[Cerpen] HEI BUDEK I LOVE YOU! (PART 3 : TERAKHIR)

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Mei 2016
[Cerpen] HEI BUDEK I LOVE YOU! (PART 3 : TERAKHIR)

Hari-hari kemarin gue di sekolah terlewatkan tanpa Risna. Semenjak kejadian gue nembak dia, Risna gak masuk sekolah lagi karena suatu alasan yang tak jelas. Mungkin memang ada masalah keluarga, atau masalah tentang dirinya.. Atau mungkin, itu semua gara-gara gue.

Begitupun dengan hari ini, gue tetap berimajinasi tentang Risna diantara pelajaran Bahasa Indonesia yang sedang berlangsung. Benar-benar tidak ada satu pun clue yang bisa dijadiin panutan buat mecahin misteri ini, sampai semuanya benar-benar terasa kelam dan suram.

Sampai memasuki jam istirahat, gue tidak bergairah untuk pergi kemanapun. Gue hanya berdiam di bangku dengan keadaan posisi meringkuk, benar-benar menyedihkan. PSP yang selalu gue bawa di kantong pun tak pernah gue sentuh kembali, bagaimana gue bisa fokus main PSP kalau faktor utama yang bisa ngingetin gue tentang Risna cuman benda itu.

"Zal ..." Gue terkaget dengan suara cewek yang manggil gue sambil megang pundak. Gue lihat dia, ternyata itu Sarah, temen sekelas gue.

"Iya? Kenapa?" Bales gue sedikit lemas.

"Ini ada yang nitip buat kamu" Sarah memberikan satu amplop yang bentuknya seperti amplop untuk anak-anak, berwarna biru muda.

"Dari siapa?" Gue mengambil amplop tersebut.

"Dari Risna".

"Risna? Kapan? Dia kok jadi jarang masuk sekolah?" Gue gak bisa ngontrol diri.

"Oh oke oke .. Biar gue jelasin, jadi tadi dia ada di Kantor Guru sama Ibunya. Denger-denger gue katanya dia mau pindah sekolah gitu, tapi entahlah".

"Sekarang dia ada di mana?".

"Mungkin masih di Kantor".

Tanpa pamit ataupun membalas obrolan itu, gue langsung berlari menuju arah kantor. Setelah gue di depan, gue langsung mengecek dengan mengintip melalui kaca jendela, tapi tidak ada Risna maupun orang tua-nya. Gue langsung menghadang Guru Sejarah yang sedang berjalan keluar, "Maaf Pa, tadi Bapak liat Risna gak?".

"Oh iya tadi barusan aja dia udah pergi lagi" Jelasnya dengan nada sedikit bingung, mungkin terkejut dengan tingkah laku gue. Setelah mendengar itu gue langsung berlari menuju halaman sekolah, dan berharap semoga Risna belum terlalu jauh. Sampai di halaman gue terbelalak, karena Risna udah sampai di gerbang.

Gue lihat dia mulai keluar dari gerbang, seketika gue panggil dia, "Risnaa ...".

Dia langsung terhenti setelah Ibunya menyentuhnya, Sang ibu memeberi isyarat bahwa ada gue yang memanggil. Ia menoleh ke arah gue, ada senyum yang ia lemparkan, senyum yang selalu gue bayangkan. Akan tetapi, setelah itu dia melanjutkan pergi ke luar gerbang, lalu masuk ke sebuah mobil sedan yang mungkin sudah dari tadi menunggu ia di luar.

Dalam keadaan itu, gue mematung total. Dia pergi, gue gak punya tenaga untuk ngejar dia. Ini bukan kayak film-film cinta romantis di mana si cowok mampu ngejar kereta kuda seorang Putri yang berjalan kencang, gue juga bukan manusia super yang bisa melesat menghentikan kendaraan tersebut, gue gak ngerti dengan ini semua. Gue pandangi amplop yang ada di tangan gue ini, kejadian ini pun benar-benar tak gue bayangkan seumur hidup. Dengan langkah gontai, gue kembali ke ruangan kelas, gue cuman pengen kelas hari ini cepat selesai.

