Esensi Kehidupan

Rizka Mifta
Karya Rizka Mifta Kategori Inspiratif
dipublikasikan 05 Juni 2018
Esensi Kehidupan

             Kehidupan adalah hak semua orang. Makhluk Tuhan pastinya tidak akan pernah lepas dari kehidupan, semua titik dimulai dari kita mengenal kehidupan sampai pada kita harus tamat menjalaninya. Namun, seringkali kita menyadari banyak dari sebagian mereka yang menganggap kehidupan itu kejam.

              Aku berani berkata demikian, setelah banyak mengamati orang – orang terpukul pada kehidupan yang kemudian mereka anggap kejam. Kebaikan dibalas dengan kejahatan, ketulusan dibalas kekhianatan,pejuangan dibalas ketidakpedulian,atau bahkan kesabaran dibalas kedendaman.

                Bukan mustahil lagi, jika hal tersebut terjadi pada orang yang tak pernah kita duga bisa menjadi bagian kehidupan kejam seseorang. Bahkan, sering kita melihat dua sosok orang yang punya komitmen sehidup semati, namun ceritanya usai sudah padahal mereka telah lama mengikat janji suci.

                Hal itu bisa terjadi karena kehendak Tuhan dengan rencananya yang kita tidak ketahui. Sementara setengahnya lebih karena sifat manusia yang terus berubah tanpa kita sadari. Memang, menjadi seseorang di posisi dimana kamu disakiti atau diperlakukan buruk oleh seseorang mungkin akan mengalami banyak hal yang jadi efeknya tersendiri. Tak segan bahkan seseorang mengalami hancur kehidupannya, cita – cita, masa depan, ataupun jati dirinya sendiri. Miris bukan?

                Mereka seolah – olah terhanyut saja dengan perlakuan seseorang yang buruk padanya. Sampai kehidupannya harus rela ternodai oleh rasa hancur, kekecewaan mendalam, penuh kesedihan, dan rasanya kamu berfikir bahwa hidup ini tidak ada gunanya lagi.

                Sekarang mulai berfikirlah. Sedih, kecewa atas perlakuan seseorang itu wajar. Tapi, apa dengan kamu mengorbankan kehidupanmu atas dasar perlakuan buruk mereka, kamu menjadi lebih baik? Tidak. Hancur? Iya. Mereka bahkan akan dengan segan justru menertawaimu.

                Memang, terkadang kehidupan bisa menjadi begitu kejam. Meski pernah berkali – kali membahagiakan, menghadirkan sekumpulan orang tersayang. Namun, kembali lagi semua itu bisa menjadi lara bagi siapapun yang merasakan. Bahkan, bisa jadi lewat orang yang tak kamu sangka tega melakukan. Bukan menjadi alasan lagi, kehidupan bisa menjadi kejam lalu kita hancur saja setelahnya. Karena pada hakikatnya kehidupan tak selalu indah ataupun buruk.

                Berfikirlah, bahwa tidak akan ada yang abadi tentang kehidupan selain karena kuasa Tuhan semata. Ada orang hidup, ada pula orang mati. Ada orang kaya, ada pula orang miskin. Ada orang pintar, ada pula orang yang bodoh.

                Begitu seterusnya, roda kehidupan tidak akan berhenti hanya karena kamu telah sampai titik kejayaan dimana rasa puasmu telah terpenuhi dan tinggal menikmati dunia yang penuh ambisi. Pikiran tidak akan mungkin sesempit itu, karena bisa saja Tuhan membalikkan titik kejayaanmu menjadi saat – saat dimana kamu hanya bisa menikmati kesengsaraan yang wajar terjadi.

                Yang harus kamu lakukan dengan keadaan hidup yang berubah sesuai masanya adalah dengan siap oleh hal apapun. Siap untuk miskin, siap untuk jatuh hancur tersakiti, sekalipun harus siap untuk mati. Karena, disitu kamu sadar tidak akan ada yang selamanya abadi. Tidak ada.

                Dengan begitu, kamu akan menyadari pentingnya merubah apa yang disebut kesalahan di masa kelam. Bukannya lagi berfikir untuk menghancurkan apa yang sudah kamu rawat sejak dari titik nol. Memperbaki kesalahan itu lebih baik dari pada harus memulai lagi sejak kamu mengerti apa itu kehidupan.

                Tidak ada yang santai – santai saja pada kehidupan. Bahkan, hewan kecil yang kamu anggap remeh sekalipun, punya cara tersendiri bagi mereka menata kehidupan yang tak bisa mereka anggap santai. Misalnya saja kita ibaratkan hewan itu semut kecil yang setiap harinya membangun rumah hanya dengan tanah ataupun dedaunan. Apa mereka membangunnya dengan tidur – tiduran santai saja dan menunggu Tuhan menolong mereka? Tidak.

                Mereka hidup mandiri dan berjuang sendiri karena mereka tau kehidupan tetap harus dijalani bagaimanapun kondisinya. Sekalipun tidak kapok pada rumah yang mereka buat dari tanah dan dedaunan sering roboh saat hujan, diterpa angin, ataupun ulah manusia. Namun, kehidupan itu justru menguatkan mereka untuk tak hentinya berjuang atas apa yang telah ada. Kita belajar dari semut, tentang satu poin lain tentang kehidupan yaitu berjuang.

                Berjuang itu tidak terhenti hanya karena kamu tidak lagi punya kebahagiaan, seseorang tersayang, atau alasan masuk akal lainnya. Berjuang itu terus sampai kamu benar – benar tamat pada titik dimana kamu hanya bisa tergeletak lemah, menamatkan doa – doa, dan menunggu terpejam mata untuk selamanya.

                Percayalah, apa yang sedang kamu lakukan itu akan ada balasannya kelak. Entah dalam bentuk apapun itu, sadar maupun tidak sadar. Dan bagi mereka yang pernah memperlakukan buruk padamu, percayalah Tuhan punya segi rencana yang bisa membalaskan apa yang mereka pernah perbuat. Karena selalu ada karma di setiap tindakan dan ada hikmah di setiap perjalanan.

                Jangan selalu beranggapan bahwa kehidupan itu kejam, karena pada hakikatnya kehidupan adalah anugrah Tuhan yang harusnya kita syukuri setiap detik masanya. Kehidupan ada untuk menjadikan kita kuat oleh hal apapun dan satu hal tentang rasa syukur, Tuhan masih memberi kita kehidupan lebih baik yang terkadang kita sering lupa pada hal – hal kecil seperti masih diberi nafas, nyawa, tawa, ataupun yang lainnya. Tidak ada yang salah tentang kehidupan, semua ada balasan dan ada bagiannya sendiri.

                Dan pada akhirnya kamu hanya perlu berjuang dan bersyukur meski seperti apapun kedaanmu saat ini. Jadikan kenyataan pahit sebagai bentuk apa yang selalu kita tidak hentinya syukuri dan semangat juang lebih tinggi. Kenyataan pahit bukan untuk menghancurkan kehidupan tetapi untuk memperbaiki apa itu kesalahan, lalu menjadikannya cerita perjalanan yang menggembirakan. Jangan takut untuk melangkah karena dirimu sendirilah yang akan menentukan langkah pengabdian. Tetap menjadi baik untuk siapapun, karena semua orang berhak atas kebahagiaan.

Harap memahami.

Sebelum mengomentari

Terimakasih.


Bisa kunjungi blog saya : rizkamifta.blogspot.com

  • view 34