MEMORI HUJAN KENANGAN

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Februari 2016
MEMORI HUJAN KENANGAN

?Duh PR-nya susah banget siiih!? Rengekan Elva setelah beberapa menit mengerjakan PR fisikanya. Seperti biasa Elva selalu mengerjakan PR-nya ketika sore hari, karena di saat-saat itulah kerja otaknya mengalami kinerja maksimum. Alasan lainnya, di kala jarum jam menunjukkan angka 7 sesi kedua, energi Elva menurun drastis, tanda ia harus mengisi kembali dengan berbaring sambil bermimpi.

?The worst homework that I ever had.? Elva mengeluh kembali.

Elva membanting penanya ke buku catatannya, lalu menaruh kedua tangan di pipinya yang amat chubby tersebut. Di hadapannya terpampang sebuah jendela yang lumayan besar menghadap ke arah halaman belakang rumah. Tiba-tiba rintik-rintik air mulai berjatuhan dari langit, dengan keadaan langit yang sebenarnya tidak terlalu gelap, sangat aneh untuk hari itu untuk hujan. Pandangan Elva sepenuhnya tertarik pada rintik hujan tersebut, dan entah kenapa ia merasakan ketenangan yang amat mendalam, membawa ia berimajinasi juga bermain-main dengan pikirannya.

Mulai terangkai kata-kata yang menggambarkan perasaan Elva ketika melihat sebuah ayunan kecil, ?Dulu ? Aku sering banget mainin ayunan itu, dulu banget juga ayunan itu sebenernya belum ada .. Aku minta sama Ayah bikinin ayunan itu, merengek kayak anak kecil pada umumnya??.

Cercah senyum mulai tampak pada wajah chubby Elva, ?Sekarang ayunan itu gak lagi kepakai, terlalu kecil untuk badan aku yang sekarang ini. Punya sih niatan buat minta dibikinin lagi ayunan yang baru ke Ayah. Tapi ayah gak bisa, Ayah lagi istirahat dengan tenang, aku gak mau ganggu?.

Secara tak sadar Elva meneteskan air mata, ?Tapi jujur, Elva kangen sama Ayah. Kangen dengan semua manjaan Ayah. Kangen dengan pelukan Ayah yang hangat, terutama di saat kayak gini. Di saat hujan gini, dulu Ayah sering bikinin Elva pisang goreng keju yang enak banget?.

Elva mengusap air mata yang mengalir ke pipinya, ?Hup! Elva tahu kok Yaah .. Elva kini udah beranjak dewasa, Elva harus mulai mandiri dengan semua ini, lihat .. Elva sekarang ngerjain PR sendiri, gak perlu lagi bantuan Ayah.. Elva hebat kan?? .

Hujan makin mengecil sampai akhirnya tidak terdengar lagi suara jatuhan air hujan ke atap rumah, cuaca kembali cerah seketika, bagai sebuah iklan dalam TV, hujan itu hanya sekilas. Tiba-tiba Elva tersenyum dan tertawa sendiri, ada pelangi yang begitu jelas hadir di hadapannya, di belakang rumah dekat dengan ayunannya tersebut. Seolah merasa ada yang mendengar dan menjawab cerita hati Elva tadi. Pandangan Elva kembali pada PR-nya, masih ada beberapa soal yang belum terjawab, seperti ada sebuah bendera lambang semangat yang berkibar kencang di diri Elva, Elva mengambil pena-nya dan berteriak.

?OK Elva let?s finish this challange!!!?

  • view 184