RINTIHAN DI WC SEKOLAH

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Februari 2016
RINTIHAN DI WC SEKOLAH

Kala itu hari dimana libur akan tiba, aku selaku anggota OSIS di Suatu sekolah Menengah Pertama Negeri di Bandung, sedang melakukan persiapan Ospek untuk Siswa/siswi baru yang akan datang. Seusai pulang sekolah, kami para anggota OSIS mengadakan rapat untuk mengenai hal tersebut di ruang kepala sekolah yang berada di lantai atas. Kami sangat serius membicarakan tentang segala hal persiapan ospek, mulai dari acara-acara, waktu kegiatan, tempat kegiatan dan lain sebagainya. Bahkan kami sampai lupa waktu, dan langit pun mulai terlihat agak gelap -tanda menunjukkan waktu sore hari.

?

?Hey, udahan yuk! udah mulai sore nih.? Ucapku kepada teman-teman yang masih sibuk mengurus semua catatan-catatan mengenai ide-ide acara ospek.


?Aduh ini kan belum selesai, kita kan masih banyak yang harus diurusin untuk persiapannya.? Bilang Sani sang ketua osis.


?Yah besok aja kali!? Seruku dengan nada tak sabar ingin cepat-cepat pulang.


?Heh, besok udah gak ada waktu buat ngerencanain, karena besok kita harus beli semua bahan acara ospeknya, belum juga yang lainnya yang masih berantakan, entar kalau Kepsek tahu, kita semua yang bakalan diomelin.? Sani menjelaskan dengan sedikit kesal.

?

Mendengar itu aku hanya bisa terdiam, memang benar sudah tak ada waktu lagi, karena waktu untuk persiapan ospek tinggal 2 hari lagi. Ya kami tahu, kami terlalu mendadak untuk merencanakan persiapan acara ospek ini, itu karena kami terlalu sibuk dengan urusan masing-masing untuk saat hari-hari liburan nanti, oleh karena itu kami harus menyelesaikannya dengan sangat cepat.

?

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba aku merasa ingin buang air kecil, tanpa membuang waktu aku langsung menuju WC guru, namun pada saat baru akan memegang gagang pintu WC tersebut, Sani tiba-tiba memanggil.

?Woy, mau ngapain??


?Ya mau kencing lah, masa mau masak!? Jawabku dengan nada sedikit menyindir.


?Pintunya dikunci, kalau kencing pake WC murid aja.?


?Yah itu kan jauh.?


?Ya Derita lo.?

?

Karena sudah tak tahan, aku pun langsung turun. Namun karena melihat jalan menuju WC murid yang gelap dan minim cahaya, aku pun kembali ke atas dan meminta Akbar temanku untuk mengantarku ke WC tersebut.

?

?Bar, anterin gue ke WC yuk!? Pintaku pada Akbar yang sedang duduk sambil memakan cemilan.


?Ayo, ini kayaknya juga gue pengen kencing nih.?


?Ya udah ayo.?


?Bentar dulu gue ngambil dulu hp gue, kayaknya ada yang nelepon.?


?Ya udah cepetan, gue tunggu di luar.?

?

Aku pun menunggu di luar ruang kepala sekolah, beberapa saat kemudian, karena sudah tak sabar ingin buang air kecil, aku pun memanggil Akbar, ?Bar cepatan! udah gak nahan nih.? Ucapku sambil bergelihat-gelihat menahan buang air kencing. Namun pada saat melihat ke lantai bawah, terlihat Akbar sedang berjalan, akhirnya aku pun menyusul dia. Aku langsung menarik tangannya tanpa basa-basi, ?Bar, cepettt nih gue udah gak tahan!?

?

Aku pun sedikit berlari menuju WC sambil menarik tangan Akbar. Setibanya di WC aku langsung buang air kecil di sana, WC itu sangat lebih minim cahaya, dan sebagian keadaan WC malah gelap gulita. Pada saat buang air kecil tiba-tiba terdengar suara seorang wanita menangis, ?Bar lo jangan bercanda dong! ini kan udah mulai maghrib, didatengin yang aslinya baru tahu rasa lo!!? Ucapku dengan nada jengkel pada Akbar yang memang terkadang jahil.

?

Namun suara itu tak berhenti, malah semakin keras dan merintih seperti seorang yang sedang kesakitan. Suara itu terdengar dari arah ruang WC khusus untuk buang air besar, namun aku hanya melihat sedikit pintu yang terbuka saja karena minimnya cahaya. Aku selesai buang air kecil, akan tetapi Akbar tidak kunjung berhenti membuat suara-suara itu. Akhirnya aku merasa kesal dan langsung meneriakinya.

?

?Bar!! kurang ajar Lo! Cepetan Balik!? Namun seketika itu juga pintu tempat terdengarnya suara aneh itu langsung terbanting sangat keras, bahkan diriku sampai terjatuh karena kaget oleh suara bantingan pintu itu. ?Bar ?? Ucapku pelan memanggil Akbar ke arah pintu itu.

?

Dan saat itu juga pintu langsung terbuka dengan sangat keras, aku langsung menggunakan Handphone untuk menerangi ruang WC itu, namun.. ternyata tidak ada siapa pun di WC itu. Aku langsung berlari ke luar WC, dan terus berlari dengan sekuat tenaga menuju ruangan Kepsek yang dipakai rapat. Aku hanya berlari tanpa berteriak karena sangat amat ketakutan. Setibanya di ruangan itu, aku sangat terkejut, karena ternyata.. Akbar terlihat sedang duduk di sofa dan dia langsung bilang, ?Zal, lo kenapa ke WC-nya nggak bareng sih? gue kan takut kalau sendirian.?

?

Itu berartii.. Akbar tidak mengantarku ke WC dan.. Lalu siapa orang yang aku tarik tangannya?!

?

Sani, Akbar dan yang lainnya terlihat sudah bersiap-siap untuk pulang, sedangkan aku masih memikirkan kejadian tadi, namun masih belum bisa bilang kepada yang lainnya karena masih ketakutan akan hal tersebut. Bahkan saat perjalanan pulang, Akbar bertanya, ?Zal kenapa sih diem mulu dari tadi??
Aku hanya terdiam tanpa kata. Akhirnya pada keesokan harinya, aku menceritakan kejadian tersebut pada Sani, Akbar dan yang lainnya. ?Serius lo Zal?? Tanya Sani dengan serius setelah aku menceritakan dengan sedemikian serius tak seperti biasanya.

?

?sebenernya sih aku juga dibilangin kata Pak Rohim penjaga sekolah kita, katanya kalau misalnya udah mau maghrib tapi belum selesai rapatnya, mending udahin dulu aja rapatnya, terus kalau mau buang air mending pake WC guru aja, kuncinya ada di laci. Kalau misalnya udah waktunya bener-bener maghrib jangan bercanda sembarangan apalagi kalau ngomong gak sopan! Aku pikir si Bapak cuman mau nakutin doang.? Bilang Sani dengan nada sedikit takut.