Tukang Cendol Sianida #6[CERBER]

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Desember 2016
Tukang Cendol Sianida #6[CERBER]

Hari sekolah selesai seperti biasanya meski hari itu bisa disebut sebagai hari spesial untukku. Aku tidak sabar pulang ke rumah, karena aku tahu mamah telah menyiapkan sesuatu untukku. Tapi ketika diperjalanan, aku mengalami sedikit masalah.. Aku terserempet motor yang ditumpangi oleh anak-anak nakal sampai terjatuh. Bukannya mereka langsung meminta maaf, mereka malah bilang, "Hah hakan tah" artinya "Hah makan tuh". Aku sampai sedikit menangis karena sakit ditambah juga malu dilihat oleh beberapa anak sekolah.

 

Aku belum kuat untuk bangun, kaki ini sangat sakit rasanya, terlihat luka lebam pada lututku. Aku sangat geram dengan tingkah anak-anak tadi, tapi tidak ada yang bisa kulakukan, terlebih aku perempuan yang tidak ingin terlihat mencolok, jadi aku hanya diam saja dan segera ingin pergi. Dan tiba-tiba, "Hey jangan duduk disitu, rok-nya kan kependekan.." Ternyata itu Rizal sambil jongkok melihatku.

 

Gara-gara Rizal melakukan itu, entah dari mana aku menjadi punya kekuatan untuk bangun, padahal Rizal sudah menyodorkan tangannya untuk membantuku bangun, namun karena gengsi aku tidak menerimanya. Selanjutnya aku pergi meninggalkannya, pulang ke rumah, tanpa kutengok lagi kebelakang. Emosiku terlalu kacau untuk memikirkan apa yang terjadi, aku hanya ingin segera pulang.

Dan benar saja, setibanya di rumah, aku diberi surprise oleh mamahku tercinta. Kue bolu cokelat dengan lilin berbentuk angka 17, disodorkan ke arahku sambil bernyanyi, “Happy birthday Santi … Happy birthday Santi …. Happy birthday … Happy birthday Santi ….” Mamah bernyanyi dengan riang. Tak hanya mamahku saja tentunya, ada ayah dan kedua adikku yang mendampingi. Kami pun merayakannya dengan makan bersama, di rumah saja. Aku kira ini sudah cukup untuk hari ini, hari ulang tahunku. Tapi ternyata tidak, terdengar suara seseorang mengetuk pintu sambil memanggil namaku dari depan, “Santi ….”.

Aku langsung menuju pintu, ketika kubuka aku merasa sangat terkejut. Bukan, bukan tukang panci yang datang ke rumahku, melainkan seseorang yang aku tinggalkan tadi,

Assalamu’alaikum …” Ucap orang itu yang sudah kutahu adalah Rizal, meski ia menggunakan topi dan jaket berwarna biru tua yang menutupinya, dia kira dia sudah mirip dengan tukang paket pos. Namun dengan cepat aku bisa mengetahui bahwa itu adalah dirinya.

Wa’alaikum salam .. Dengan siapa ya?” Ucapku seolah-olah tidak tahu akan orang itu, yang nyatanya adalah Rizal.

Tukang Pos Mbak” Ucap dia dengan santai, dan meski aku sedikit kesel Karena dia memanggilku dengan nama ‘Mbak’, aku menahan rasa tawaku.

Oh mau ngapain ya tukang pos ke sini?

Mau ngasih paket …

Paket buat siapa?

Buat … Kanjeng Nyai Santi Roswati ..” Sebut dia yang semakin membuatku ingin tertawa.

Oh iya saya sendiri. Kalau boleh tahu dari siapa ya paket ini?” Aku tetap meladeninya, karena menurutku ini sangat asik.

Dari ….” Dia terlihat berpikir sejenak lalu melanjutkan, “Pangeran Muka Koala …” Mendengar itu aku hampir tidak bisa menahan tawaku, aku sempat menutup mulutku yang hampir tertawa spontan. Kucoba menenangkan diriku sebelum menjawab pertanyaanya.

Ohh .. Kirain dari tukang cendol sianida” Aku balas gurauan dia, dan aku melihat dia semakin menundukan kepalanya, menancapkan topinya lebih dalam menutupi wajahnya, dan kulihat ia sedang menahan tawa persis seperti yang aku lakukan. Dia pun memberikan sebuah paket, meski ia bilang paket, namun bentuknya malah seperti kado ulang tahun, karena bungkusnya yang memang menggunakan pembungkus kado.

Aku menerima dengan kedua tanganku, “Engga ada yang harus ditanda tangan?

Emm … Mungkin lain kali mbak” Ucap Rizal sembari pergi. Kulihat dia semakin menjauh, aku pikir ini tidak biasa. Apa yang sebenarnya Rizal lakukan? Apa maksud dari semua ini? Grekk .. Tiba-tiba kulihat Rizal menaiki pagar, spontan aku langsung berteriak, “Zal pintu pagernya kan gak dikunci !!”. Ia langsung menoleh kearahku dan membuka topinya, ia tersenyum, hmm mungkin lebih ke cengengesan, lalu turun dari pagar, pergi keluar dengan normal. Aku hanya bisa menepuk jidatku sendiri, entah kenapa dia melakukan itu.

 

Baca lanjutannya ya :)

  • view 165