14 Februari = Valentine = ?

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2016
14 Februari = Valentine =  ?

14 Feburari bisa disebut sebagai tanggal yang paling populer diantara tanggal lainnya secara umum. Di tanggal tersebut terselip sebuah makna yang amat dalam yaitu kasih sayang. Ya, itulah "Hari Valentine". Hari valentine ini sangat identik dengan segala hal yang "romantic" dan "sweet".

Menurut sejarahnya, hari valentine berawal dari sebuah kejadian dan konflik yang berkaitan erat dengan peraturan pemerintah pada zaman dahulu, dimana? para lelaki tidak boleh menikah agar tidak terhambat dalam urusan militer.
Namun ada seorang pendeta yang bernama St. Valentine yang melanggar, kekasihnya dibunuh. Si Pendeta ini tetap bersikukuh bahwa menikah adalah hal yang sakral untuk manusia, sampai akhirnya ia tertangkap dan dibunuh pada tanggal 14 Februari.

Sampai pada akhirnya kejadian tersebut menjadi cerita urban yang terus menerus diceritakan sampai anak-cucu, dan dari situ mulai berangsur 14 Februari sebagai hari valentine.

Namun pasti ada saja perdebatan tentang "Hari Valentine" tersebut, terlebih di Negara Indonesia kita ini yang penduduknya terdiri dari banyaknya perbedaan, yaitu : agama, ras, suku dan lainnya. Perdebatan sering terjadi khususnya sekarang-sekarang terhadap anak muda yang sangat responsif terhadap kejadian. Dengan mudahnya orang mempublikasikan suara dan aspirasi-nya seperti di sosial media.

Topik utama yang selalu menjadikan perdebatan adalah "Lazim tidaknya memperingati hari tersebut". Karena mayoritas penduduk Indonesia adalah seorang pemeluk agama Islam, dan jika dilihat dari sejarah hari valentine yang berasal dari agama kristern, membuat hari valentine sebagai hari yang dilarang untuk diperingati bagi seorang muslim.

Dan dari segi sosial anak muda zaman kini, mengapa muncul perdebatan adalah hal sepele. Dengan menganggap bahwa hari valentine adalah hari yang konyol untuk menunjukan kasih sayang, padahal seharusnya kita menunjukan kasih sayang kita setiap saat tanpa melihat tanggal atau hari peringatan.

Perdebatan ini tidak dapat dihindari orang-orang Indonesia yang juga orangnya banyak yang memiliki kepribadian yang tidak konsisten, mereka suka mengikuti hal-hal yang menarik meski tidak melirik asal-usul hari valentine tersebut. Mereka melakukannya karena ikut-ikutan saja.

Menurut saya, hal ini sebenarnya bukanlah hal yang terlalu penting untuk di debat-ributkan, karena pada dasarnya hari valentine hanya sebuah hari peringatan layaknya hari peringatan lainnya.

Jika kita selalu mengambil sisi positif dalam segala hal, pasti kita bisa mendapat hikmah dari hari valentine tersebut. Seperti bahwa hari valentine untuk menunjukan rasa kasih sayang, hal ini bukanlah sebuah tindak kejahatan dan tidak melanggar HAM.

Terlebih dari hari tersebut akan banyak pihak yang diuntungkan khususnya pengusaha yang berkaitan dari hal tersebut, seperti penjual bunga, penjual cokelat, penjual kue, penjual kartu ucapan dan lainnya. Layaknya sebuah hadiah tahunan bagi para pedagang, hari yang hanya sekali dalam setahun tidak ingin dilewatkan kesempatannya oleh semua pencari rezeki.

Intinya, "Hari Valentine" bukanlah hal yang salah, namun juga merupakan hal yang benar, tinggal bagaimana kita menyikapi dengan kepercayaan kita. Cara yang paling baik adalah dengan melihat sisi positif dan mendirikan sifat toleransi dalam diri kita selama hal tersebut masih disebut lazim dan tidak merugikan siapapun. Karena sebenarnya tidak ada hal yang benar atau salah secara konkrit, semua kembali lagi berasal dari kepercayaan kita akan suatu hal yang dinilai dengan "baik" dan "buruk", semua orang memiliki pandangan yang berbeda.

Indonesia adalah Negara Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu jua. Janganlah hal kecil seperti ini membuat kita terpecah belah, mari kita hargai setiap hal dari perbedaan dengan sikap positif dan tidak melebih-kurangkan lainnya, karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta.

  • view 162