Menunggu Hujan di Tengah Musim Panas

Rizam Muhammad Firmansyah
Karya Rizam Muhammad Firmansyah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Juli 2016
Menunggu Hujan di Tengah Musim Panas

Terik panas matahari, menyengat tubuhku hingga ke tulang. Membuat banyak tanaman muda mati layu kehausan. Seperti suasana hati ini yang telah lelah dan pasrah terhadap apa yang kuhadapi,kau yang lama ku nanti tak kunjung memenuhi janjimu dulu. Janji manis yang membuat diriku setia akan apa yang kau ucapakan dulu, jiwa ini terbelenggu. Banyak insan yang sudah ku tolak demi mempertahankan rasa ini agar tetap bertahtahkan namamu. Masih ingatkah kau saat musim dingin saat itu? Saat kita satu meja menikmati hangatnya coklat swiss saat itu? Itu kenangan terakhirku bersama Alex. Sudah tidak terasa 3 tahun berlalu dengan cepat. Sekarang sudah genap usia hubungan kita yang ke 6 tahun sejak 11 juni 2010 yang lalu. Ku merindukan setiap canda tawanya, senyumnya, dan setiap patah katanya. Kenapa yang tertinggal hanya janji belaka yang tak pasti dan bodohnya aku selalu mengingat namamu di otakku.

“Entah mantra apa yang kau berikan padaku, hingga setiap orang mendekat padaku tak bisa menggantikan posisimu?” hanya itu yang bisa ku sesali sekarang. Banyak orang yang menyayangiku tapi aku hanya menganggap mereka sebatas teman, tidak lebih. Karena aku yakin kesetiaanku tidak akan sia-sia. Aku tahu Tuhan telah merencanakan yang terbaik untukku di akhirnya, aku percaya tuhan Maha Adil.Musim gugur telah tiba panorama alam yang menajubkan sudah menjadi tontonan yang menjadikan daya tarik tersendiri di setiap tempat. Di sekitar rumahku, sudah menjadi destinasi wisatawan lokal maupun mancannegara yang akan berkunjung ke sini. City of Love, begitulah julukan tempat tinggalku yang telah terkenal hampir di setiap negara di dunia. Tapi bagiku, hal itu tidak terbukti karena Alex tidak kunjung datang untuk segera melamarku seperti janjinya 5 tahun silam sejak musim dingin saat itu.

Ku habiskan waktu dengan bekerja menjadi pramusaji di berbagai cafe, karena dengan hal ini lah aku bisa sedikit demi sedikit melupakan tentang dirimu yang hanya bisa memberiku janji  manis yang hampa. “Oh Alex, mengapa kau melakukan hal ini kepadaku?! Aku rindu dirimu, kumohon kembalilah!” setiap aku pulang dari pekerjaanku aku selalu mengingat Alex, Alex dan Alex lagi. Padahal aku sudah bersikeras untuk melupakan lelaki tak berprasaan itu yang telah tega membunuh jiwa ini secara perlahan-lahan. Hanya Tuhan yang bisa membantuku melewati semua ujian ini, aku berserah diri kepada-Nya. Karena-Dia lah yang mengerti apa yang harus kulakukan kedepannya nanti. Tapi dalam lubuk hati kecil ini masih terukir nama Alex yang sangat sulit aku hapus begitu saja, dia yang telah memberiku arti cinta yang sesungguhnya dan dia lah yang telah memberiku luka hati yang sesungguhnya.

Musim Panas telah datang dan liburan sudah datang, tapi Alex tak kunjung datang. Aku hanya bisa tertawa dibawah terik panas matahari di pantai ini tanpa ada hadirnya Alex sang pemilik tahta hati ini. Di pantai inilah aku pertama kali mengenal sosok Alex yang begitu ramah di mataku. Dia sosok yang memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap sesama, dia tidak membedakan orang melalui apapun, menurutnya semua manusia itu sama di hadapan Tuhan. Itu yang aku suka dari sosok seseorang lelaki yang bernama Alex. Tapi hal itu sekarang tidak akan terjadi lagi, semua perkataan dia yang selalu membimbingku menuju jalan yang benar dan lurus serta agar selalu mengingat Tuhan Yang Maha Esa.

