KurinduITD - Apakah Negeri Kita Menjadi Lebih Nyaman?

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Motivasi
dipublikasikan 09 Oktober 2016
KurinduITD - Apakah Negeri Kita Menjadi Lebih Nyaman?

Kurindu Indonesia Tanpa Diskriminasi – Apakah Negeri Kita Menjadi Lebih Nyaman?

 

Sadarkah kita bahwa negeri ini menjadi lebih buruk? Terlebih dari bagian dalam negeri kita, yang kini semakin sering terjadinya konflik sesama bangsa. Satu faktor yang paling berpengaruh besar akan hal itu adalah adanya diskriminasi. Namun sebelum itu, apa arti sebenarnya dari diskiriminasi?

Menurut berbagai sumber yang tersedia seperti Wikipedia bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pengertian diskriminasi secara garis besarnya yaitu pelayanan atau perilaku yang tidak adil berdasarkan perbedaan dalam kategorisasi yang di buat oleh alam atau bahkan masyarakat, yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemampuan individu atau jasanya.

Dari sini kita bisa mendapatkan gambaran mengenai warna-warni tindakan diskriminasi yang ada di Indonesia. Mari kita sedikit mengenang kembali kasus diskriminasi yang paling riuh dan mengerikan di Negara kita ini, yaitu konflik ambon.

Dari berbagai sumber seperti catatan sejarah dan data dari Yayasan Denny JA. Pada tanggal 19 Januari 1999, pernah terjadi konflik di Ambon, Maluku. Kejadian tersebut didasari oleh kekerasan dengan latar belakang agama. Jumlah korbannya pun tidak tanggung-tanggung, yakni mencapai 8000-9000 jiwa. Begitu pula dengan kerugian materi yang diakibatkannya.

29.000 rumah terbakar, 45 mesjid, 47 gereja, 719 toko,  38 gedung pemerintahan, dan 4 bank hancur lebur hanya dalam rentan waktu sampai 4 tahun. Dan sampai saat ini, kasus konflik Ambon dinyatakan yang paling buruk sepanjang pasca reformasi. Bukankah ini sangat mengerikan? Dan bukankah hal ini juga sangat mengkhawatirkan? Akankah hal ini terulang kembali suatu saat?

Perbedaan agama, benar-benar sangat sensitif. Kepercayaan akan makna kehidupan pun berbeda dan sangat krusial. Mereka yang berseteru hanya memperjuangkan persepsi mereka akan kebenaran, tapi nampaknya melupakan makna dari kebaikan hidup itu sendiri. Jika kita realisasikan dari sudut pandang mereka, mungkin kita dapat mengkonversinya dalam bentuk puisi yang berjudul “ATAS NAMAMU” karya Denny JA.

 

Atas NamaMu

Kebaikan tumbuh menyebar

Atas NamaMu

Kekerasan dan darah dipersembahkan

 

Karena setelah memikirkan peristiwa tersebut, saat ini Indonesia masih penuh dengan tindakan diskriminasi. Untuk yang lebih viral, lihatlah hukuman pada para tersangka kasus korupsi yang pernah terjadi. Terkadang kita merasa gemas dengan hal tersebut, di kala orang-orang bawah yang melakukan kesalahan kecil pun mendapat hukuman yang berat, mereka (para koruptor) justru mendapat hukuman yang tidak sebanding. Lagi-lagi diskriminasi terlihat dengan jelas di mata siapa pun.

Mungkin contoh tadi terlalu umum, mari kita lihat perlakuan diskriminasi yang lebih kecil, yang selalu terjadi di antara kita. Apa kita sadar atau tidak? Tempat yang kita pikir untuk membentuk pribadi diri yang lebih baik dan benar, justru menjadi tempat untuk praktik diskriminasi antar sesama, yaitu Sekolah.

Mungkin sudah tidak aneh lagi, jika kita pernah merasakan perlakuan diskriminasi pada masa sekolah. Dilecehkan hanya karena perbedaan bentuk tubuh, kasus senior-junior yang di luar batas dan masih banyak lainnya. Memang pada masa tersebut, anak-anak masih labil dan liar, namun apakah itu alasan yang tepat? Ke mana rasa tanggung jawab pihak yang berwenang? Ke mana yang seharusnya ada untuk meluruskan budi pekerti masa depan Bangsa Indonesia kelak?