Sampai di rumah, gue cuman mandangin itu amplop sambil tiduran. Sampai saat ini gue cuman berkhayal apa isi dari amplop tersebut. Terbias dengan cahaya lampu kamar, isi amplop tersebut berisi sebuah lembar kertas. Tak ada kata-kata yang tertulis di luar amplop tersebut, dan yap gue takut dengan kenyataan.

Tapi akhirnya gue sadar, kalau tingkah gue itu gak akan membawa kebenaran dan kepastian dengan apa yang terjadi. Dengan tegas, gue membuka amplop tersebut, lalu mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya. Gue langsung membaca isi kertas tersebut.

"Hei Zal ... Aku mau minta maaf atas kejadian hari itu. Iya aku tahu kalau itu semua keliatan aneh, tiba-tiba nangis tanpa alasan. Maaf kalau kejadian itu bikin kamu malu atau sebagainya. Tahu gak sih Zal? Kalau semua yang udah kamu lakuin buat aku, itu adalah semua mimpi yang aku dambain seumur hidup aku .." Awal paragraf gue baca dengan teliti, tetapi itu semua malah bikin gue nangis. Aneh..

"Tahu gak sih Zal? Kalau selama kamu merhatiin aku, sebenernya aku tahu. Cuman aku gak punya nyali untuk ngelakuin sesuatu, bahkan untuk sekedar berkedip.". Gue menghela tangis gue yang udah bercucuran.

"Tahu gak sih Zal? Kalau selama kamu pura-pura ngelakuin sesuatu, dan setiap kamu pura-pura lewat di depan aku, aku tahu kalau kamu sebenernya cuman ngikutin aku. Tapi ada satu hal yang mungkin belum kamu tahu, kalau aku .. Suka sama kamu Zal". Gue sedikit terkejut dengan akhir kalimat tersebut.

"Kejadian waktu itu bener-bener gak aku duga, aku cuman mikir kalau semua itu cuman mimpi atau halusinasi, mana mungkin keinginan aku terjadi dalam satu malam. Tapi Zal, aku cuman mau jelasin kalau keadaan ini benar-benar gak mendukung untuk kita. Aku belum siap untuk nerima keajaiban ini hanya untuk keegoisan aku buat milikin kamu Zal." Gak henti-hentinya gue nangis.

"Maaf kalau isi surat ini begitu gak jelas buat kamu, aku cuman mau bilang makasih. Makasih udah mau sayang sama orang budek kayak aku, makasih banyak Zal ..." Semua isi surat pun terbaca. Gue bener-bener gak bisa nahan isak tangis dalam diri gue, layaknya anak kecil yang gak kesampaian buat beli balon, gue nangis sedalam-dalamnya. Sampai gue tertidur.

Keesokan harinya, gue terbangun dengan susah payah. Mata ini terasa sangat berat, yah karena kecengengan gue malam itu. Bahkan surat itu masih gue genggam dan menempel di dada gue. Entah kenapa gue merasa ada suatu pencerahan tentang semua kejadian ini, gue sekarang mengerti. Gue selalu mendengar suatu istilah kalau, "Cinta pertama adalah cinta yang berkesan".

Setelah gue pikir-pikir, semua itu kurang tepat. Harusnya "Cinta pertama adalah pengubah kehidupan". Lambat-laun gue kembali menjalani hari-hari seperti semula, namun tidak sepenuhnya semula, mungkin hanya sekitar 10% saja.

Sisanya gue berubah menjadi pribadi yang berbeda, gue mulai mencoba untuk serius ngedengerin pelajaran dari Guru di dalam kelas, lalu gue mulai mencoba untuk mengerjakan tugas-tugas sesuai ajarannya, dan lain sebagainya. Persis seperti apa yang selalu dilakuin Risna.

 

TERIMA KASIH TELAH MEMBACA SERIAL HEI BUDEK I LOVE YOU SAMPAI AKHIR. MOHON MAAF APABILA ADA KESALAHAN ATAU KESAMAAN SUATU HAL YANG MERUPAKAN TIDAK DISENGAJA.

By Mochamad Syah Rizal