''Sisi Lain''

rizqif pangestuti
Karya rizqif pangestuti Kategori Agama
dipublikasikan 16 Maret 2016
''Sisi Lain''

Tiba-tiba percakapan itu terdengar begitu saja dari ruang poli kandungan ?dokter sudah 3 hari ini saya merasakan kram di perut bagian bawah saya dokter, tapi kadang tiba-tiba hilang dan tiba-tiba muncul, dan hari ini keluar flek-flek dokter, saya khawatir jika terjadi apa-apa dengan kehamilan saya?. Wanita paruh baya itu tampak lusuh dengan muka pucat tanpa polesan bedak sedikit pun. Dengan santai tanpa memandang wajah sang ibu dokter pun berkata padanya ?tidak ada apa-apa bu, cukup bedrest total saja di rumah dan jangan melakukan pekerjaan apa pun, ibu cukup istirahat jika dalam 3 hari kedepan tidak ada kemajuan baru ibu datang kembali !?. Dengan perasaan sedikit kecewa karana merasa sakitnya dianggap remah ibu-ibu itu mengulangi pertanyaannya ?Dokter saya takut terjadi sesuatu yang tidak baik pada kehamilan saya, kenapa tidak diberi obat satu pun dokter??.? Sambil tersenyum kemudian sang dokter berusaha menatap dalam-dalam pada ibu itu ?Bu,?. Saya bekerja disini berada di depan ibu saat ini bukan hanya untuk mendapat balasan jasa dari ibu, tapi saya bertanggungjawab penuh terhadap kesehatan ibu, untuk saat ini ibu hanya perlu untuk bedrest total, jangan bagun dari tempat tidur selama beberapa hari samapai flek-fleknya berhenti, dan jika dalam waktu tiga hari setelah bed rest total ?tidak ada perubahan dan bertambah parah ibu datang kebali ke saya, saat ibu memilih datang kepada saya untuk berkonsultasi masalah ini berarti ibu sudah percaya penuh pada saya, dan saya tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan itu?. Dengan persaan sedikit lega dengan kecewa yang tak hilang seluruhnya begitu saja. ?terimakasih dokter?. Lalu wanita itu pergi begitu saja dari ruang poli kandungan.

?

Saat itu aku yang sedang berdiri di depan pintu ruang poli kandungan tak beniat menguping tapi terdengar sayup namun percakapan itu kembali jelas terdengar, kali ini seorang perawat dengan dokter kandungan. ?Dok, kenapa dokter hanya memberikan nasehat tanpa meberikan obat penguat janin, apa dokter lupa untuk melihat riwayat pasien itu dokter, dia sudah keguguran 2 kali, apa tidak apa-apa kalau hanya dengan bed rest saja, saya dapat melihat dengan jelas raut wajahnya dia benar-benar megharapkan kehamilannya itu??. setelah beberapa? detik terdiam tiba-tiba?.. ?aku tidak membiarkan pasien itu begitu saja, konseling dengan bed rest total adalah salah satu penanganan awal saat terjadi perdarahan flek-flek di awal usia kehamilan, jika janin itu sehat setelah bed rest total perdarahan itu akan selesai dan kehamilan itu akan tumbuh seperti biasanya, tapi coba kamu bayangkan jika tiba-tiba ibu itu kita beri obat penguat kandungan, jika memang janin yang dikandung itu kualitasnya buruk dan mengandung sebuah penyakit lalu dengan obat penguat dia akan kuat di dalam rahimnya, yang seharusnya tubuh mengeluarkan secara alami benda asing yang dapat menganggunya, tapi dengan obat itu kita malah menguatkan dia tertanam dalam rahim? Siapa yang akan menangung pada akhirnya? Ibu kan? Jika janin yang tumbuh itu sehat dan tidak ada masalah, dengan bed rest saja dia akan kembali pulih.? Kemudian tak ?ada satu kata pun keluar dari sang perawat. Dan percakapan menjadi hening tanpa secercah suara sedikit pun. Suara ketukan pintu dengan tangan mencairakan suasana, dan poli kandungan kembali seperti sedia kala, hilir mudik pasien keluar masuk? dan semuanya kembali dengan suasana aslinya.

