Mental Anti Karat

Mental Anti Karat

Dwiza Rizqy Utami
Karya Dwiza Rizqy Utami Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 13 Februari 2016
Mental Anti Karat

?

Nama saya Rizki Dwi Utami. Kelahiran Semarang, 18 Oktober 1996. Kini menjalani semester dua di Universitas Negeri Jakarta, dengan program studi (prodi) Pendidikan Luar Biasa. Saya adalah alumni SMA Muhammadiyah Cileungsi tahun 2014, yang telah mengikuti berbagai seleksi PTN pada tahun 2014 yaitu, SNMPTN, SBMPTN sampai mandiri, dengan pilihan prodi Pendidikan Matematika. Tak gentar, bukan? Namun apa daya, tangan tak sampai meraih kata 'selamat' di salah satu pengumuman seleksi-seleksi tersebut. Meski demikian, saya pantang menyerah. Diam-diam dari orang tua, saya daftar SBMPTN lagi di tahun 2015. Namun pada ahirnya etahuan juga kalau saya ingin mendaftar SBMPTN lagi. Tak mengapa, agar diberi doa.

Berbekal belajar latihan soal-soal dari internet dan pinjaman buku teman, saya belajar latihan soal yang tidak linear dengan jurusan saya di SMA yaitu jenis soal soshum. Ya, 2015 saya pindah haluan, tak lagi memilih Pendidikan Matematika, tapi memilih prodi yang saya tempuh saat ini. Alhamdulillah perjuangan itu tak sia-sia yaitu, perjuangan di sela-sela bekerja dan di tengah malam.

2015 memilih PLB bukan serta-merta asal memilih dengan alasan PLB jarang peminat, tapi saya memang terinspirasi dari anak-anak luar biasa saat menjadi volunteer acara Walk For Autism di Monas, 2015. Dari situ saya melihat bintang-bintang pada diri mereka yang kelak 'kan bersinar, juga harapan-harapan besar pada diri orang tua mereka yang kelak 'kan terkabul jika anak-anak itu mendapatkan hak pendidikannya. Sebab mereka bukanlah sesuatu yang harus diasingkan, mereka juga perlu pendidikan yang layak. Mereka adalah sesuatu yang luar biasa, jika terus dilatih apa yang bisa dilatih dari mereka. Selain itu, saya memilih prodi ini pun sebagai salah satu cara intropeksi diri ini juga, bahwa kesempurnaan fisik ini jangan sampai dijadikan bahan kesombongan ataupun masih suka merendahkan diri. Jangan sampai.

Setelah memasuki perkuliahan, akhirnya saya mengerti mengapa saya menerima kegagalan-kegagalan terlebih dahulu di tahun 2014. Saya mengerti, Allah punya rencana yang lebih baik. Allah mengajarkan saya apa itu perjuangan, apa itu dunia yang keras di tempat kerja dan apa itu keikhlasan menjalani semuanya. Sebab kini saya merasakan perjuangan yang lebih keras lagi, sehingga saya tak merasa kaget dengan dunia ibu kota yang begitu kejam dengan manusia berkantung tipis ini.

Kuliah dengan modal nekat, membuat saya mencari-cari pekerjaan agar bisa membayar kostan dan syukur-syukur kalau bias bayar UKT. Alhamdulillah teman saya ada yang menawarkan untuk mengajar matematika kelas 6 SD. MasyaAllah, Allah memang tak pernah mendzalimi hamban-Nya, Allah pasti memberi kebutuhan kita. Alhamdulillah dari hasil mengajar privat itulah saya bisa membayar kost, ongkos jika berpergian dan makan. Meski belum tahu kelak membayar UKT semester selanjutnya pakai apa, tapi saya tetap nekat saja, rezeki sudah ada yang mengatur.

Mencari ilmu itu adalah jihad di jalan Allah, jika diniatkan berjihad InsyaAllah Allah jamin. Kalimat itulah yang memupuk semangat saya kembali jika tiba-tiba saya merasa pesimis untuk melanjutkan kuliah. Sebagai anak dari orang tua asuh (bude dan pakde) yang berpenghasilan tak menentu karena hanya berdagang makanan sarapan saja, saya mesti bersabar penuh. Semester 1 Alhamdulillah saya membayar UKT dengan tabungan gaji saat kerja dulu, lalu semester 2 Alhamdulillah dibayar oleh mama kandung dengan uang arisannya, selanjutnya semester 3 nanti entah belum terpikirkan. Semoga bagaimana pun nanti, Allah tetap menyertai dan tetap lindungi hati orang tua dengan penuh kesabaran. InsyaAllah, Allah pasti jamin.

Mengapa saya menceritakan tentang finansial? Karena saya sangat ingin mendobrak kenyataan umum bahwa manusia berkantung tipis itu tak bisa berpendidikan tinggi. Tidak, saya tak setuju denga anggapan yang membekuan semangat seperti itu. Saya tetap percaya bahwa, nasib seseorang takkan pernah bisa berubah jika kita sendiri tak berusaha keras mengubahnya dan yang pasti diiringi doa pada-Nya. Sebab hanya doa tanpa usaha itu bohong dan usaha tanpa doa itu sombong.

Dengan pengalaman-pengalaman saya tersebut, saya ingin sekali menularkan virus pantang menyerah ini ke adik-adik yang sebentar lagi akan melanjutkan jenjang perkuliahan, agar tak ada yang bermental tempe mendoan. Sebab dunia perkuliahan hanya untuk yang bermental baja, kuat dan jauh dari karat. Alangkah bahagianya jika saya diberi esempatan menjadi pengajar di Rumus KSE. Jika diterima mengajar di Rumus KSE, saya siap datang tepat waktu dan berkomitmen bersama teman-teman pengajar lainnya. Sampai jumpa.

?(tulisan ini disertakan untuk pendaftaran pengajar SBMPTN di Rumah Sukses KSE)

  • view 241

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    2 tahun yang lalu.
    Sudah coba mencari beasiswa? Atau jika memang lama di Jakarta, cobalah negosiasi dengan tempat kerja saat ini, agar dapat dibantu mengurus sebagai warga Jakart, karena kabarnya tahun ini warga DKI gratis kuliah oleh Ahok, jadi dana pendapatan kerja bisa dialihkan untuk kos serta keperluan lain selain biaya kuliah...^_

    • Lihat 2 Respon