Belajarlah, Sampai Umur Kita Diputus Oleh Allah

rizqi rangga aufar
Karya rizqi rangga aufar Kategori Motivasi
dipublikasikan 19 Februari 2016
Belajarlah, Sampai Umur Kita Diputus Oleh Allah

?Buat apa belajar lama-lama??

Kadang pertanyaan itu dilontarkan oleh beberapa temanku kepadaku.

Pertanyaan itu berkali kali berdatangan kepadaku yang sekarang mengambil kuliah D3 lagi di salah satu sekolah di daerah Tangerang. Menurut teman-temanku hal yang sedang aku lakukan ini aneh, karena aku sudah menyelesaikan belajar S1 di Sekolah Tinggi Ekonomi Islam di Bogor. ?Kenapa sih lo malah kuliah D3 lagi, kan udah selesai S1? Bukannya ngambil kuliah S2 aja?. Saat itu aku meng-aamiin-kan doa teman-teman yang bertanya tentang hal tersebut. Aamiin Yaa Rabb semoga aku bisa segera melanjutkan kuliah S2. Aku sangat haus akan ilmu. Ilmu di tempat kuliah D3 saat ini, sangat menarik untuk dipalajari dan bermanfaat untuk diaplikasikan dalam kehidupan.

Belajar bisa dari siapa aja, kapan aja, dan dimana aja. Aku belajar bukan hanya? bukan hanya? bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi untuk membekali kehidupan generasi setelahnya.? Apa yang aku pelajari sekarang, akan aku bagikan kepada orang lain. Apa yang aku pelajari sekarang, akan menjadi bekal diriku mendidik keluarga, anak-anak, serta lingkunganku.

Selama perjalanan hidup ini, aku akan terus belajar. Mengapa? Karena menurutku hidup harus dengan ilmu, agar hidup lebih terarah maju dan sampai tepat pada tujuannya. Belajar juga ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, untuk mendapatkan ridho Allah.

Bagaimana bisa menciptakan generasi yang baik bibit, bebet, dan bobotnya, jika tidak dengan belajar. Belajar seperti menanam bibit-bibit unggul, yang nantinya akan dituai hasilnya oleh diri sendiri dan generasi setelahnya. Aku mempunyai prinsip dalam belajar ?Nahnu naghrisu liman ba?dana?, yang artinya kami menanam untuk generasi setelah kami.

Bayangkan, jika dari sekarang kita tidak menanam, kapan akan menuai hasilnya. Menanam saja tidak pernah. Lalu, ketika nanti punya keturunan, apa yang mau dipanen? Apa yang mau dibagikan? Apa hanya ingin membagikan sisaan bekal yang ala kadarnya? Hanya mendidik generasi setelah kita dengan asal-asalan? Engga kan. Kalau diri sendiri masih acuh tak acuh terhadap pentingnya belajar,? maka akan berdampak buruk untuk generasi setelah kita. Miris.

Hidup kita begitu egois untuk memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan generasi setelahnya. Ingat bahwasanya kita mempunyai umur. Sewaktu-waktu kita akan meninggal. Disitulah akan muncul pertanyaan besar, ?Untuk apa kau habiskan waktu hidupmu??, ?Hal baik apa yang sudah kau tinggalkan untuk generasi setelahnya?

Apabila sebelum meninggal, kita sudah menanam bekal persediaan yang baik, hal yang kita tanam tadi yang akan dituai dan berguna. Maka amalan-amalan tadi yang akan berlanjut kepada generasi-generasi setelahnya.

Sudah tau diri sendiri tidak bisa apa-apa, malah tidak belajar. Dari hal tersebut, sebenarnya kita diuji. Orang yang berilmu pun akan diuji dengan keilmuannya. Makanya mulailah untuk mau belajar dari sekarang. Niatkan baik-baik untuk apa kita belajar. Siapkan diri untuk menjawab semua ujiannya. Mulai dari sekarang.

Apa tandanya ilmu kita berkah? Tandanya adalah Ilmu itu berguna serta bermanfaat, untuk diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sekitar. ?Dan diri kita pun akan menyenangkan untuk orang lain. Ketika banyak orang lain jenuh dengan diri kita, berarti ada kesalahan dengan apa yang sudah kita aplikasikan dari ilmu yang ada.

Pada hakikatnya semua manusia dalam keadaan bodoh. Kita sudah tau bodoh, tapi kita tidak mau belajar. Di situlah letak mala petaka bagi yang tidak belajar. Maka, mulai dari sekarang, belajarlah, belajarlah, belajarlah sampai umur kita diputus oleh Allah.

Semoga ilmu kita bermanfaat dan dapat menjadikan generasi setelahnya lebih baik lagi. Semoga semua ikhtiar baik kita selama hidup diridhoi oleh Allah.

?

Temukan update kegiatan seru saya di Twitter, Instagram, dan Facebook.

Posted by Rizqi Rangga Aufar

  • view 175