WILD ZONE

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 20 Februari 2016
WILD ZONE

Sebuah kecelakaan pesawat terjadi pada 4 bulan lalu, pesawat udara berpenumpang 42 orang terjatuh di sebuah pulau kecil yang sangat terpencil, pesawat jatuh setelah mengalami kerusakan pada mesin di saat pesawat berada di udara. Yang selamat hanya 2 orang, yaitu seorang pemuda berumur 17 tahun bernama Akbar dan seorang pria berumur 37 tahun bernama Dodi. Selama hidupnya, mereka hanya bisa bertahan dengan mengonsumsi makanan yang ada di pesawat, entah itu makanan dari suplai pihak pesawat, maupun dari kantong dan barang bawaan penumpang lainnya.

Namun sebenarnya persediaan dari semua hal yang ada di pesawat hanya cukup untuk 2 bulan saja, bahkan itu sudah dengan cara yang seirit mungkin. Dan pada akhirnya Akbar dan Dodi mulai mencari makanan yang ada di sekitar pulau. Tanaman demi tanaman telah ditelan, binatang demi binatang telah diburu, akan tetapi semua ini justru malah membuat mereka berfoya-foya.

Setiap malam mereka memanggang 3 ekor binatang, menu malam mereka selalu berganti, mulai dari monyet rusa, biayawak, burung, sampai serangga. Tubuh mereka mulai menggemuk kembali, bahkan sudah membentuk lipatan-lipatan dalam tubuh mereka. Dan tidak sadar, tubuh mereka ini mulai berefek buruk pada mereka. Kelincahan dan kecepatan gerak dari badan Akbar dan Doni mulai menurun, ini justru hanya akan mempersulit mereka untuk berburu hewan yang ada di pulau.

?Bar, sekarang giliran kamu untuk berburu, cepat sana!? Dodi memerintah.
?Ah .. Males ah!? Akbar membantah.
?Heh saya laper banget, dan hari ini adalah harinya kamu untuk berburu!?
Mendengar celoteh Dodi yang berisik, Akbar mulai bangun dengan tubuh yang lumayan gempalnya, ?Iya deh.?

Setelah berjam-jam Akbar pergi, ia belum juga kembali membawa hasil buruannya. Dodi semakin kesal dan marah, rasa lapar dalam dirinya membuat ia geregetan. Dodi pun bangun dari tidurnya dan langsung mencari Akbar. Tak lama Dodi menemukan Akbar yang sedang berjalan, ?Heh mana buruannya? Aku sangat lapar!?
?Belum ketemu, akhir-akhir ini hewan-hewan di sini semakin menipis.? Akbar menjelaskan dengan nada yang lemas.

Tiba-tiba mata mereka tertuju pada sebuah semak belukar yang ada di depannya, mereka melihat sebuah tanduk kecil yang muncul. Mereka sengaja mematungkan diri mereka agar makhluk itu tidak lari. Setelah makhluk itu ke luar, ternyata itu adalah seekor rusa. Semakin lama semakin mendekat, namun tak disangka perut buncit Dodi mengeluarkan suara gemuruh yang amat keras, sehingga membuat si rusa terkejut dan menegakkan kepalanya. Melihat reaksi tersebut, Akbar langsung berlari dan mencoba menangkap rusa itu, tak lupa Dodi yang mengikuti untuk mengejar. Akan tetapi, dengan bentuk badan yang mempersulit mereka, rusa itu hilang, pergi masuk ke sebuah hutan lebih dalam. Akbar dan Dodi kehilangan jejak rusa itu.

?Kamu sih tidak bisa menangkapnya!!? Dodi marah besar.
?Hah? Harusnya ini gara-gara perut kamu yang berisik!! Rusa itu jadi kabur!!? Tak kalah Akbar membentak.

Akbar pun memalingkan wajahnya, melihat kembali hutan di mana rusa itu masuk. Dodi geram, tangannya dikepal dengan mantap, seperti menahan sesuatu. Nafsu lapar Dodi semakin menjadi setelah mengetahui rusa itu pergi, ia tak tahu harus makan apalagi, karena ia yakin tak akan bisa memburu lagi hewan-hewan yang ada di sana, di samping karena mulai punahnya hewan di pulau tersebut, Dodi yakin ia tak bisa berburu dengan keadaan badannya itu. Tatapan tajam tertuju pada Akbar. Amarah, kesal, dan lapar membuat Dodi gelap mata. Ia pun langsung mengambil sebuah batu yang berukuran dua kali lipat dari kepalan tangannya.

Brukk!!

Akbar langsung terkujur tak berdaya setelah dihantam batu pada kepalanya. Tak ada rasa bersalah, tak ada rasa berdosa, setelah Dodi melakukan itu kepada Akbar. Melihat Akbar masih bisa bernapas, Dodi menghantamkan kembali batu itu kepada Akbar. Tak ada denyut jantung lagi pada diri Akbar pada saat Dodi mengecek denyut dari nadi yang ada di tangan Akbar. Dodi yakin Akbar telah mati, ia pun langsung menyeret Akbar, membawanya pada suatu tempat.

?Sekarang aku tahu, apa yang akan aku makan nanti malam.? Ucap Dodi sambil tersenyum puas.