****

Berawal dari sebuah percakapan sederhana dengan sebuah sahabat sebelum tidur tepat pada tanggal 11 dzulhijah ?1435 H kemarin. ?Akhirnya, bisa merayakan idul kurban di Indonesia ?tahun ini, gimana perasaan mu mas?? tanya ku dengan usil aku berharap ada jawaban yang senang begitu hebatnya, tapi yang muncul hanya? ?hehehe, bedanya hanya saat ini idul adha bersama keluarga, saat dikorea pun aku bisa merayakannya dengan gembira?. Aku sempat sedikit berfikir dan diam menelisik mencoba mencari beberapa hipotesis dalam otakku, dalam batin berkecamuk penuh pertanyaan. Lalu dengan penasaran tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dengan mulus begitu saja dari mulutku. ?? bukankah korea adalah Negara dengan mayoritas penduduknya adalah seorang atheis?, lalu apakah nyaman idul adha mu disana mas??.? Ada satu pernyataan yang saat itu benar-benar meyentuh kebagian dasar ?justru aku menemukan islamku di korea? dengan senyum yang lebar semakin membuatku yakin pasti ada sesuatu yang menarik dari jalan yang dia lalui. Dan aku merasa tertarik dengan dongengnya tentang muslim di korea,? kubiarkan jejak demi jejak ia bagikan dan aku hanya tertegun dan melongo mendengar cerita ini. ?Dahulu susah sekali menemukan tempat untuk sholat apa lagi di tempat umum, jadi saat aku berada diluar dengan aktivitas ku saat mulai waktu sholat, aku segera sholat dan itu pun terpaksa sholat ditempat keramaian, terminal, pasar, stasiun atau tempat wisata, dan? tentu saja disana tidak ada tempat khusus untuk melaksanakan sholat?. Tiba-tiba aku sampai pada bayangan yang sampai di suatu tempat tanpa adzan dengan kesibukan yang begitu luar biasa saat bekerja mungkin aku akan banyak kehilangan waktu sholat karena tak sadar sudah memasuki waktu sholat, dan bagaimana rasanya sholat di tempat yang begitu ramai dengan hiruk pikuk manusia, bagaimana aku bisa mendapatkan khusyuknya sholat.

?

Tiba-tiba lamunan itu terpecah begitu saja dengan lelanjutan ceritanya. ?Dulu sebelum ada smart phone, kemanapun perginya aku harus membawa kompas agar aku bisa menentukan arah kiblat saat sholat. Dan lalu aku dan teman-teman ku yang berada dalam komunitas muslim di korea memutuskan untuk membuat sebuah musollah dibeberapa tempat, yaitu kos kosan yang kami alih fungsikan jadi sebuah musollah yang pada akhirnya, kami yang berada dekat di kawasan itu bisa mampir dan sholat disana saat waktu sholat itu tiba. ?kos-kosan dialih fungsikan menjadi musollah di tempat dengan mayoritas orang atheis (tak bertuhan)? Tiba-tiba aku mengingat Indonesia seandainya itu terjadi di Indonesia ada sekelompok minoritas dengan agama baru mendirikan sebuah tempat peribadatan pasti sudah banyak di demo warga dianggap aneh dan dicibir yang akhirnya berujung pada mengakfir-kafirkan, lalu bagaimana dengan di korea, tentu masyarakat sekitar tak begitu mengenal islam, apa lagi dengan isu terorisme bagaimana tanggapan masyarakat disana, rasanya tak tak tahan lagi untuk melontarkan amunisi pertanyaan yang membuatku ?tercekik di leher itu. ?Apakah mudah membuat izinnya, jika kos-kosan tiba-tiba dialihkan menjadi sebuah musollah??. Tanpa bingung dan berbasa-basi sahabatku menjawab pertanyaan itu dengan santainya ?tentu saja mudah, di korea prinsipnya adalah yang terpenting tidak membuat kerusuhan?. Tiba-tiba otakku yang terbatas mulai membanding-bandingkan antara orang Indonesia saat itu aku menoleh pada diriku sendri dan orang korea. Apakah aku bisa menerima begitu saja jika ada agama baru yang datang kelingkungan ku, dengan cara beribadah yang lain dengan ku.

?Mungkin di Indonesia kondisi muslim mayoritas membuat kita merasa terbiasa dengan segala kemudahan dan melupakan kesyukuran dari setiapnya, dan kita juga sudah susah membedakan mana yang disebut jihad dijalan islam dan mana yang disebut dengan pertahanan kekuasaan. Aku pernah membaca beberapa buku dengan kisah muslim minoritas semacam ini tapi kali ini aku merasakan hal lain, karena yang bercerita adalah dia yang bisa kuajak berbicara langsung dan dengan mulus mendongengkan kisahnya padaku.

