[Cerpen] HEI BUDEK I LOVE YOU ! (PART 2)

Mochamad Syahrizal
Karya Mochamad Syahrizal Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Mei 2016
[Cerpen] HEI BUDEK I LOVE YOU ! (PART 2)

"Trengg .. Trengg" Bunyi bel tanda waktunya masuk ke jam pelajaran ke 3 setelah istirahat telah dimulai. Gue udah nyiapin diri untuk ambil action, gue cuman berharap semuanya akan berjalan lancar. Entah kenapa gue begitu terburu-buru untuk mengambil langkah ini, padahal gue bisa aja ngelakuinnya lain hari.

Risna pun datang dan masuk ke kelas dengan wajahnya yang sumbringah. Entah memang dia orangnya bahagia, atau justru dia cuman memakai topeng belaka. Hal itu justru semakin membuat gue bener-bener pengen ngejagain dia.

Risna semakin mendekati bangku yang ada di sebelah gue. Gue pun bersiaga untuk menampilkan kesan ramah, senyum lebar gue pasang dengan mutlak di wajah gue yang mungkin cukup tampan, entahlah mungkin cuman gue yang mikir gitu.

Tetapi Risna melewati gue begitu saja, bahkan dia gak nengok sedikitpun. Gue pun membanting kepala gue ke meja, belum apa-apa udah gagal. Tapi itu belum akhir dari semuanya, gue pun mulai menyusun rencana untuk menembak dia. Dan seketika gue langsung mendapat sebuah ide.

Sayangnya gue harus nunggu waktu yang tepat, masalahnya guru jam pelajaran telah memasuki kelas. Tak ada satu pun murid yang bersuara, tak ada satu pun yang bertingkah. Karena jam pelajaran tersebut merupakan jadwal fisika, dengan guru yang terkenal buas.

Dengan begitu gue cuman punya waktu sesekali untuk merhatiin Risna, karena kalau gue ketahuan gak fokus ke pelajaran, bisa-bisa gue kena sanksi yang kejam. Tapi semakin berjalannya waktu, gue semakin gak kuat untuk menahan ini semua. Gue pun segera menjalankan rencana yang udah gue susun.

Gue merobek kertas dari buku gue menjadi beberapa carik kertas. Gue mulai menulis kata-kata pertama untuk Risna, dan gue kasih ketika Guru fisika sedang menulis di papan board.

Dalam carikan kertas itu gue menulis, "Hi Risna ...".

Risna sedikit terkejut dengan hal itu, dia melotot ke gue sambil lirik-lirik ke guru yang ada di depan, isyarat gue harus fokus ke pelajaran. Gue kembali menulis kata-kata selanjutnya.

"Ada yang mau aku omongin ..." Tulisan dalam carikan selanjutnya. Gue bakal selalu merhatiin Risna, untuk meyakinkan bahwa dia benar-benar membaca isi tulisan tersebut.

"You know what ... Ada satu kejadian yang bikin aku kepikiran tentang kamu. Bahkan gara-gara itu aku jadi sering ninggalin PSP-ku. Sorry kalau ini bukan waktu yang tepat untuk omongin ini semua" Tulisan gue semakin panjang. Bahkan gue malah lihat Risna tersenyum ketika membacanya, gue semakin semangat.

"OK aku gak mau kita kena marah Guru fisika kita yang ada di depan, sebenernya aku suka sama kamu .. Ada satu perasaan di mana aku gak mau liat kamu kesusahan .. Ada perasaan di mana aku gak mau kehilangan senyuman dari wajah kamu .. Aku sayang sama kamu Na" Tulisan pamungkas pun gue kasih ke Risna, dia langsung membacanya, dan lagi-lagi dia tersenyum lebih lebar.

Sambil dia beres membaca, gue pun mengambil langkah paling pamungkas, kata-kata akhir penentu segalanya. Gue menulis huruf demi huruf dengan sangat hati-hati. Setelah selesai menulis gue sangat amat kaget.

Gue melihat Risna menangis, gue gak ngerti kenapa dia begitu. Gue makin bingung ketika tangisan dia semakin menjadi, membuat semua orang yang di sekitarnya memperhatikan dia, bahkan guru fisika langsung bertanya setelah melihat Risna menangis, "Kamu kenapa Risna? Sakit ya?".

Risna tidak menjawab apa-apa, dia tetap menangis bahkan sampai tersedu-sedu. Sang guru lalu memerintahkan murid lainnya untuk mengantar Risna ke UKS, tempat di mana siswa yang sakit. Gue gak berkedip melihat ini semua.

Gue melirik kembali kertas yang ada di tangan, mencoba menela'ah dengan apa yang terjadi sebenarnya. Padahal gue tinggal mengambil langkah terakhir untuk membuat semuanya menjadi kenyataan, kertas ini senjata-nya.

"Risna .. Mau gak kamu jadi pacar aku?" Tulisan di kertas yang ada di tangan gue itu.

 

 

SILAHKAN BACA KELANJUTANNYA DALAM HEI BUDEK I LOVE YOU! PART3

TERIMA KASIH

  • view 154