POLOSNYA KEINGINAN

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2016
POLOSNYA KEINGINAN


Kertas-kertas biodata untuk anak-anak baru di Sekolah Dasar telah dibagikan, layaknya format biodata untuk anak di usianya, biasanya hanya berisi hal-hal kecil seperti nama, tanggal lahir, hobi dan cita-cita. Hal ini hanya sebagai pemanasan dan pengenalan guru-guru terhadap anak didik barunya.

Namun entah mengapa satu anak ini begitu bersemangat dan tak sabar untuk mengisi lembaran tersebut. Anak ini bernama Rizal. Sejak awal kegiatan, Rizal selalu terlihat lebih dominan , lebih bersemangat dibanding anak lainnya yang justru malu dan takut - bersembunyi di balik badan orang tua-nya yang menemani.

Baris demi baris Rizal membaca dengan seksama, meski baru kelas 1 SD, ia nampak fasih dan lancar membaca, "Nama .. Mochamad ... Syah .. Ri ..zal, terus tanggal lahir .. 28 .. No .. vem .. ber".

Sampailah ia pada kolom tentang cita-cita, Rizal pun tanpa ragu mengisi kolom tersebut dengan mantap. Semua kolom telah terisi, kini tinggal Rizal yang harus menunggu anak lainnya selesai mengisi, yang justru masih dibantu orang tua-nya.

"OK sekarang siapa yang sudah selesai?" Sang Guru bertanya pada semua murid.

Sempat ada keheningan sejenak, namun itu semua tak berangsur lama ketika Rizal mengangkat tangannya sambil mengibar-ngibarkan kertas biodata tersebut, "SAYA BUUUU!!!".

Kegaduhan mulai mencuat seketika, reaksi orang sekitar yang melihat tingkah Rizal dengan polos berteriak-teriak, mulai dari para orang tua yang tertawa dan gemas, sampai anak murid lainnya yang tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk Rizal seolah sedang melihat hal yang seru.

"Oke kalau begitu kamu maju ke depan sini" Ucap Sang Guru sembari untuk meredakan suasana yang nampak mencair. Rizal pun keluar dari tempat duduknya, mengambil langkah menuju depan kelas.

"Sini coba mana lihat kertasnya" Sang Guru mengambil kertas tersebut.

Sang Guru lalu membaca kertas tersebut, sambil memegang pundak Rizal, Sang Guru berujar, "Ya kalau begitu sekarang Rizal memperkenalkan diri ke semuanya, juga ditambahkan dengan hobi dan cita-citanya ya".

Suasana semakin hening dan tidak segaduh sebelumnya, Rizal memegang kembali kertas tersebut dari pegangan Sang Guru. Rizal melihat keadaan di depannya, terlihat anak murid lain yang seusianya, dan juga para orang tua yang senyam-senyum.

"Hai ..." Sontak seisi ruangan gaduh kembali, reaksi orang tua yang notabene nya adalah para ibu-ibu muda, terlihat menempelkan tangan ke pipinya sambil tersenyum, begitu menggemaskannya Rizal.

"Nama aku Mochamad Syah Rizal ... Aku lahir pada tanggal 28 November tahun 1998 .. Hobi aku main komputer sama belajar.." Ucap Rizal dengan riang, semakin mengundang semua orang untuk tertawa.

Sang Guru menyadari ada yang kurang, yaitu tentang cita-citanya, Rizal belum menyebutkan cita-citanya, "Cita-cita Rizal apa?".

Rizal tersenyum sumbringah, lalu mengangkat kepalan tangan ke atas, "Saya mau jadi Presiden!".

"Kenapa kok mau jadi Presiden?" Tanya salah satu orang tua kepada Rizal.

Tanpa berpikir lama Rizal menjawab, "Karena Ijal mau merubah Indonesia menjadi Negara yang paling hebat se-Dunia.. Tapi sebelum jadi Presiden, Ijal mau bikin seneng mamah .. Papah .. Kakak .. Ade .. Semuanya yang Izal sayang pokoknya".

Tidak terkecuali Sang Guru, semua orang tidak henti-hentinya memasang ekspresi senyum sambil menggelengkan kepala, "Begitu polosnya anak ini".

Semua orang yang ada di ruangan bertepuk tangan, Rizal hanya tersenyum bangga dengan apa yang telah dilakukannya. Melihat kejadian tersebut, Sang Guru merasa penasaran dengan orang tua Rizal, Ia belum melihatnya dari tadi.

"Di sini mana mamahnya atau papahnya Ijal?" Sang Guru bertanya pada kerumunan orang tua, namun tidak ada jawaban. Mereka justru hanya saling melirik satu sama lain, mereka juga penasaran. Sang Guru lalu memasang ekspresi bingung ke arah Rizal, namun Rizal hanya tetap tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Rizal tidak ditemani orang tua ataupun wali.