Tukang Cendol Sianida #5 [CERBER]

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Desember 2016
Tukang Cendol Sianida #5 [CERBER]

Hari rabu tanggal 22 Maret, entah karena apa aku terbangun lebih pagi dari biasanya. Mungkin karena aku tidur terlalu lama semalam, atau justru memang karena hari ini adalah hari ulang tahunku. Mamah mengucapkan, "Selamat ulang tahun anakku" ketika aku berangkat sekolah tadi. Kini umurku telah menginjak 17 tahun, mungkin jika orang lain akan merayaknnya dengan embel-embel "Sweet Seventeen", namun aku enggan untuk itu semua. Aku tidak perlu merayakannya dengan orang banyak, bagiku keluarga saja sudah cukup.

Dan faktanya, memang tidak ada satupun temanku yang tahu kapan persis bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku, tak ada satupun orang yang bertingkah aneh ketika melihatku. Ini memang sengaja aku lakukan agar tidak ada kejadian mengerjaiku dengan telor dan terigu, aku sangat membencinya karena benar-benar menghamburkan uang saja, lebih baik telor dan terigu itu mereka berikan kepada orang yang lebih membutuhkan, dengan begitupun aku bakal senang.

 

Aku terbuyar dalam lamunan ketika ada guru masuk ke kelasku, selesai berdo'a, kegiatan belajar mengajar pun dimulai dengan wajar, sampai tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu. Ia adalah Rizal, "Permisi, ada keperluan sama Santi .." Ucapnya langsung masuk setelah mendapat izin dari guru kelasku. Aku bingung, ada kebutuhan apa dia mendatangiku? Apa yang akan ia lakukan?

"Minjem buku Bahasa Indonesia .." Ucap Rizal dengan santai, tidak memperdulikan orang-orang kelas yang sedang memperhatikan dia dan juga aku. Saat itu aku merasa malu, aku sejenak tidak merespon apa-apa, hanya sekedar menunjukan kalau ini bukan waktunya untuk becanda. Namun dia tetap berdiri menunggu, aku semakin malu, "Enggak ada ih!" Ucapku dengan kesal.

 

"Pinjem laahh ..." Rizal merengek, hal ini benar-benar membuat rasa malu semakin memuncak, aku sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa tahu kalau hari itu ada jadwal pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelasku. Aku tidak berkutik lagi, segera aku menyodorkan buku yang dia maksud, "Nih ambil cepet .. PERGI!" Aku mengusir dia tanpa sengaja, kejam memang, tapi aku rasa kamu juga akan melakukan hal yang sama bila ada di posisiku waktu itu.

Setelah mendapatkan buku Bahasa Indonesia milikku, ia langsung pergi keluar kelas, "Terima kasih pak" Ucapnya kepada guru dikelasku. Aku tidak habis pikir, sempat aku menjadi tidak fokus pada pelajaran yang berlangsung, mencoba mencari arti dari tingkah Rizal tersebut.

 

Baca lanjutannya ya :)

  • view 143