INGAT ALAS LUPA KAKI

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Februari 2016
INGAT ALAS LUPA KAKI

?Koran. koran..? Suara Jale yang tiap hari lantang terdengar di sepanjang jalan perempatan yang penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Tentu saja bukan karena keinginannya Jale seperti itu, namun apa boleh buat, Ayahnya yang hanya seorang buruh serabutan, tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup yang semestinya.

Lampu merah di seberang jalan telah menyala, tanda waktu kerja Jale telah dimulai. Telapak kaki yang lusuh karena tak menggunakan alas, selalu sigap melangkah untuk menawarkan koran kepada setiap kendaraan yang berhenti. Pada setiap pagi harinya, selalu saja ada satu mobil yang Jale tunggu. Mobil sedan berwarna hitam dengan kaca penuh stiker bertulis arab dan berbau religi, merupakan sebuah kendaraan yang mempunyai ciri tersendiri bagi Jale. Karena selain pelanggan tetap korannya, di dalam mobil tersebut terdapat seorang anak laki-laki yang duduk di jok belakang, yang akan mengambil korannya.

Anak laki-laki seumuran dengan pakaian yang selalu bagus, rambut rapi dan bersih. Sangat bertolak belakang dengan Jale. Jale selalu iri dengan anak itu, kapan dirinya seperti itu. Akankah ia bisa? Hari tiba menjelang sore, kini waktunya ia pulang dan beristirahat setelah seharian menjajakkan koran yang kini tinggal beberapa buah saja. Sesampainya di rumah, ayahnya tiba-tiba datang dengan raut senyum seperti biasanya, ?Jale. Ayo kita makan bersama? Ucapnya sembari merangkul anaknya.

?Nak, kamu besok ulang tahun. Kamu mau apa? Biar ayah belikan? Ucap sang ayah yang mengejutkan Jale, karena Jale sendiri tidak ingat bahwa besok adalah hari ulang tahunnya.


Mendengar itu, Jale teringat akan sehari-harinya yang selalu berjalan ke sana ke mari tanpa alas kaki, ?Aku pengen sepatu yah? Pinta Jale.


?Iya. Doa kan saja semoga besok Ayah mendapat rezeki lebih.? Seakan ada sebuah harapan, Jale sangat bersemangat untuk cepat-cepat masuk ke hari esok, ingin cepat-cepat memakai sepatunya.

Waktunya ayam mulai berkokok, dengan setumpuk koran yang sudah siap dijajakkan, Jale pun pamit kepada ayahnya. Sepanjang jalan menuju tempat kerjanya, Jale hanya memikirkan akan sepatu baru yang akan ia dapatkan, semakin ia membayangkannya, semakin ia bersemangat untuk menyibukkan dirinya agar waktu berjalan dengan cepat.


?Korannya pak? Koran.. koran!? Layaknya sebuah lirik dalam lagu, yang selalu Jale teriakan dengan irama yang sama. Langkah demi langkah.. Kendaraan demi kendaraan disusuri demi korannya bisa laku dan bertukar menjadi pecahan rupiah.

Sampai pada akhirnya Jale bertemu lagi dengan sebuah mobil sedan langganannya, ?Korannya?? Jale menawarkan koran. Namun ada yang berbeda pada cara penjualan Jale saat itu, yaitu Jale menawarkan dengan memasang raut muka senyum ceria, tak seperti biasanya. Anak laki-laki itu sedikit keheranan, namun ia tetap mengambil koran tersebut. Setelah ia memberikan uang kepada Jale, untuk pertama kalinya Jale memberikan sapaan hangat, melambaikan tangan sembari mengucap, ?Terima kasih.? Anak itu hanya terdiam, lalu menutup kaca mobilnya dan pergi meninggalkan Jale.

Seperti sore biasanya, Jale mulai bergegas pulang untuk melemaskan otot-otot kakinya di rumah, selain itu ada hal lain yang ia nantikan. Sepatu barunya. Sesampainya di rumah ia langsung memanggil ayahnya, ?Ayaah.? Namun tak ada jawaban. Jale lalu duduk di tempat tidurnya, niat menunggu ayahnya pulang, Jale melihat ada satu buah kotak mencurigakan tergeletak di meja dapur. Dengan rasa penasaran yang amat sangat, ia mendekat pada benda itu, terdapat sebuah catatan kecil dari Ayahnya.

?Jale ini hadiah ulang tahunmu. Selamat Ulang Tahun Nak! Ayah tak akan pulang dulu karena ada kerjaan, kamu jaga diri di rumah. Besok siang Ayah pulang? Jale membaca surat itu dalam hatinya.

