Dahaga Kebangkitan

Dwiza Rizqy Utami
Karya Dwiza Rizqy Utami Kategori Puisi
dipublikasikan 10 Mei 2016
Dahaga Kebangkitan

Dahaga Kebangkitan

Oleh Dwiza Rizqy

Indonesia

Tanah air kecintaan yang bagai dinyalakan lampu disco; membuat mata sekejap terpejam, sekejap terbelalak. Ketenangan terusik di tanah surga sendiri. Ada anak pergi sekolah dengan bahagia, namun sepulangnya tiada nyawa. Ada keluarga yang pernah bahagia dengan ikan-ikan tangkapannya, teduh di rumahnya, namun kini tidur di atas perahu diselimuti dinginnya udara. Ada petani yang pernah bahagia dengan panennya, namun kemudian sawah tertutup semen hingga rata. Ada perkampungan yang bahagia nyenyak di dalam bilik-biliknya, namun kemudian airmata membanjiri saat penggusuran melanda. Ada beberapa kelompok yang terbahak dan saling bermusuhan demi sebuah kursi, obral janji, namun yang dijanjikan jenuh menunggu realisasi. Ada. Ada.

 

Oh Indonesiaku, tanah air kecintaanku.

Kapan kau bangkit?

Ada sekumpulan pemuda yang menyeru idealismenya, namun sekelompok lain mematahkan dengan dalihnya, "Anda masih mahasiswa, wajar idealis. Kalau sudah kerja pasti tahu rasa dengan realita!"

Hai, Bung, bagaimana bisa kita bangkit, jika dipatahkan dari awal? Justru jika sudah merasakan realita, prinsip idealisme harus tetap dijaga. Itulah anak bangsa sejati. Maka, marilah bersatu, kawan. Air mata bangsa ini sudah menganak samudra. Tak sampai hati jika hanya menyimpannya. Lantas bagaimana lagi menyentuh hati jika hanya terus disimpan dalam hati saja?

 

Kini Indonesiaku dahaga dengan action nyata kita. Action tanpa dusta, action berlandaskan pancasila, atas dasar satu nama; cinta.

 

Rawamangun, 8 Mei 2016.

 

  • view 60