Ku langkahkan kaki ku menjauhi pantai ini yang bertaburkan sejuta kenangan yang indah bersamanya. Sampai pada saatnya aku merasakan jatuh yang sedalam-dalamnya, ku coba hubungi dia tetapi hasilny nihil Alex tetap saja sangat susah untuk di hubungi. Entah apa yang terjadi terhadap dia di sana, tetapi aku akan tetap setia menunggunya di sini hingga dia datang menjemputku dan akhirnya melamarku. Mungkin hal itu sangat tidak mungkin, bagaimana tidak? Lelaki yang kuharapkan saja tidak pernah menghiraukan diriku lagi, bagaimana bisa melamarku?.

“Hujan di tengah musim panas. Aku berharap ada hujan di musim ini Tuhan”

“Sudah cukup kesedihanku, cukup sampai ini saja. AKU AKAN MELUPAKAN ALEX!”

Setelah mengadu kepada Tuhan ku segerakan diriku menuju kamarku.

“Aku ingin istirahat dan melupakan masalah ini sejenak Tuhan”

Setelah kubangun keesokan harinyan ku mendengar suara gemuruh awan yang sangat dahsyat. Awan bergeliat pergi, digantikan hujan deras termuntahkan dari mulut angkasa raya. Seketika, bumi pun basah. Tuhan mengabulkan hal ini, “Terima kasih tuhan, engkau telah mengabulkan do’a hamba. Mungkin dengan inilah kenangan-kenangan yang indah bersama Alex bisa tersapu bersih berkat turunya hujan ini. Amin”

Hujan ini berjalan cukup lama hingga menjadikan sungai-sungai kecil di sekitar rumahku mengalir lagi dengan lancar. Dan secara mengejutkan ku melihat lelaki yang mirip dengan Alex melewati depan rumahku, ku berlari menuruni anak tangga rumah untuk keluar dan melihat apakah benar lelaki tersebut adalah Alex atau bukan. Ternyata bukan, dia bukan Alex lelaki yang selama ini aku tunggu dengan setia dan sabar. Lalu aku mendengar suara seseorang yang tak asing di telingaku di tengah hujan deras ini, dialah Alex, lelaki yang selama ini kutunggu-tunggu.

 

 

“Luna, ini aku Alex. Apakah kau masih mengingatku?”

“Alex?! Kenapa kau kembali lagi dalam hidupku?! Sudah cukup kau menyakitiku selama 6    tahun ini aku mohoh engkau pergi dari hadapanku, sekaran g!”

“Aku memang salah Luna. Aku membiarkanmu berharap padaku yang sekarang sudah berkeluarga ini untuk mengisi hatimu yang lama tidak terhuni lagi”

“Apa? Kamu sudah berkeluarga Alex? Oh, itu kabar yang bagus Alex, bagaimanakah rupa istrimu itu? Yang sudah sangat beruntung mendapatkan lelaki yang sangat baik sepertimu ini?” Ujarku dengan senyuman yang sangat menyayat hati.

“Dia Alice, perempuan yang sengaja di jodohkan denganku selama aku meninggalkanmu ke Jerman 5 tahun yang lalu” Kata Alex dengan nada yang pelan dan merasa menyesal.

“Baguslah, kamu sudah bekeluarga Alex. Sekarang kamu akan menjadi seorang ayah dan suami yang baik di keluargamu itu, mulai sekarang aku akan melupakan dan menganggap bahwa Alex yang dulu aku kenal kini telah tiada untuk selamanya”

“Aku sangat menyesal dengan yang selama ini terjadi Luna, aku minta maaf dengan segenap jiwa dan ragaku” Saut Alex secara spontan kepadaku.

“Sudah cukup Alex, kembalilah kamu kepada keluargamu dan lupakanlah aku, karena sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Dan semua berakhir cukup sampai disini”

Aku langsung lari menjauhi Alex begitu saja di bawah hujan di musim panas ini. Dan tuhan telah menunjukkan jalan takdir yang terbaik untukku. Yaitu aku harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang selama ini aku perjuangkan dengan segenap jiwa dan ragaku kini telah menikah dengan perempuan lain.

 

  • view 198