DERAI AIR MATA UNTUK SANG IBU

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
DERAI AIR MATA UNTUK SANG IBU

Di sebuah rumah, tinggal seorang anak muda bersama Ibunya. Hari masih dalam keadaan pagi. Anak tersebut buru-buru ingin sampai ke Sekolah, alasannya bukan karena giat atau rajin, itu karena ia ingin mempunyai waktu untuk berpacaran.

?Bu aku berangkat? kata si Anak berjalan menuju pintu.
?Nak, bisakah kamu mengantarkan beras itu ke pasar terlebih dahulu sebelum ke Sekolah?? minta Ibunya sambil menunjuk sebuah karung besar berisi beras.
?Apaan sih Bu, udah mau berangkat juga. Entar telat gimana?? Dengan nada sedikit kesal anak muda itu menjawab.
?Sebentar saja Nak? Sang Ibu memelas.
?Ya ampun Bu, kenapa gak sama Ibu sendiri sih??
?Kaki Ibu tiba-tiba sakit.?
?Ya udah nyuruh orang lain aja kali ah, udah aku berangkat daripada telat? Anak muda itu pun pergi.

Seperti biasanya anak ini berpacaran setiap pagi sebelum masuk pelajaran di Sekolah, sampai pada waktu mulai sore hari. Anak ini berjalan pulang ke rumahnya, seperti biasa ia melewati rute melewati pasar. ?Kok rame gitu?? Si anak ini berjalan mendekati kerumunan pasar yang tidak seperti biasanya tersebut, dan melihat apa yang terjadi.
?lihatin apaan sih? Gak ada apa-apa.? Ternyata tidak ada apa-apa, hanya terlihat bercak darah sedikit saja, karena penasaran si anak ini bertanya kepada seorang pedagang permen di sebelahnya.

?Ada apa sih Pak??
?Tadi ada kecelakaan.?
?Bapak lihat??
?Sangat jelas Nak, kejadiannya tepat di depan mata Bapak?
?Boleh tahu gak Pak??
?Jadi ada seorang Ibu, lagi bawa sekarung beras gitu. Kasihan. Bapak tadinya mau ngedatengin itu Ibu, tapi tiba-tiba Ibu itu jalannya goyah. Terus jatuh tersungkur, sialnya lagi banyak kendaraan motor. Kepala Ibu itu. Ah udahlah Bapak juga nangis lihatnya? Sang Pedagang meneteskan air mata.
?Oke Makasih Pak? Anak muda itu langsung berlari menuju rumah.

Dari kejauhan sudah terlihat rumahnya ramai dengan orang-orang, ia sudah tahu. Ia mengerti. Apa yang terjadi. Yang hanya bisa ia lakukan adalah berharap bahwa keramaian itu adalah sebuah acara menyenangkan, bukan seperti apa yang ia kira. Semakin mendekat, langkah kaki anak ini semakin melemah. Semakin tidak berdaya, seolah semua energinya tersedot oleh pikirannya sendiri. Langkah demi langkah membuat air matanya bertetesan satu per satu, semakin mendekati pintu rumah. Semakin ia tidak bisa berkedip. Semakin ia tidak bisa menyangkal dengan apa yang ia gambarkan dalam imajinasinya.

Tentu saja pintu rumah tersebut tidak ditutup karena banyaknya orang di sana yang keluar-masuk. Anak ini pun langsung memasuki rumah, tak menghiraukan tatapan kasihan dan iba yang orang lain pancarkan kepada dirinya. Memang persis seperti apa yang ia pikirkan, terlihat seorang wanita yang terbaring dengan kain putih menutupi setengah badannya, anak ini tahu. Bahwa itu adalah Ibunya. ?Ibuu..? Sang Anak menangis.

Seketika itu juga, semua kenangan atas sang Ibu mengalir deras dalam pikirannya. Mulai dari kenangan pertama kali masuk taman kanak-kanak yang setiap hari sang Ibu antar dan temani, kenangan dimana sang Ibu menangis jika anak ini dipukul oleh Ayahnya. Dan ketika Ayahnya meninggal, anak ini menyalahkan kematian tersebut kepada sang Ibu, melampiaskan semua emosinya kepadanya. Sang Ibu tahu apa yang anak ini rasakan, makanya ia selalu menerima apa yang anak ini lontarkan.

Namun kejadian sebenarnya, Sang Ibu pun merasakan kepedihan yang amat luar biasa, bahkan setiap malam sebelum 40 hari ayah anak ini meninggal, Ibu selalu menangis. Namun kembali kepada rasa sayangnya kepada si anak, ia menutupi semuanya. Meski pada akhirnya si anak tidak menyadarinya, malah kenangan terakhir yang anak ini ciptakan kepada sang Ibu hanyalah kepedihan. Tidak ada jalan lagi bagi anak ini untuk bisa mengembalikkan sang Ibu ke dunia. Derai air mata itu pun percuma, hanya suatu reaksi penyesalan akan rangkaian kenangan bersama ibunya.

  • view 225