulang kali sebenarnya. Ingin berhenti untuk mencintai sejujurnya. Tapi ternyata aku tak bisa. Diriku benar-benar keras kepala. Aku tak mau lari. Aku akan terus maju.

Untuk itu, kemudian aku mencoba memantaskan. Aku terus memperbaiki diri. Aku akan berubah. Agar aku layak untuk disandingkan dengannya kelak. Agar aku pantas menjadi imamnya suatu saat nanti.

***

Aku sering melewati hari-hariku bersama dengan Pram dan Amri yang merupakan teman sekontrakanku, sekaligus teman sejurusanku. Meski kami sangat akrab, tapi tetap, kami memiliki rahasia masing-masing yang harusnya tak diketahui satu sama lain. Dan, rasaku pada kak Ida seharusnya kurahasiakan. Tapi aku benar-benar lemah soal merahasiakan. Mereka pun tahu jika aku memendam perasaan pada kak Ida.

Ketika teman-temanku tahu jika aku menyukai kak Ida, awalnya, aku khawatir jika hal ini tersebar sampai ke telinga kak Ida. Tapi mereka sudah berjanji, untuk tak mengatakannya kepada siapa pun. Aku pun percaya. Mereka juga mendoakan dan mendukungku untuk bertahan.

***

Aku sering mendoakan kak Ida agar benar-benar menjadi pendampingku suatu saat nanti. Tapi karena terlalu sering berdoa seperti ini, aku khawatir, dalam hati aku berkata, “Apakah boleh berdoa seperti ini?” Aku sering berdoa seperti ini, karena, aku merasa seperti tak bisa hidup tanpanya. Aku seperti tak rela jika nantinya kak Ida ternyata bersama orang lain.

Ketika aku tidur-tiduran di kamar membayangkan bisa bersanding dengan kak Ida, ada Amri di sampingku yang asyik dengan laptopnya. Lalu, aku bertanya pada Amri, “Ri, berdoa agar orang yang kita cintai bisa bersanding dengan kita, apakah boleh ya?”

“Boleh saja, Luqman,” jawab Amri. Pendek.

Aku tersenyum. Amri tersenyum. Dan ia kembali fokus dengan laptopnya.

Sebenarnya, aku mengerti, berdoa itu tentu boleh saja. Tapi berdoa itu meminta, bukan memaksa. Berdoa itu memohon, bukan menyuruh-nyuruh. Sementara doaku bukan meminta, tapi memaksa. Bukan memohon, tapi menyuruh-nyuruh. Ah, bodonya aku.

***

Menjadi Penulis

Kehadiran kak Ida sedikit demi sedikit memang merubah hidupku. Meski terkadang juga melemahkan, tapi terkadang ada baiknya, seperti membuatku menjadi lebih rajin belajar, bersemengat mengejar impian, dan membuatku jatuh cinta pada buku. Sebelumnya, aku tidak suka sama sekali dengan buku. Aku tidak tahan berlama-lama saat membaca. Tapi saat kutahu kak Ida suka membaca, aku pun memaksa diriku untuk suka. Awalnya memang berat. Tapi lama-lama aku jadi suka. Dan jadi angat suka.

Mimpiku pun berubah. Aku ingin jadi penulis. Bagiku, penulis adalah pekerjaan yang hebat. Dari buku yang ia tulis, ia mampu menginspirasi banyak orang, ia bisa menyebarkan ilmunya secara luas, dan walau pun ia telah meninggal, ilmunya tetap tertinggal. Penulis adalah pekerjaan yang mulia, pikirku.

***

Menjelang Kak Ida Wisuda

Sudah tak terasa, tiga tahun sudah aku mencintai kak Ida dalam diam. Dan cintaku padanya tak pernah padam. Ia justru semakin dalam.

