''Tentang Mutiara Yang Diselimuti Pepohonan Jagung''

rizqif pangestuti
Karya rizqif pangestuti Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 15 Maret 2016
''Tentang Mutiara Yang Diselimuti Pepohonan Jagung''

Ini adalah kisah perjalanan menuju sebuah tanah sempit di tengah hutan dan perkebunan tanggal 30 Januari 2015 bernama Bongkoran. kadang kita bingung mencari kebahagian, dengan ini aku yakin kalian akan setuju "Berbagi adalah cara terbaik untuk bersyukur dan membahagiakan diri" dan ini beberapa alasan yang bisa kamu temui saat berkunjung dan berbagi pada mereka yang tinggal di Bongkoran.

"Mereka lahan yang subur bagi rasa syukur''

?

?

Bertemu negerimu kali ini aku merasa ?keluhan? tak pantas lagi untuk ku miliki. Kalian punya banyak syarat untuk pesimis, tapi, lihatlah kalian optimis. medan yang sulit di tempuh, mungkin jauh dari rutinitas sosial yang nyaman. Tapi kekerabatan yang luar biasa terjalin hebat disana. Rasa saling memiliki dan saling peduli yang mungkin jarang dimiliki masyarakat kota-kota. Tuhan benar-benar Maha kaya, menyembunyikan permata indah di selubungi pepohonan dan rimbunnya tanaman jagung perkebunan. Dan itu kalian.

?

Awal sampai tempat parkir mobil kami, kesan yang timbul adalah, ?jadi ini tempatnya?, ini masih biasa?. Tanpa diduga masih berjarak 7 km dari tujuannya. Dan awalnya sempat bertanya. Kenapa harus parkir disini?. Setlah sekian lama berjalan, jalanan semakin rapuh dan licin. Air bukan hanya mengaliri sungai-sungainya, tapi juga mengaliri jalanan yang ada. ?Tuhanku ini Indonesia, eh pernyataan ini teralu luas, ??ini banyuwangi ya?? iya ini banyuwangi kita, banyuwangi bukan hanya sebatas wongsorejo tapi Bongkoran juga . Aku sempat berbincang-bincang dengan bapak baik hati yang bersedia membawa ku bersamanya dengan sepedahnya.?pak ini memang nggak bisa dilewatin mobil ya pak??. Dan si bapak mejelaskan saat musim hujan tiba jalan ini hanya mampu di tempuh dengan kendaraan roda dua. Tapi tentu Tuhan menciptakan segala dengan sebab terbaik yang iya miliki. Bumi hari ini sangat butuh lahan resapan dan Bongkoran adalah salah satu wadah resapan bermakna untuk bumi kita terutama Banywangi. Jadi biarkan saja alam bebas mengayomi manusia dengan caranya sendiri.

?

?

Setibanya disana kami disambut seperti sebuah pahlawan besar, ibarat gula pasir yang tercecer di tanah banyak semut yang mendekat dan mencari tahu seberapa manisnya gula itu. Setiba disana ada satu perasaan yang bergejolak hebat dalam nurani ku sendiri. ?Ya Tuhan rela kah aku jika di tinggal di daerah seperti ini?? lalu ego itu pun muncul ? ini tidak akan nyaman? kataku. Tapi?.Mungkin hari ini aku tak bisa tinggal, tapi aku selalu butuh untuk kembali bertemu mereka.

?

?

"Tawa mereka begitu tulus, dan itu membahagiakan kita serius!!"

Bertemu anak-anak dengan muka polos dan lusuh, awalnya mereka menyuguhkan ekspresi asingnya untuk aku dan teman-teman Rumah Literasi Banyuwangi, tapi senyum dan tawa tulus itu menular dengan cepatnya. Mereka bukan hanya merasakan bahwa mereka adalah bagian dari permainan kami hari itu. Tapi aku mulai bisa merasakan keyakinan mereka, suara harapan mereka ?kaka? hari ini aku memiliki kalian?. Mereka sudah mulai bersuara, berani bernyanyi bersama dan menceritakan mimpi-mimpi mereka.

?

?

Tak peduli seberapa susahnya, senyum optimis mereka hari ini adalah pesan kita untuk masa depan bangsa ini. anak-anak harus tetap jadi anak-anak. Tak peduli banyaknya konflik yang terjadi anak-anak tetaplah sebagai anak-anak. Dan bumi ini adalah taman bermain yang nyaman untuk mereka. iya bumi harusnya tak dimaknai sebagai sebuah arena kompetisi pengumpulan uang sebanyak-banyaknya, tapi harus dimaknai sebagai taman bermain yang harus terus kita jaga untuk generasi kita untuk mereka.

?

