KETIKA MEREKA MERINDU

Dina Rizki Amelia
Karya Dina Rizki Amelia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 November 2016
KETIKA MEREKA MERINDU

Ada sebuah cerita dari pengalaman salah seorang temanku dikampus yang ia juga sudah berkeluarga atau sudah menjadi seorang ibu, yang saat ini ia pun jauh darinya anaknya, ia mengatakan bahwa “seorang ibu itu terlalu mahal untuk mengungkapkan rasa rindu kepada anaknya secara langsung atau sekedar mengirimkan pesan ‘anakkku, apa kabar kamu hari ini nak?’,  atau apapun, tidak seperti itu ternayata, ia bercerita bahwa dari kecil  ibunya dulu tidak pernah mengatakan sayang ataupun memberikan pelukan hangat  maupun pujian setelah mendapat nilai bagus dari ibunya, ia merasa bahwa ia selalu di nomer duakan dengan kakanya yang padahal ia adalah anak bungsu, hingga ia besar dan bersekolah diluar kota ibunya tak pernah sekalipun memberikan pesan maupun telepon, saat ayahnya menelponpun ibunya tak mau bicara dengannya, atau  pada saat ayahnya berkunjung tak pernah ibunya ikut datang menjenguknya. Hingga ia dewasa dan ibunya meninggal, kemudian salah seorang temannya mengatakan padanya bahwa dahulu ibunya sering menanyakan kabarnya pada temannya itu, iapun menangis sejadi - jadinya, ibunya yang selama ini ia fikir tak menyanyanginya ternyata lebih besar cintanya. jadi jangan pernah berfikir ibu tak pernah menyanyangi anaknya, dan jangan pernah menganggap kecuekan  ibu menganggap bahwa ia tak sayang  pada kita,  kebanyakan  seorang ibu hanya bisa menangis dalam hatinya kemudian berdoa untuk anak-anaknya, tapi ada juga yang beranni mengungkapnya langsung,  begitu kata salah seorang temanku”. Kemudian saya berfikir, memang betul ketika dengan  yang saya alami sendiri adalah ketiku ibu tiba- tiba  mengirimkan sebuah pesan singkat (sms) dipagi hari atau malam hari "lagi apa" sebuah pesan singkat yang aku terima dari ibuku, yah, sebuah pesan singkat yang ternyata beribu makna, karena menurut temanku, itu sebuah kode dimana ia menunjukan bahwa ibu kita itu sedang merindukan kita, namun entah dia harus berkata apa, atau malu mengungkapkan "ibu rindu padamu nak", padahal tanpa fikir panjang sebuah pesan singkat itupun harusnya kita menyadari, bahwa lewat pesan singkat itu ibu kita sedang merindukan kita, tapi kita sebagai anak kenapa masih malu juga? Atau enggan untuk mengakui perasaan kita, malah yang terjadi ketika kita sms padanya hanya untuk mengatakan "mah, uangnya abis" astaghfirullah, inikah kita sebagai anak?. Mengirimkan sebuah pesan hanya untuk kepentingan pribadi saja.

 

Pada saat kita berada jauh dari rumah seperti kerja atau kuliah diluar kota pernahkah kita menyadari ketika kita pulang kerumah, kemudian apa yang kita lihat dikamar milik kita? kamar kita tetap sama, masih rapih, hanya saja ranjang tempat tidur kita seperti masih dipakai, tidak lusuh dan berdebu, padahal sudah lama kita tinggalkan, otomatis saya bertanya dalam hati siapa yang meniduri tempat tidur kita? Ternayat setelah saya menyelidikinya tiada lain adalah orang tua kita terutama ibu, ketika tengah malam saat ia sedang merindukan kita, mereka bangun dan tidur diranjang kita. subhanAllah saking merindu kepada anaknya, lalu apa lagi? yah lemari kita, saat kita pulang kemudian membuka lemari sudah nampak rapih, siapa yang merapihkan? tiada lain ibu kita yang sudah merapikan baju kita. SubhanAllah, sudahkah kita sekedar mengucapkan terima kasih kepadanya?

Mungkin kita tidak pernah tau apakah esok hari kita masih dapat melihat wajah orang tua kita? belum tentu, karena kita tidak akan pernah tau apakah besok kita masih diberikan kesempatan itu?. Dengan sisa waktu ini apa susahnya meluangkan waktu untuk mereka. Tanpa fikir panjang, aku butuh mereka, mereka lah yang menguatkan aku hingga saat ini untuk menjadi seoarng yang tangguh untuk menghadapi kehidupan yang amat sangat keras ini. Sekedar meluangkan waktu untuk berbicara kepeda mereka tidak akan membuat kita rugi. Ketika kita pulang, orang tua kita terutama ibu pastilah dia akan curhat kepada kita tentang semuanya yang terjadi, disini saya berfikir bahwa selain menjadi seorang anak juga ternyata setelah dewasa ibu akan mempercayai kita sebagai sahabat terbaiknya, kemudian menyiapkan makanan yang kita sukai, lalu kemanapun dan dimanapun kita berada pastilah ia selalu mencari tau apa yang sedang kita lakukan, atau ketika kita dikamar seharianpun pasti ibu akan bolak-balik membuka pintu kamar kita untuk mencari tau apa yang kita lakukan. Kemudian ayah pasti beliau selalu menanyakan bagaimana kuliahmu? Bagaiamana ibadahmu? Bagaiamana tentang amanat yang ayah berikan, sudahkah kamu menjalankannya? Tiada hentinya kau mengkhawatirkaku lebih dari diriku sendiri. Dan masih banyak lagi mungkin Itulah sedikit cerita dari apa yang saya rasakan..

Selagi masih diberikan kesempatan apa susahnya meluangkan waktu kita untuk mereka, beliau yang selalu menyebut nama kita dalam doanya, bahkan tiada lain doa mereka lebih besar dari doa-doa kita, karena curahan cinta mereka adalah didalam sujudnya, bukan dari apa yang mereka berikan.


Bagaimana denganmu?

‪@‎penaDira