Saat ini kak Ida telah menyelesaikan skripsinya, artinya, ia telah lulus, sebentar lagi wisuda. Hal ini menyiksaku. Karena, setelah ia lulus, mungkin ia akan pergi. Aku tak bisa menerima hal itu. Sementara, butuh waktu setahun lagi untuk menunggu kelulusanku. Yang aku sudah berjanji, akan menikah setelah lulus nanti. Dari awal memang tak mudah, mencintai seorang perempuan yang lebih senior.

Dalam hati aku berkata, “Kak Ida, jangan pergi dulu, tunggu aku, setidaknya setahun lagi.” Tapi tentunya, aku tak berani mengatakan hal itu padanya. Apalagi, kami tak banyak bicara. Kami hanya sedikit bicara saat kami tergabung dalam kepanitiaan yang sama, dan juga, saat ia mengulang mata kuliah yang membuatnya sekelas denganku. Itu saja. Selebihnya kami tak pernah berkomunikasi. Tak pernah saling bicara.

***

Akhirnya, datang juga, hari yang menakutkan bagiku, hari kelulusan kak Ida. Hari di mana ia diwisuda. Sepertinya sudah cukup bagiku untuk mencintainya. Sangat berat rasanya. Aku tak bisa menerima kenyataan ini. Aku ingin tidur saja di kamar. Berharap setelah tidur, aku mendadak sedikit amnesia, dan lupa jika aku pernah mencintainya. Tapi, temanku Pram membujukku untuk datang diacara wisuda itu. Ia memaksaku untuk mengucapkan selamat, setidaknya. Ya, meski berat, aku akhirnya mau datang. Ditemani Pram, tentu saja. Menggunakan sepeda motor, kami berangkat ke sana.

Sampailah aku dan Pram di tempat wisuda. Aku dan Pram menunggu di luar gedung dimana ia diwisuda. Terlihat di sana, banyak sekali orang yang juga menunggu. Tampak ceria semua orang kala itu, kecuali aku, yang masih berat jika harus ditinggalkan kak Ida pergi.

Aku juga lupa, datang di tempat itu tanpa membawa apa-apa. Waktu itu aku juga tak memiliki uang. Sungguh sayang. Tapi, Pram kemudian bertanya kepadaku, “Kamu ga bawa apa-apa, ga papa tah, Luq?”

“Mau gimana lagi, aku ga punya uang,” jawabku sedikit kesal.

“Ya udah aku pinjami uang, belikan ia setidaknya bunga yang indah,” Pram menawarkan bantuan dan mencoba menghibur. Ia memang selalu menolongku ketika aku dalam kondisi ekonomi yang sulit. Ia selalu bersedia meminjamiku uang kapan saja.

“Hmm, boleh Pram, ayo kita ke toko bunga kalau begitu,” jawabku sambil kembali naik sepeda motor yang berada di dekat kami.

Kami pun berangkat menuju lokasi toko bunga yang berada cukup dekat dengan kampus kami. Dan, Meski yang kuberi hanyalah seikat bunga, tapi aku berharap kak Ida senang dan tak melupakanku begitu saja.

***

Setelah mendapatkan bunga yang bagus, aku dan Pram kembali ke kampus di area yang nyaman untuk menunggu wisudawan keluar dari gedung. Satu jam kemudian, keluarlah wisudawan-wisudawan yang berkerumunan, yang sama-sama mencari keluarganya, sahabatnya, dan orang-orang yang mereka cintai. Aku juga mencari kak Ida dalam kerumunan itu. Sulit bagiku mencarinya. Terlebih semua wisudawan memang tampak berbeda dari biasanya, karena make up yang menghiasi wajahnya.

Akhirnya, kutemukan juga ia di dalam kerumunan itu. Ia menggunakan pakaian yang sangat cocok, warnanya coklat, menampakkan aura keanggunan. Ah, sungguh cantik sekali kak Ida kala itu. Aku pun meragu, apakah aku akan menemuinya atau tidak? Tapi aku sudah datang, tak mungkin aku tak menemuinya. Dengan jantung yang cukup berdebar-debar, aku ditemani Pram mendekatinya. Aku sudah mempersiapkan akan mengatakan apa. Tapi, saat aku sudah berhadapan dengannya. Tiba-tiba kata-kata yang telah kusiapkan semuanya hilang dari pikiran. Dengan terbata-bata aku berkata padanya, “Selamat kak, semoga cepat lulus.”