Dari hal-hal itu saja kita sudah mendapat gambaran besar tentang luar biasanya diskriminasi, begitu terasa bahwa perbedaan yang kecil dapat menimbulkan suatu masalah yang serius. Lantas apa yang salah dengan negeri kita ini? Mengapa tindakan diskriminasi bagaikan angin yang tak kita hiraukan? Dan entah mengapa tindakan diskriminasi seolah kita terima begitu saja, seperti wajar dan biasa. Padahal kan kita sendiri yang merasakan dampaknya?

Terbesit tentang perkataan dari Presiden pertama Negara kita yakni Ir.Soekarno yang berbunyi, Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri. Inikah maksud dari beliau? Dengan adanya diskriminasi, begitu kuat pernyataan dari beliau, bahwa Negara ini memang sering berseteru dengan bangsa sendiri.

Negara Indonesia ini penuh dengan perbedaan, berbagai macam agama, suku, bahasa dan budaya adalah ciri khas dari negeri kita tercinta ini, yang membuat semuanya menjadi lebih berwarna, yang menghadirkan bentuk kehidupan yang tak tergantikan. Lalu apakah kita mau menjadikan hal tersebut sebagai bahan untuk melakukan tindak diskriminasi dan membuat Bangsa Negeri kita ini terpecah belah? Tidak malukah kepada para pendahulu kita yang berjuang, melupakan perbedaan yang tidak perlu, untuk mengubah negeri kita menjadi lebih baik?

Lalu apa juga tujuan dari bentuk diskriminasi? Apakah diskriminasi adalah bentuk tindakan untuk menyeragamkan segala perbedaan yang ada? Lagi-lagi puisi karya Denny JA yang menggambarkannya, kini puisi yang berjudul “MENYERAGAMKAN” , yang sangat cocok.

 

Kebun bunga aneka warna

Dengan sengatan dan ilusi

Kumbang paksakan

Bunga harus tumbuh SERAGAM

 

Jika begitu, maka sudah dapat dipastikan bahwa tindakan diskriminasi adalah bentuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), karena merupakan pemaksaan dengan opini sepihak. Kita semua pasti tahu, bahwa tidak ada satu pun makhluk yang suka untuk dikekang tanpa ada manfaat yang adil dan mutlak.

Pertanyaan terbesar saat ini, apakah negeri kita menjadi lebih nyaman? Dengan penuhnya tindakan diskriminasi pada tiap sudut kehidupan, apakah pantas jika ini Indonesia yang kita rindukan?  Lagi-lagi mengutip dari kalimat yang dilontarkan Ir.Soekarno, yaitu Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bahkan pahlawan terdahulu pun sudah mewanti-wanti akan rusaknya bangsa karena tindakannya sendiri.

Maka oleh sebab itu, marilah kita menghargai setiap perbedaan. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar, yang ada hanya “yang lazim” dan “tidak lazim”. Semua mempunyai pendapatnya masing-masing, yang harus kita respon dengan rasa saling toleransi. Perbedaan adalah hal yang konkrit di muka bumi, terlebih di Indonesia.Berbeda-beda tapi tetap satu jua yaitu membangun negeri yang penuh warna dengan keselarasan. Ayo kita bangkitkan semangat kebersamaan, perubahan menjadi Indonesia yang lebih harmonis dan semangat bersatu yang tinggi. Karena semua jiwa dalam diri kita saat ini pasti seraya sedang berkata, Kurindu Indonesia tanpa diskriminasi.

Mochamad Syahrizal


  • Rafi Wisnu
    Rafi Wisnu
    11 bulan yang lalu.
    Yap Indonesia tanpa diskriminasi mimpi yg begitu indah tp bukan hanyalah sebuah mimpi,harapan oleh kamu,saya dan lainnya hrs diwujudkan menjadi nyata!!! Ini artikel menambah ilmu saya tuk bljr dr kelamnya masa lalu agar tak terulang lagi Di Indonesia pd generasi kita!!! thanks kak Mochamad.

    • Lihat 1 Respon