Mati Tak Butuh Alasan

rizqif pangestuti
Karya rizqif pangestuti Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Maret 2016
Mati Tak Butuh Alasan

Udara kembali kering matahari membasahi bumi dengan sinar terang yang terik, suasana hari itu cerah langit berwarna biru dengan sedikit kalibrasi warna putih yang lembut. Hari ini Terra memutuskan keluar rumah mengunjungi sahabat lamanya, dalam hatinya berbisik ?untuk sang patah hati terkadang setumpuk kesibukan adalah obat paling ampuh?. Sore ini ia berniat pergi menemui seniman lukis militan itu, namanya ?Ilalang?. Setali tiga uang dengan namanya Ilalang, dia bisa tumbuh dengan mudah ?dibeberapa tempat bahkan tempat yang ekstrim sekalipun, daerah kering dan tandus bahkan di lereng-lereng tebing, itulah sisi baiknya. Apa sisi buruknya, terkadang yang melihat ilalang dia adalah semak belukar, keberadaannya mengganggu tanaman disekitarnya padahal tak selamanya Ilalang punya makna hidup demikian. Begitulah Ilalang seorang pelukis militan, tubuh laki-laki ini tak begitu kekar, penampakan seperti? orang arab tingginya sekitar 165 cm, dan terdapat tato manusia bersayap di lengan kanannya, rambutnya yang ikal dan sebahu menambah penampilannya semakin terlihat khas penampilan seorang seniman, entahlah kenapa seniman selalu digambarkan dengan gaya semacam ini. mungkin hanya semacam mode atau mereka punya filosofi kebebasan tersendiri dari penampilan mereka.

?

Di sisi lain Ilalang adalah sahabat karib Terra sejak kecil, dia tinggal di sanggar lukisnya yang berletak tak jauh dari desa tempat tinggal Terra sekitar 25 menit di tempuh dengan kendaraan bermotor dengan kecepatan 50-60 km/jam. Dengan selalu memegang prinsip ?don?t judge books by its cover? terra berteman dengan siapa pun, tak pandang penampilan. Pekerjaan dan status social, justru Terra banyak belajar hal bijak dari Ilalang. ?Bumi ku yang damai apa kabar? hehehe, lama tak berjumpa, sekali jumpa dengan muka pucat pasi bulan kesiangan, masuklah Terra kita bisa banyak berbagi di ruang tenggah!? , senyum khas tersungngging di wajah Ilalang saat Terra sampai di halaman depan sanggar lukisnya.

?

?Tempat ini selalu nyaman, kamu selalau tahu kan? Setiap aku datang aku ingin merasakan kedamaian disetiap cerita dan filosofi dari lukisan-lukisanmu disini?. Sembari duduk sambil menatap dinding-dinding ruangan yang penuh lukisan Terra memperhatikan setiap sudut lukisan di ruangan itu. ?Lang, tampaknya tubuh mu tak sekurus ini 2 bulan lalu, kenapa Lang? sakit??. Ilalang hanya membalas pertanyaan Terra dengan senyumannya. Setelah pertanyaan itu terlontar begitu saja, sempat hening sejenak. Lalu Ilalang mengajak Terra berjalan menuju lukisan favoritnya yang terbaru. ?Ilalang seorang pelukis yang jenius, lukisan abstraknya selalu melukiskan tentan massa depan yang dia inginkan, perpaduan warna dan kalibrasi warna yang tepat, dengan goresan-goresan kuas bermakna yang di gerakkan dengan hati dan imajenasi, membuat lukisan-lukisan ilalang Nampak hidup dan bercerita.

?

Seusai berkeliling ke beberapa ruangan menelaah bersama setiap lukisan unik, mereka berdua kembali ke runag tengah. ?Lang, boleh tanya sesuatu?? celetuk itu tiba-tiba terlontar begitu saja dari Terra. ?Tentu saja boleh, tanya tentang apa Terra??. Dengan senyum khas Ilalang yang lembut di wajahnya, berusaha menggambarkan bahwa dirinya baik-baik saja pada sahabat kecilnya itu. ?waktu kau menikah dulu apa yang mebuat mu yakin memilih almarhum Arista sebagi istrimu, dan apakah kamu hanya bertemu satu sosok perempuan untuk kamu cintai??. Mendengarnya Ilalang tertawa terbahak begitu saja. ?Baiklah pertanyaan mu itu memberiku isyarat tentang siapa jodoh itu sebenarnya, iya kan?? Terra mengangguk perlahan. ?Terra, jikah kamu masih bertanya ?Siapa? jodoh itu, kamu tidak akan pernah menemukannya, aku lebih suka memaknainya sebagai proses, proses ?berjodoh? jika cara menjodohinya baik maka hasil akhirnya akan baik, hasil baik bukan lah selalu menikah, tapi bisa saja terjadi sebuah perpisahan yang baik, Jodoh itu bukan tentang seberapa besar cintamu kepadanya, atau sebaliknya, jodoh adalah tentang sebuah keyakinan untuk memilih hidup bersama, biarkan waktu yang akan menemukan mu dengan jodoh itu, bukankah Tuhan sudah tegas memberikan janjinya kepada kita ?lalki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula dan sebaliknya?. Mendengar penjelasan luas itu perasaan Terra terasa lebih lapang dari sebelumnya.

