Tuluskah?

Dwiza Rizqy Utami
Karya Dwiza Rizqy Utami Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Idealis?

Idealis?


Memporak-porandakan imajinasiku tentang kehidupan. Apakah idealisme itu?

Kategori Acak

120 Hak Cipta Terlindungi
Tuluskah?

Semua bermula ketika aku dipertemukannya. Lelaki yang tak pernah patah arang meski ia sering terlihat lusuh penuh peluh. Ia, sering kali menjabat sebagai ketua di banyak organisasi. Aku bukanlah siapa-siapanya, hanya teman sekelasnya saja, biasa. Namun ada kekaguman lain dari sikapnya yang begitu tanggung sekaligus tengil itu.

20 Oktober 2015, aksi besar yang digerakkan oleh BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Seluruh Indonesia--terkait setahun pemerintahan Pak Jokowi--telah menggetarkan hati para mahasiswa. Termasuk aku yang sedang sakit kala itu. Lagi-lagi karena lelaki tangguh itu yang menggetarkan, sebut saja ia Awan. Awan berkali-kali mengabarkan tentang aksi tersebut via grup line kelas, "Kelas PLB C wajib ikut aksi besok. Jangan jadi mahasiswa apatis," tulisnya.

Respon bermacam-macam dilontarkan dari teman-teman, "Ah emang iya wajib?"

"Takut, ah. Nanti dimarahin mama."

"Ih ngapain juga, sih, ikut aksi segala? Toh kita kuliah yang penting bisa kerja enak nantinya."

"Wah, ada aksi? Yo maaan. Tancap, Bro!"

"Ya, kita harus ikut aksi, karena ini untuk masa depan bangsa kita."

"Demo gitu? Pengen, sih, tapi takut, kan masih maba."

Berbagai macam respon itu mengulik-ngulik otakku. Aku mengerjapkan mata, mencari jati diriku. Aku ada di mana? Berpihak pada siapa? Bukan maksud apatis. Aku hanya lelah dengan keadaan, pasrah dengan nasib negeri ini. Apalah dayaku?

Demamku makin meninggi, kurebahkan kepala di atas bantal, sembari membaca pesan-pesan di handphone. Aku berbisik pada hati yang gulana. Aku bertanya padanya, tentang sebuah kata 'mengapa'. Mengapa aku merasa takut? Mengapa aku meragukan semangat teman-temanku? Mengapa aku begitu kalah ambisi dengan mereka? Namun mengapa pula aku geram melihat keapatisan teman-teman? Mengapa aku geram dengan celoteh teman-teman? Mengapa aku geram melihat foto selfi hasil aksi teman-teman? Mengapa...ah sudahlah.

Pikiranku mengkabut, bagai kejatuhan bom Hiroshima. Sebenarnya aku dukung siapa? Aku sadar, aku adalah salah satu bangsa yang merasa miris dengan keadaan Indonesia. Namun aku tak suka keramaian, kepala ini makin pecah jika demikian. Apalagi jika aku turun aksi padahal hatiku belum mantab, lalu bagaimana bila ada hal tak baik menimpaku, aku harus berbuat apa? Satu semester lalu aku masih sangat polos. Tak mengerti apa itu pekikan 'HIDUP MAHASISWA!!!' yang sering digaungkan ketua BEM atau kakak tingkat di acara-acara kemahasiswaan. Apa itu hanya teriakan yang menyakitkan nadi atau benar-benar tulus dari hati utuk membela rakyat Indonesia? Aku sama sekali tak mengetahui, aku polos apa adanya. Aku mengernyitkan dahi.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun. Di semester dua perkuliahan ini aku mendapati inspirasi dari teman-teman perjuangan. Aku sempat minder untuk bergabung dengan mereka. Mereka adalah tim aksi di fakultasku, FIP GREEN TEAM (FGT). Tak lama, lagi-lagi Awan menyadarkanku. Peluh yang sering ia keluarkan tak sia-sia menurutku, aliran peluh yang melewati dahinya menyadarkanku bahwa untuk tulus di jalan ini memang harus dengan sebuah proses. Kini kunikmati proses untuk mencintai perjuangan ini, sebelum aku benar-benar bergerak untuk bangsa Indonesia. Namun yang pasti bagiku adalah, ketulusan membawa perubahan bangsa tetaplah ada pada passionnya masing-masing. Sebagai calon pengajar, aku wajib banyak belajar untuk bagaimana mengajarkan siswa-siswa luar biasaku kelak. Bagiku, lewat karya aku akan berusaha mencintai mereka, mencintai kalian dan mencintai diriku sendiri.

Kini, kulihat mata Awan melayang luas ke awan Jakarta yang kelabu. Entah apa yang ia pikirkan, terlalu banyak umat yang ada di kepalanya. Sebagai koor Forum Ketua Angkatan 2015 di kampusku, ia banyak memikirkan segala sesuatu. Hmm, sedikit banyak aku taku tentang masalah internalnya, meski banyak sekali peluhnya, ia berani belajar lebih keras dari berbagai macam kegiatan untuk lebih memanfaatkan energinya agar lebih bersinergi.

Terima kasih, sahabat.

Selamat, kau berhasil menyentuh hatiku. Masih banyak yang ingin kuceritakan di sini, tapi waktu menyitaku kembali. Sampai jumpa lagi, pembaca. Sementara aku 'kan kembali pada rutinitasku sembari memikirkan apa itu arti 'tulus' dalam keidealisme-an? Apakah aku benar-benar idealis atau ada unsur lain?

Sekali lagi, apa itu TULUS?