Kak Ida pun bengong. Aku malu setengah mati. Bukankah hari ini adalah hari kelulusannya? Mengapa aku mengatakan demikian? Sungguh bodohnya aku. Seketika itu, Pram yang berada di sampingku langsung membantuku untuk memecahkan hening, ia berkata pada kak Ida, “Maksud Luqman, semoga kak Ida cepat lulus jika nanti melanjutkan studi.”

Aku langsung menyaut, “Iya, itu maksudku kak,” Ujarku dengan malu-malu sambil mengangguk.

“Oiya, terimakasih dek, aku memang melanjutkan kuliah S2 di sini,” Jawab kak Ida, yang membuatku cukup kaget sekaligus sangat senang dalam hati. Artinya, ia belum akan pergi dari kampus ini. Aku masih ada harapan. Harapan untuk bisa bersama kak Ida yang sebelumnya kuhapuskan, kembali membumbung tinggi. Tentu hal ini bukan sebuah kebetulan. Mungkin kak Ida memang jodohku yang telah disiapkan Tuhan. Semoga saja begitu.

***

Menyatakan Perasaan

Akhirnya sebentar lagi datanglah waktu yang kutunggu-tunggu dari dulu, acara wisudaku. Setelah berjuang dengan lelah, sedikit lagi akan berakhir indah, pikirku. Sejak pertemuanku dengan kak Ida, tentu aku sudah banyak berubah. Dalam kurun waktu empat tahun itu, aku sudah tak lagi sama dengan aku yang dulu. Aku telah bertumbuh. Tapi, ada hal yang tak pernah berubah. Ada hal yang masih sama. Yaitu, perasaanku pada kak Ida. Aku masih mencintainya. Aku pun berkeinginan menikahinya setelah wisuda. Yang sebenarnya, hal ini telah kurencanakan dari dulu.

Tentu, pertama aku akan izin orangtuaku terlebih dahulu. Jika diberi izin, kemudian aku akan menyatakan perasaanku pada kak Ida. Akan kutanyakan padanya, “maukah kau menjadi pendampingku?”

Aku awalnya cukup bingung akan mengatakan bagaimana kepada ibu, terkait keinginanku ini. Tapi, aku harus meminta izinnya, kan? Jadi kuputuskan, sebelum wisuda, aku akan pulang terlebih dahulu ke kampung halamanku, Jember, untuk menemui ibuku.

***

Setibanya sampai di rumah, ibu menyambutku dengan hangat, tampak raut bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Ya, tentu saja, karena, anaknya saat ini, aku, segera jadi sarjana. Aku ucapkan salam dan mencium tangannya, ibu langsung bertanya, “sudah makan Luq?”

“Sudah bu,” jawabku pendek.

“Ayo ngobrol-ngobrol, ibu kangen bicara denganmu,” ajak ibu.

“Maaf bu, besok saja ya, aku capek sekali, dari perjalanan, aku ingin segera tidur,” dengan perasaan berat aku menolaknya. Meski sebenarnya banyak yang ingin kusampaikan, terutama tentang keinginanku menikahi kak Ida setelah wisuda.

“Ya sudah, cepat istirahat,” pungkas ibu. Lalu aku bergegas ke tempat tidur.

Esok harinya, aku mendatangi ibu yang sedang tiduran di kamarnya, dan tidak sibuk melakukan apa-apa, karena segala pekerjaan telah dikerjakan. Aku bertanya pada ibu, “bu, bisa bicara?”

“Tentu saja,” jawab ibu.

Aku kemudian ikut tiduran disampingnya. Aku menghadapkan wajahku ke arah ibu dan langsung to the point mengatakan, “bu aku ingin menikah?”