?

Detik semakin banyak bergulir, menit- menit berlalu lalang, tak terasa sudah 2 jam mereka mengobrol panjang lebar, di ujung pembicaraan mereka Ilalang tak kuasa menahanbatuknya yang bertubi- tubi, ?Lang kamu sakit ya? Sudah ke dokter? ?. Seperti biasa Ilalang menjawab ekspresi itu dengan senyum lembutnya ?Terra sudah 4 bulan ini aku setiap bulannya selalu pergi ke dokter, untuk memeperoleh beberapa obat yang harus aku konsumsi rutin setiap harinya?. ?Minum obat rutin setiap hari? Tubuhmu semakin kurus? Jangan- jangan kamu sakit TB paru?, kenapa kamu tidak pernah cerita Lang??. dengan wajah mengkerut khas cemas Terra mendesak Ilalang untuk bercerita sesuatu padanya. ?Ya bahakan aku, bisa dengan mudah juga terkena penyakit-penyakit lainnya, empat bulan lalu aku positif HIV?. Ilalang saat ini sedang tersenyum dan tertunduk menjelaskan semuanya.

?

Suasana mendadak hening, detak jam terdengar jelas, sunyi dan senyap menyelimuti ruang tengah sanggar lukis Ilalang, bahkan Terra tertegun diam, berkecamuk di dalam dada dan pikiran tentang banyak pertanyaan mengenai HIV di benaknya, Terra kenal betul dengan sahabat karibnya itu, Ilalang dengan penampilan nyentriknya yang khas seniman itu, adalah pemuda yang baik, bukan pengguna obat-obatan terlarang atau pemuda penganut seks bebes, rasanya hamper tidak mungkin ilalang terkena HIV, ada dorongan kuat dalam batinnya, seraya ingin bertya ?bagaimana bisa??, tapi dengan sendrinya penjelasan itu terlontar begitu saya dari mulut Ilalang yang dengan wajah sendu. ?Pasti kamu sedang berfikir? Bagaimana bisa? Kamu menngenalku dengan baik, bahkan kamu lebih mengenal ku daripada diriku sendri. 6 bulan lalu teman ku yang bertato bersaku meninggal terra, dalam 3 bulan terakhir kepergiannya dia mendadak menjadi pemuda yang lemah, tubuhnya gampang sakit dan sampai akhirnya meninggal. Aku curiga dia terkena HIV, dan pemeriksaan darah sesuai meninggalnya dia membuktikan bahwa ia HIV positif, kamu tahu bagaimana aku dengan penasaran ku yang selalu besar. Aku memutuskan untuk memeriksakan diriku, dan hasilnya sesuai kecemasanku HIV positif. Dan hari ini? aku menyandang status baruku selain seniman, ?ODHA? orang dengan HIV AIDS. Itu bukan status yang mudah Terra, awalnya tubuhku tak bisa berdamai dengan status baru itu, tapi apalah artinya semua penolakan itu, penyakit ini akan tetap menyelinap semakin dalam di tubuhku?.

?

Mulut Terra hari itu semakin terkunci rasanya, taka da sepatah kata pun yang berani keluar dari bibir tipisnya, hatinya bergetar, sedih mendalam menyelimuti lubuk hatinya yang terdalam. ?Apa kamu takut Lang?? dengan suara bergetar air mata melembabkan pipinya, Terra bertanya pada Ilalang. ?Ayolah?, aku tak pernah memberi tahumu karena aku tak ingin melihatmu meneteskan air mata indahmu itu untukku, dan selama 4 bulan terakhir aku tak merasa diriku dalam kondisi sakit, aku merasa baik-baik saja, dan tidak ada? yang berubah dalam hidup ini Terra, jangan membuat ku merasa kalau aku ini sakit dan menyadarkanku tentang perbedaan sakit dan sehat dengan air matamu?. Mendengar penjelasan ilalang yang tenang dengan tanda senyum di wajahnya, Terra berusaha menyeka air mata dan menghentikan tangisnya. ?Lang, aku bangga padamu, aku selalu melihat kedamaian itu dimatamu, meskipun dalam kondisi sakit yang kamu derita hari ini?.

?

