Liku-Liku Dakwah di Tempat Pendidikan yang 'Bebas'

Dwiza Rizqy Utami
Karya Dwiza Rizqy Utami Kategori Agama
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Liku-Liku Dakwah di Tempat Pendidikan yang 'Bebas'

Liku-Liku Dakwah di Tempat Pendidikan yang 'Bebas'

Oleh: Rizki Dwi Utami

Secara etimologi Dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti Seruan, Ajakan, atau Panggilan. Seruan yang digunakan dalam Dakwah bertujuan untuk mengajak seseorang baik dalam melakukan sesuatu kegiatan atau dalam merubah pola serta kebiasaan hidup.

Kini, penulis akan menjabarkan tentang dakwah di tempat pendidikan yang 'bebas'. Apa itu? Ya, kampus. Dakwah kampus. Dari pengertian dakwah di atas, dapat diartikan bahwa dakwah kampus adalah menyerukan segi apapun hingga menjadi pola hidup yang lebih baik lagi di kampus.

Tolok ukur keberhasilan dakwah kampus :

1. Target dakwah kampus adalah mengingkari thoghut dan beriman kepada Allah, keluar dari jahiliyah menuju Islam (2:256,257; 14:1), sehingga diperoleh kader-kader yang mumpuni dan memiliki keseimbangan intelektual, moral, dan kepemimpinan.

2. Adanya sinergi yang baik antar lembaga dakwah yang ada di dalamnya. Sinergi antara mahasiswa, dosen, dan karyawan. Sedemikian sehingga kebijakan-kebijakan kampus turut serta menyukseskan agenda dakwah kampus.

Tolok ukur di atas terlihat sedikit jika dilihat dari angkanya, yakni hanya dua. Namun ternyata terdapat banyak hal yang harus disukseskan, dan itu semua adalah problematikanya. Mari kita jabarkan bersama solusi konkritnya:

1. Iman

Iman yang kuat sudah sepatutnya dimiliki oleh muslim dan muslimah. Sebab semua orang Islam adalah da'i yang sudah seharusnya ammar ma'ruf nahi munkar. Sehingga harus DIMULAI DARI memperbaiki DIRI SENDIRI, memperbanyak amal ibadah harian, saling menasihati, jika semua terlaksana InsyaAllah akan seimbang pola hidupnya.

2. Intelektual

Pendidikan adalah solusi setiap perubahan. Pribadi yang maju adalah pribadi yang memprioritaskan pendidikan. Kelompok yang maju adalah kelompok yang memprioritaskan pendidikan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memprioritaskan pendidikan. Namun sayangnya, banyak mahasiswa yang kurang memprioritaskan intelektualnya dengan berdalih kesibukan organisasi, ataupun dakwah. Padahal untuk berdakwah pada zaman ini, sudah sangat berbeda dengan zaman dulu yang sampai tidak terlalu memperhatikan pendidikannya. Kita sekarang telah berada di zamannya kuliah cepet-cepetan lulus, tinggi-tinggian indeks prestasi, banyak-banyakan prestasi. Maka, kalau pendidikan kita saja tertinggal, bagaimana bisa kita menyentuh hati orang lain? Sudah sepatutnya kita menguatkan pernyataan "Jika menempuh pendidikan adalah ibadah, maka berprestasi adalah berkah."

Jadi, seberat apapun amanah kita sebagai mahasiswa yang sekaligus aktivis, sebenarnya lebih berat amanah kita untuk menyetarakannya juga dengan prestasi. Meski demikian, hal yang susah bukanlah hal yang mustahil. Perbanyak membaca buku, perluas wawasan, tingkatkan prestasi, adalah hal yang kongkrit untuk membuat dakwah menjadi lebih indah.

3. Moral

Tantangan moral yang ada di sekitar begitu kental. Kampus adalah tempatnya setiap orang yang beragam ada di sana. Kampus adalah sarangnya tempat pendidikan dengan kebebasan. Tak ada lagi peraturan ketat dari guru, tak ada perhatian khusus dari guru, segala hal ditentukan diri sendiri. Berbagai ideologi bersarang di setiap kepala. Sehinggap pun berdampak pada moral yang juga beragam, bebas, dan buas. Target dakwah yang seperti ini lagi-lagi mulai dari diri sendiri, menokohkan diri dengan moral yang baik, kemudian saling menasihati. Hasil bisa mengubah moral orang lain menjadi baik bukanlah perkara kita sebagai manusia biasa. Cukuplah Allah yang sanggup membolak-balikkan hatinya.

4. Kepemimpinan

Agar dakwah kampus makin indah, selain dari penguatan tarbiyah juga harus dari segi politiknya. Istilahnya, bawah-atas-kiri-kanan kena semua, hingga barisan dakwahnya menjadi rapi. Yang menjadi masalah, banyak aktivis dakwah yang merasa alergi dengan politik, menurutnya politik hanyalah tempatnya orang-orang yang menghalalkan segala cara. Padahal itu adalah pernyataan yang salah besar.

 Jika yang menggerakkan politik itu adalah orang-orang yang tidak kuat imannya, bisa jadi. Namun jika orang yang kuat imannya, InsyaAllah politiknya akan menjadi politik yang sehat. Maka, sudah seharusnya aktivis dakwah meningkatkan jiwa kepemimpinan. Serta yang paling penting adalah meningkatkan kepercayaan diri untuk memimpin. Harus yakin bahwa orang-orang yang mengerti Islam lebih berhak untuk memimpin daripada orang lain yang tidak mengenal Islam dan misinya yang luhur.

Sesungguhnya sejak kita menjadi Muslim, maka sejak saat itulah kita hanya boleh menjadi satu dari tiga macam orang: orang hebat, sangat hebat, atau super hebat. "Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia." (Q.S. Ali Imran [3]: 110)

5. Sinergi antara mahasiswa, dosen dan karyawan.

Sinergi adalah sebuah hal yang sangat indah. Namun sudahkah demikian keadaannya di dalam kampus? Jangankan dengan dosen dan karyawan, bahkan sesama mahasiswa saja masih saja banyak bentrok jika sudah menyinggung masalah ideologi. Sehingga solusinya adalah lagi lagi mulai dari diri sendiri. Menjadi orang yang dapat dicontoh, hebat, sangat hebat, ataupun super hebat. Mulai dari beberapa point di atas: iman, intelektual, moral, dan kepemimpinan. Jika empat point itu terus kita tingkatkan, InsyaAllah kemenangan sinergi itu semakin dekat. Namun kita tak bisa menafikan, bahwa para pelawan juga memiliki banyak misi yang tak terkira sampai mereka akan berkata, "Jangan main-main sama gue,"sehingga kita dibuat lelah. Oke, lelah boleh saja, istirahat sejenak boleh saja, tapi jangan sampai lengah, sebab amanah dakwah terus ada sampai akhir hayat kita.

Begitulah liku-liku dakwah yang ada di kampus. Tempat pendidikan yang 'bebas'. Semoga kita, sebagai mahasiswa Muslim, dapat menyinergikan diri kita dengan lingkungan kampus yang penuh dinamisasi.

 

Sumber referensi:

Buku Beginilah Seharusnya Aktivis Dakwah

http://armaarmi.blogspot.co.id/2011/06/solusi-konkrit-problematika-dakwah.html?m=1

  • view 169