Dibukalah kotak itu dan.. Sepasang sepatu yang terlihat sudah usang dan sobek sana-sini tersimpan di kotak tersebut. Ada rasa senang sekaligus kecewa yang Jale dapatkan, karena di satu sisi Jale senang karena akhirnya ia mendapatkan sepatu baru, namun di sisi lain Jale kecewa karena sepatu yang ia dapatkan, tidak sesuai dengan harapannya. Hatinya kembali bimbang, merebahlah dirinya pada sebuah kasur yang selalu ia tiduri. Tak ingin ia memikirkan hal yang aneh, Jale memejamkan matanya dan langsung tertidur.

Keesokan harinya, Jale masih berangkat berjualan koran, akan tetapi di hari itu, ada sepasang sepatu yang melekat di kedua kakinya. Meski nyatanya terasa tidak nyaman, Jale tetap pergi. Di tempat pangkalan kerjanya, entah kenapa Jale terus memikirkan hal tadi, ?Kenapa sih cuman bisa dapet sepatu butut kayak gini?? Teriak Jale dalam hati. Seperti ada sebuah gejolak amarah yang ke luar dalam dirinya, Jale menangis, dan untuk pertama kalinya ia berhenti untuk menjual koran.

Sambil terus menangis, Jale mengumpat kepada Tuhan, ?Kenapa saya begitu menyedihkan Tuhan? Mengapa saya begitu sulit untuk bahagia? Bahkan kamu tak memberikanku sepasang sepatu yang layak!? Tanpa ragu Jale berteriak di sepanjang jalan. Sampai ia berada di sebuah taman, karena lelah setelah berjalan ke sana ke mari tak jelas, Jale pun duduk di sebuah bangku kayu yang berada di dekat danau kecil. Entah karena terus memikirkan masalah itu, Jale tak menyadari bahwa di sampingnya ada seseorang.

Tanpa sengaja Jale menengok ke arah orang tersebut, ternyata orang tersebut adalah sosok anak laki-laki yang selalu duduk di kendaraan mobil sedan hitam, yang selalu menjadi pelanggan korannya. Anak laki-laki itu tersenyum sambil melambaikan tangan, ?Hai.? Sapa anak tersebut. Jale hanya terdiam, tak menggubrisnya sama sekali. Seolah harinya sudah cukup kacau untuk merasa senang dan membalas sapa?an orang lain. Bahkan ia merasa lebih kecewa, ?Tuhan! Mengapa aku tidak bisa menjadi seperti dia?! Mengapa aku tak bisa berpakaian dan mempunyai sepatu sebagus dia?! KENAPA?!? Protes Jale dalam hati.

Tiba-tiba datang seorang nenek-nenek mendorong kursi roda yang kosong, lalu nenek itu berhenti di depan mereka berdua. Anak laki-laki itu mencolek pundak Jale, ?Hai kawan. Aku pergi duluan.? Jale tertegun, kaget bukan main, melihat anak laki-laki itu duduk di kursi roda tersebut, dibantu si nenek tadi. Dan tak henti-hentinya Jale memperhatikan kedua orang itu, ?Ternyata anak laki-laki itu lumpuh.?

Seolah Tuhan menjawab semua pertanyaannya tadi, air mata Jale kembali bercucuran, namun bukan karena amarah seperti sebelumnya. Sadar akan yang telah ia lakukan, bahwa ternyata yang dipikirkannya keliru. Dengan terburu-buru ia lari, untuk pulang ke rumah. ?Kenapa sih kamu Jal? Masih punya kaki yang bisa dipakai berlari.. Masih punya kesempatan untuk lebih baik.. Masih mempunyai orangtua yang sangat sayang sama kamu. Dan kamu menyalahkan Tuhan?!? Ucap penyesalan Jale dalam hati.

Tiba di rumah ia bergegas membuka pintu, melihat ada ayahnya yang telah pulang, Jale secara konstan memeluknya secara erat dan berkata, ?Ayah. Maafin Jale kalau selama ini udah ngerepotin. Maaf,? Ucap Jale sambil menangis keras. Melihat anaknya seperti itu, ayahnya hanya terdiam, ia tahu bahwa ada suatu hal yang membuatnya seperti ini, ada sesuatu di baliknya, beliau mengerti semua itu. Ayahnya membalas pelukannya dengan erat.

?Ayah tak pernah merasa terbebani oleh kamu Nak, kamu itu adalah anugerah yang paling indah yang diberikan Tuhan.?

  • view 160