?Terra semua orang punya rasa yang sama tentang kematian, takut. Aku juga takut, tapi aku tak ingin memilih perasaan itu menghabiskan hak ku untuk hidup bahagia, bagiku aku tak punya alasan untuk lebih takut pada kematian disbanding siapapun, bukan kah kita terlahir dan hidup di dunia ini tanpa butuh alasan apa pun?. Kita tak pernah bisa menentukannya sesuai alasan kita. Begitu juga kematian, bagiku mati tak butuh alasan Terra, bahkan siapapun bisa mati begitu saja, tanpa alasan sakit karena banyak yang meninggal dalam keadaan sehat mereka, mati juga tak butuh alasan tua,karena banyak bayi yang berusia 7 hari yang meninggal begitu saja, bagiku mati tak pernah butuh alasan Terra, lalu alasan apa yang membuatku untuk lebih takut pada kematian daripada semua orang? kita semua sama kan?, punya waktu yang tepat sesuai ketentuan terbaik dari Tuhan untuk meninggalkan dunia indahnya ini?. Ilalang mejelaskan semua dengan mudah, hari ini dia terlihat sudah sangat berdamai dengan dirinya sendri. Terra mulai tersenyum dan bergumam dalam hati. Ilalang saja dengan kondisinya hari ini begitu damai, dia tak mau membuat rasa cemasnya dan ketakutannya membuatnya menjadi pesimis mengartikan sebuah kematian.

?

?Entahlah Terra, aku begitu mencintai Tuhan. Dan aku punya cara tersendiri untuk mencintainya, dengan mencintai buminya, mencintai segala sesuatu yang ada disini, dan membahagiakan semuayang aku cintai, termasuk diriku sendri. Iyaa? caraku mencintai Tuhan salah satunya adalah dengan mencintai diriku sendri, aku juga ingin hidup lebih lama, dan semua dalam hidup selalu butuh perjuangan untuk hidup, dan ini dalah perjuangan ku?. Tukas ilalang sambil menyodorkan beberapa obat seraya menunjukkannya pada sahabat kecilnya itu. Saat itu tak ada alasan lain bagi terra untuk meneteskan air mata kesedihan, justru hari itu Illang yang lebih banyak membesarkan hatinya untuk tidak cemas memikirkan kesehatan Ilalang.

?

Ilalang meminum beberapa obat, kemudian melanjutkan ceritanya kembali. ?Terra, aku masih ingat kata-kata itu, yang kamu berikan pada ku saat kemtaian istriku 1 tahun yang lalu. ?Tuhan selalu menentukan takdirnya secara pasti tapi selalu menyembunyikan semua prosesnya dari manusia,karena Tuhan tidak suka keputusasaan, kamu benar Terra aku hari ini hanya butuh untuk selalu bersama Tuhan, dengan lebih dekat padanya membuatku merasa damai luar biasa. Setiap nasehat yang kamu berikan padaku, aku selalu mengingatnya, dan aku juga yakin dengan janji Tuhan, Dia tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu mau merubah nasibnya sendri, itu adalah bukti bahwa pentingya sebuah harapan dan usaha untuk merubah takdir itu sendiri, bahkan itu mebuktikan pada kita bahwa Tuhan selalu memberikan kesempatan pada kita untuk merubah takdir kita sendri. Aku juga masih mengingatnya nasehat mu setahun silam saat menemani ku mendampingi istriku yang sedang sakit parah, kamu bilang ?Tuhan selalu memberikan yang terbaik untuk manusianya yang patuh dan tulus kepadanya, Tuhan selalu menciptakan segala sebab terbaik dan akibat terbaik untuk hidup manusia, begitu juga dengan sebuah sakit ini juga pemberian, untuk mengingatkan ku untuk mengingat kembali bahwa aku manusianya, sekenario terbaik itu sedang Tuhan jalankan untukku, dan tentang kesembuhan itu, bukankah Tuhan selalu menurunkan sebuah penyakit itu beserta obatnya, kesembuhan itu mutlak dari Tuhan, sedangkan obat, atau dokter hanya sebagian sebab yang Tuhan ciptakan dari beberapa kesembuhan dari setiap penyakit yang ada, bahakn tak jarang kasus-kasus penyakit yang Tuhan sembuhkan dengan tanganNya langsung, banyak studi kedokteran yang menyebutkan kesembuhan dari pasien-pasien dengan penyakit kronis secara menakjubkan tak terjelaskan oleh akal manusia. Bukankah yang bernama iman itu adalah yakin tanpa banyak keraguan, itulah hari ini yang aku rasakan, keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan termasuk kesmbuhan sakit ini meskipun banyak orang yang dengan tegas bilang bahwa penyakit ini taka da obatnya, tapi mereka jarang mengingat, Tuhan Maha Mencipta sebab terbaik, termasuk sebuah kesembuhan?.

?

?

Dua sahabat karib itu detik itu juga tersenyum bersama, kembali kekeadaan semula menceritakan hal lain dan kenangan masa kecil yang membahagiakan, tak ada lagi kecemasan dan kesrisauan, itulah makna seorang sahabat. Hidup selalu berjalan bergerak dengan kedua kakinya, kebahagiaan dan kesedihan akan mudah untuk melaluinya dengan kedua kakinya, saat kaki itu pincang pada salah satu sahabat adalah kaki ketiganya.

?

?

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

*** Cerpen ini didedikasi untuk Kampanye tetap hidup untuk penederita ODHA diseluruh dunia.

  • view 233