Percakapan Tunaganda pada Sang Guru

Dwiza Rizqy Utami
Karya Dwiza Rizqy Utami Kategori Puisi
dipublikasikan 10 Februari 2016
Percakapan Tunaganda pada Sang Guru

Puisi: Percakapan Tunaganda pada Sang Guru
Karya Rizki Dwi Utami

Hujan mengajariku memilin-milin, batu mana yang 'kan dijadikan kerikil, debu, lalu tanah
Namun hujan tak mengguruiku merintikhujamkan batu secara menggebu

Lantas gerakan jemariku bertanya, "Mengapa ada hujan deras jika tak mengguruiku menggebu menghujam batu, Guru?"

"Sebab hujan hanyalah hujan, dirimu hanyalah dirimu. Hujan deras punya cara menggebu, namun bukan untuk ditiru," jawabmu seraya menggenggam jemariku, membentuk isyarat untukku

Di sini, rintik gerimis masih mesra membelai kulitku
Semesra kau mengajari jemariku banyak isyarat
Pun selembut kau menuntunku yang tak kenal cahaya secara tersirat
Kau tak kenal lelah juga lengah, seolah kau kuasa selipkan cahaya dan suara pada inderaku

"Aku hanya manusia biasa," kata isyarat yang kerap kau bentuk pada jemariku.

Ah kau selalu berkata begitu
Hah, aku tak pernah percaya
Piring kulempar,
meja kuputar,
dan kau kugampar
Namun kau sama sekali tak membunuhku
Manusia biasakah itu?

Lagi-lagi kau membentuk isyarat di jemariku, "Kita hanyalah kita. Hujan hanyalah hujan. Hujan deras punya cara menggebu, tapi bukan untuk kita tiru."

Cileungsi, 7 Desember 2015

?

(Dipublish di akun twitter PG.PAUD UNJ, sebagai pemenang lomba menulis puisi bertema guru)

  • view 146