Tukang Cendol Sianida #8 [CERBER]

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Desember 2016
Tukang Cendol Sianida #8 [CERBER]

Ucapanku hari kemarin bukanlah isapan jempol belaka, aku benar-benar menjadi lebih penasaran dengan Rizal. Sehingga kini lebih merespon semua tindakan pendekatannya padaku, contohnya ketika aku berpapasan dengan dia di lorong kelas, dia memberikanku sebotol air putih, “Biar lebih sehat” kata Rizal, aku menerimanya langsung tanpa basa-basi, “Makasih Zal ..” Ucapku sedikit tersenyum. Sebelum Rizal pergi, aku berteriak, “Rizal makasih …” Maksudku dengan hadiah yang telah ia berikan kepadaku hari kemarin.

Dia membalasnya dengan senyuman yang cerah, “Sama-sama ..” Aku mendengar ucapannya seperti patah-patah, seperti orang yang gerogi hahaha. Dan itu adalah awal dari semuanya, awal aku bertemu dengan Rizal, sampai hari-hari selanjutnya kami menjadi lebih dekat dan lebih dekat. Pernah suatu saat, ketika pulang sekolah, kami berjanji untuk pulang bersama, eh kita malah jalan-jalan ke daerah rumahnya Rizal. Letaknya ada disebuah komplek perumahan Griya, dekat dengan stasiun kereta api.

Kami berdua jalan-jalan menyusuri perumahan yang indah dengan hiasan tanaman yang bagus di sekitarnya. Kami berdua mengobrol dan membahas segala hal yang kita tidak pernah bicarakan sebelumnya, Rizal menceritakan masa kecilnya, yang tidak pernah aku tahu. Kita juga bercanda sampai aku tidak berhenti tertawa, Rizal itu orangnya sangat unik, di satu sisi dia bisa menjadi orang yang sangat humoris dan lucu konyol. Dan di sisi lainnya, Rizal juga punya pemikiran yang serius, terkadang ia bisa romantis dan membuatku terpukau dengan cara pikirnya yang kompleks serta tidak terduga.

Meski begitu ternyata Rizal juga sedikit nakal kepadaku, terkadang ia selalu mengirimkan emoticon peluk atau kiss kepadaku, padahal waktu itu kami belum jadian sama sekali. Aku selalu membalasnya dengan keluhan, “Ih Izaaaalll ….” Tetapi aku tidak pernah benar-benar kesal dengan Rizal, karena aku tahu pada dasarnya ia juga adalah lelaki, ada sifat berani melakukan sesuatu yang tidak biasanya. Aku wajar dan tidak menyalahkan dirinya, malah aku suka karena aku merasa menarik baginya.

Beberapa bulan kami telah sangat dekat, dengan segala hal yang kami bicarakan langsung maupun melalui aplikasi chat di handphone. Sampai suatu malam tiba, pada tanggal 26 September, Rizal menyatakan perasaanya padaku dengan langsung. Ketika itu kami sedang mengobrol sambil berjalan pulang dari sekolah, ketika ia mengantar menuju depan rumahku, tiba-tiba ia berhenti di hadapanku,

Santi …” Ucap Rizal membuatku terkejut karena ia menatap mataku tajam.

Iya? Izal ih jangan liatin” Ucapku sambil mendorong wajahnya karena malu. Dia lalu memegang kedua tanganku itu dengan halus, aku gerogi dan tidak bisa berkutik apa-apa.

Aku pengen serius

Iya serius sok” Kataku malah menganggapnya bercanda, mungkin karena rasa gerogi tadi.

Santi … Aku sayang sama kamu …” Dan seketika aku merasa ada yang menimpa dadaku.

Mungkin kamu ga tau dari dulu aku udah perhatiin kamu, langkah kamu yang unik, ketawa kamu yang lepas, senyum kamu yang … menarik.. Aku suka semua itu, dan kini aku sadar, ternyata aku menyukai segal hal yang ada pada kamu.. Bukan Cuma secara fisik, tapi juga secara kepribadian kamu yang terbuka dan toleransi, aku benar-benar kagum sama kamu Sant ..” Mendengar semua itu aku semakin mematung dan hanya bisa menatap mata Rizal yang terlihat sangat tulus, kulihat mata Rizal berbinar, ada air mata di dalamnya, mungkin Rizal juga tidak dapat menahan haru perasaannya.

Santi … Mau enggak kamu jadi … Pacar aku?” Ucap Rizal meski sedikit terbata-bata, ia nampaknya sedikit malu untuk mengatakannya, baru kali ini aku melihat Rizal yang seperti ini. Aku masih terdiam seribu bahasa, bingung untuk merangkai kata dan merespon apa, setiap aku ingin berbicara, aku malah terbawa arus sampai tak berkutik, mengapa semua ini begitu sulit kukatakan, padahal semuanya jelas-jelas membuatku sangat senang.

Santi ?” Rizal membangunkan lamunanku yang tak tentu arah, kini aku harus fokus untuk menjawabnya sesuai dengan keinginan hatiku.

Zaal … Aku …” Lalu aku mengangguk, entah mengapa sulit untuk mengatakan Ya Aku mau menjadi pacar kamu Zal . “Itu kamu angguk-angguk berarti apa ya?”.

Hahaha .. Ih kamumaah …

Iya apa atuh jelasin dong …

Iyaaaa !!

Iya apa?

IYA AKU MAU JADI PACAR KAMU ZAAL !!” Aku berteriak secara tak sadar karena terpancing oleh Rizal.

Hahaha …

Ih kenapa malah ketawa?

Haha ya gapapa, seneng … hehe

Haha iya aku juga !!

Sama-sama seneng berarti ya? Berarti kita jodoh ya?

Hahaha ihh !!

Hahahaha

Ahh Rizal, kamu itu benar-benar sulit untuk ditebak, kamu romantis dan lucu, apalagi hal yang aku butuhkan selain itu? Kamu yang akhir-akhir ini mengisi hariku, menghiburku dengan berbagai guyonan, kata-kata brilian, dan juga perhatian. Semakin hari malah semakin menjadi, perasaan ini justru malah bertambah sekian waktu, aku tidak yakin apakah aku bisa melepaskanmu dengan mudah nantinya jika sesuatu terjadi? AH! Aku gak mau memikirkan hal itu saat ini, yang penting aku sudah menjadi pacar Rizal, bersyukur adalah satu-satunya cara terbaik untuk merealisasikannya.

 

Baca kelanjutannya ya :)

  • view 170