Tukang Cendol Sianida #4 [CERBER]

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Desember 2016
Tukang Cendol Sianida #4 [CERBER]

Waktunya pulang tiba, begitu melegakan mendengar suara bel yang satu ini, aku memang tidak betah berlama-lama di sekolah. Lebih baik aku diam di rumah sambil menonton film drama atau anime. Yaps anime, jangan mencelaku.. Semua orang memiliki hobi masing-masing. Kupikir impas saja jika kita saling menghargai bukan?

 

Namun aku baru teringat bahwa aku memilki tugas yang harus dikumpulkan besok, aku pun membuka tas dan mengambil buku tugasku. Aku sangat terkejut ketika ada secarik kertas yang terlipat, jatuh ke pangkuanku. Seingatku, aku tidak pernah melakukan hal tersebut. Seketika aku langsung mengambilnya, kulihat sejenak, bahkan kertas tersebut berbeda dari kertas-kertas yang ada pada semua bukuku.

 

Saking penasarannya, aku membuka lipatan kertas itu. Tertera tulisan-tulisan yang kupikir adalah sebuah catatan atau surat tantangan, aku hanya mengira saja. Ternyata bukan, itu adalah tulisan berbentuk seperti puisi, karya ini berjudul "Pernahkah?", begini kurang lebih isinya ..

 

Pernahkah?

 

Pernahkah aku bilang bahwa rok-mu kependekan? Ya ..

Pernahkah aku bilang bahwa aku bilang bahwa aku mencari pacar sepertimu? Ya ...

Pernahkah aku bilang bahwa aku menyukaimu? Oh belum, aku belum sempat mempunyai keberanian seperti itu

Pernahkah aku membahagiakanmu dengan usahaku? Tentu saja belum, karena aku bukan siapa-siapa bagi kamu ..

 

Begitulah sekiranya isi tulisan tersebut, lalu ada gambar kaos kaki panjang di bawahnya. Aku langsung teringat dengan Rizal, laki-laki yang lebih dari satu kali bilang tentang rok pendek setiap berangkat sekolah, namun tetap saja aku ingin memastikannya. Aku lihat sekitar kertas tersebut untuk sekedar cari tahu apakah ada nama pengirimnya, dan aku benar-benar terkejut ketika tertera tulisan .. "By Tukang Cendol Sianida".

Aku langsung tertawa terbahak-bahak, aku tidak mengira akan mendapatkan surat dari tukang cendol sianida, aku begitu terbahak karena mendengar kata "Sianida", ketika itu sedang gempar kasus racun sianida dalam kopi di berita-berita TV. Meski aku begitu yakin bahwa surat ini dari Rizal, aku tidak serta merta membalasnya atau sekedar menjumpainya dan mengucapkan sesuatu padanya, aku justru berdiam dan tidak merespon apapun. Aku terlalu bingung untuk ini.

 

Baca lanjutannya ya :)

  • view 241