?

Hari itu aku benar-benar setuju rasanya, salah satu factor penyebab kelabilan kondisi muslim dan toleranasi beragama yang gampang terpicu begitu saja di Indonesia disebabkan oleh kita muslim yang mayoritas, karena kita mayoritas, kita mulai melupakan bahwa Indonesia tidak hanya mereka yang muslim, bahkan peradapan tertuanya adalah hindu, dan saat ini masih ada beberapa agama selain islam lainnya. Merasa memiliki rutinitas secara umum sama dan saat ada yang berbeda meskipun yang berbeda itu tak menyebut dirinya islam berbondong-bondong dari kita akan mecoba menghancurkannya, tak jarang dengan cara anarkis, Astagfirullah semoga kita sering di ingatkan tugas kita manusia sebagai kalifah, ?penjaga bumi? tentu bumi adalah seluruh aspek di dalamnya termasuk umat manusia.

?

Perjuangan seorang mslim minoritas itu selalu mengingatkan rasa syukur, dan mencintai Indonesia dengan kenyamananku untuk bebas beribadah di dalamnya. Lalu aku berfikir mungkin yang mebuat kita mudah terpecah belah dengan golongan kita sendri antara muslim yang satu dengan yang lainnya, gampang tersulut amarahnya adalah pemahaman tentang islam yang kurang mendasar, tentang kenapa harus menjadi islam, dan setelah islam bagaimana akhlak kita yang seharusnya, bagaimana hukum-hukum islam yang sebenarnya. Mungkin yang paham soal itu hanya mereka yang mengecap pendidikan perguruan tinggi di ?Fakultas agam islam?, ?hanya mereka ustad, sedangkan yang lain hanya mempelajari bagian luar dari islam, mereka sibuk menguak ilmu ekonomi, sejarah,industry tehnik dan sebagainya sampai keakarnya, sedangkan untuk agama islam serasa mengambang dan aku pernah berada diposisi itu dimana aku baru sadar islam tak hanya sekedar sholat untuk Allah semata,tapi Islam adalah bagaimana aku menjalani kehidupanku sehari-hari. Aku mulai menemukan islam saat aku mengakui sholatku tak berfungsi dengan baik, dan mulai bertanya-tanya saat itu, apa yang kurang kenapa perasaan nyaman setelah sholat itu susah sekali di dapat. Kita harus benar-benar percaya sepenuhnya, sholat kita dapat benar-benar menjadi penghubung kita dengan tuhan. ?Dengan mulai menelisir bagaimana sholat yang baik dan benar dan merepakan semua ketentuan islam. ?Dan kenyamanan itu didapat saat kita benar-benar percaya sepenuhnya. Tidak setengah-setengah, saat ini kalian bisa mengukur sendiri pemahaman tentang islam, jika merasa masih banyak pertnyaan carilah, karena bisa saja ketenangan yang selama ini tidak ada mungkin karena bagian itu belum terisi dengan baik.

***

?

Sisi lain yang kadang saat kita melihat dengan mata kita sendiri tidak terfikirkan, membuat gusar dan tidak nyaman, kadang kita perlu keluar dari kotak pemikiran kitatsendiri dan mencoba melihat dengan sisi yang lain. Kita akan menemukan sisi nyaman yang tak terbayangkan sebelumnya. Seperti dua kisah itu tentang dokter yang tak seperti biasa mengaggapi keluhan pasiennya dan sebuah cerita muslim korea dengan perjuangannya menjaga keislamannya. Saat merasa sulit memahami lingkungan dan orang lain berarti kita belum melihat secara obyektif, kita masih didominasi perasaan subyektif, oleh karenya keluarlah dari dirimu sendri dan lihatlah dari sisi lain meskipun sisi itu yang berlawanan dengan kita maka kita menjadi lebih bijak saat memandang. Semoga beberapa kisah ini mebuat kita sadar kekurangan atau ketidaknyamanan itu harus dijadikan teman kita harus mengenalnya dengan baik bukan untk di jauhi agar kita mendapatkan kenyamanan yang sesungguhnya kita inginkan.?

?

?

  • view 166