Ibu kaget dan bertanya, “dengan siapa?”

Lalu aku menceritakan tentang kak Ida dengan detail. Mulai dari awal bertemu, kenapa aku suka, dan lainnya.

Ibu kemudian berkata, “Ya, gapapa jika kamu ingin menikah, tapi biar ibu istikhorohi dulu ya?”

“Ya bu,” jawabku pendek.

Aku tidak menyangka, begitu mudahnya mendapat izin dari ibu untuk menikah. Aku sudah diizinkan menikah padahal waktu itu aku baru lulus kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan. Kemudahan ini tentu telah ditakdirkan. Sehingga aku kembali yakin mungkin aku dan kak Ida memang jodoh. Semoga begitu.

***

Beberapa hari kemudian, ibu mengabariku, dan iya, ibu setuju jika aku menikahi kak Ida. Aku tentu gembira. Aku langsung mempersiapkan segalanya untuk menyatakan perasaan yang selama ini kusembunyikan. Salah satunya, aku berkonsultasi dengan teman perempuanku yang telah menikah, yaitu Nikmah. Nikmah banyak membocorkan tentang bagaimana perasaan perempuan, info ini sangat membantu. Kemudian ia menyuruhku, jika ingin melamarnya sebaiknya tanyakan dulu ke yang bersangkutan, jangan langsung ke orangtuanya, agar ia tak kaget. Aku pun menurutinya.

Sedikit memalukan, aku tiba-tiba menghubungi kak Ida yang selama ini jarang kuajak bicara. Tapi tak apa. Demi cinta. Setelah basa-basi, akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaan yang selama ini kusembunyikan. Ya, aku tak mau terus-terusan memendam. Ini waktunya cinta bicara, tak lagi diam.

Aku menyatakan perasaan hanya lewat whatsapp sebenarnya. Kata Nikmah, tak apa, ya begitu saja, itu sudah cukup. Dan pesan itu tak langsung dibalas ternyata. Meski terlihat telah dibaca, tapi belum juga ada balasan dari kak Ida. Aku pun sedikit khawatir, tapi tak apa.

Beberapa hari kemudian, akhirnya dibalas juga pesanku. Dan... ternyata aku ditolak. Ia ternyata sudah memiliki calon. Aku kalah cepat. Tapi, anehnya, aku tak patah hati. Aku malah tersenyum dan membalasnya dengan ucapan selamat. Karena seperti yang sudah kukatakan, aku telah berubah dari yang dulu. Setelah banyaknya buku yang kubaca. Setelah berbagai kajian yang kuikuti. Yang kurasa aku semakin dekat dengan agama, membuatku mampu menerima kenyataan ini. Aku yakin rencana Tuhan pasti Indah.

***

Rencana Tuhan Memang Indah

Tuhan memberi hidayah kepada hamba-Nya bisa dari manapun. Dan Dia, kurasa memberiku hidayah melalui kak Ida. Jatuh cinta pada kak Ida banyak merubah hidupku. Banyak memberiku pelajaran, seperti, aku yang dulu merasa tak bisa hidup tanpanya, itu ternyata adalah hal yang dusta. Tapi, kalau tak bisa hidup tanpa-Nya, itu baru benar adanya. Dan, jika aku tak bertemu dengan kak Ida, tentu aku tak mungkin bercita-cita jadi penulis seperti sekarang ini, tak mungkin aku suka membaca, dan lainnya. Banyak.

Setelah penolakan kak Ida padaku. Allah kemudian juga menuntunku untuk muqim di sebuah pesantren. Yang jika aku menikah dengan kak Ida, tak mungkin aku bisa merasakan indahnya jadi santri. Sehingga benar, Rencana Tuhan itu memang indah. Sangat indah. Sehingga aku seharusnya tak usah bersedih.

Dan, meski perpisahan begitu menyakitkan, jangan pernah menyesali pertemuan yang telah terjadi, karena selalu ada pelajaran didalamnya.

 

 

  • view 406