Hari ini aku bertemu kakak beradik yang luar biasa, wajah mereka inonsen, tapi aku yakin mereka sangat peduli. Mungkin mereka hari ini belum hafal jalan menuju tawa itu, dan saat nya kita melukiskan senyum itu untuk mereka. aku selalu berfikir harta benda dan sarana prasarana bukan nomer satu untuk membangun sebuah sistem yang baik, tapi kebutuhan primernya adalah semangat optimisme itu sendiri. Dan itulah yang harus kita bangun.

?

"Mereka ?Jago tentang membangun sebuah Optimis"

Bagaimana masa depan bumi kita bukan bergantung pada tangan kita, hari ini memamg mili kkita, tapi masa depan selalu jadi milik mereka, anak-anak. Mereka bak tabula rasa yang polos tanpa coretan salah. Rasanya ingin berbicara pada mereka ? Nak, mungkin tanahmu tak nyaman disinggahi hari ini, tapi ini tanahmu sendiri, rumahmu sendiri. Bagaimanapun keadaannya, rumah adalah sebaik-baiknya tempat untuk tinggal?, tempatmu boleh di daerah terpencil atau di perbatasan kota, kualitas hidupmu tak boleh seperti daerah terpencil, dimanapun seorang anak dilahirkan, letak mimpinya harus tetap di langit.? mereka tak punya sebuah taman kanak-kanak dan demi sekolah mereka harus masuk SD sebelum berumur 7 tahun untuk mengecap belajar di sekolah. dan hasilnya mereka harus duduk di bangku kelas satu selama lebih dari satu tahun. bayangin!! semoga suatu saat ada paud di disana. tak berhenti disitu, jalan tak nyaman yang mebentang sejauh 3 km dari rumah untuk menempuh sekolah hanya dengan naik kendaraan roda dua tau cukup berjalan kaki, tapi mereka tetap punya cita-cita yang luar biasa.

?

?

"Hudup bukan hanya tentang kesuksesan tapi tentang seberapa bermafaatnya kita untuk hidup itu sendiri, bersama mereka rasanya kami lebih bermanfaat untuk hidup kami"

Jika kita hari ini yang nyaman hanya mengeluhkan ketidaksempurnaan sistem tanpa membantu memperbaikinya. Kita sama saja seperti sebuah ulat yang tak mau jadi kupu-kupu. Hidup sukses tapi tak memiliki daya guna, autis namanya jika terlalu asik fokus pada kebutuhan dan kepentingan pribadi. Tidak semua orang harus terjun dalam dunia sosial. Tapi kita semua harus selalu punya sisi kepedulian. Peka dalam membaca setiap situasi yang ada tanpa mencibir tanpa makna.

?

?

?

Ini bukan tentang siapa yang paling hebat, atau siapa yang paling peduli, tapi mereka butuh yang mau peduli, banyuwangi sudah punya banyak stok pengkritik yang langka adalah yang mau turun tangan untuk berbagi, menyelesaikan masalah yang terjadi. Karena mereka juga bagian dari tenun kebangsaan ini, yang masih terus butuh diselesaikan. Pada merekalah pelajaran bermakna tentang bersyukur selalu bisa didapat dengan mudah. Kita sering mengelukan jalanan yang tak layak, kita sering mengeluhkan fasilitas sekolah yang rusak. Kita sering membahas kurikulum pendidikan yang dianggap salah dan fasilitas kesehatan yang tidak memadai. Mereka tidak butuh itu. Mereka hanya butuh tetap bisa nyaman tertidur di ranjang mereka masing-masing, berlari bebas di tanah lapang halaman rumah masing-masing. dan bertemu mereka akan selalu menyematkan rasa peduli dalam hatimu dan keinginan untuk berbuat sesuatu.

?

"Anak adalah pesan yang kita kirim ke masa depan, bersama mereka kita bisa titipkan pesan kedamain untuk masa depan"

?

Jika kalian bertanya apa yang harus dilakukan , apa yang bisa di bantu. Kalian bisa menyumbangkan beberapa buku. Mereka haus akan banyak ilmu, mereka lapar akan banyak torehan senyuman. Kenapa anak-anak? Kenapa harus berbagi pada mereka? kenapa kualitas mereka harus diperhatikan?. Karena mereka cerminan masa depan.? Dan anak adalah satu-satunya pesan yang bisa kita kirim ke masa depan. Rizki dan Wulan kakak beradik yang bercita-cita jadi pesulap dan seorang putri. kalian akan banyak menemui anak polos dengan mimpi yang besar disini.

?

?

Rumah Literasi Banyuwangi, Bongkoran, Wongsorejo Banyuwangi, 30 Januari 2015

?

  • view 130