Mungkin Kita Lupa Bersyukur

riza alhambra
Karya riza alhambra Kategori Inspiratif
dipublikasikan 12 September 2017
Mungkin Kita Lupa Bersyukur

Pagi itu, hari yang membuat hari ku amat berkesan, menyisakan pelajaran yang sangat berharga hingga mataku berkaca-kaca. Pagi itu aku sedang ada keperluan urusan kantor dari Stasiun Tebet menuju daerah Mega Kuningan. Aku menumpang taksi konvensional yang saat ini sudah tidaklah lazim. Taksinya pun sudah tua. Lalu, mulailah perbincangan itu. Aku sangat tertarik memulai pembicaraan itu. Seorang supir taksi yang tampak berpakaian sederhana, bahkan rambutnya sudah dipenuhi dengan uban. Aku pun memulai pembicaraan itu "bapak usia sekarang berapa pak", bapak itu menjawab singkat "usia saya sudah 68 tahun". Sontak aku pun terkaget-kaget, membayangkan lelaki yang sudah setua itu masih harus berkerja keras. "kenapa bapak narik taksi pak? tanyaku. ia pun menjawab, "iya, saya masih punya anak bungsu yang perlu biaya kuliah, anaknya baru lulus smu".

Seoarang ayah yang sedang berusaha memenuhi tanggung jawab dan mimpi anaknya. Supir taksi itu bernama Pak Ramli beranak empat. Menikah di usia yang boleh dibilang sudah tidak muda lagi, mungkin sekitar 37 Tahun. Pak Ramli sempat tidak memiliki keinginan menikah, karena dahulu dia sudah memiliki kekasih dan ingin menikahinya namun berada di kota yang berbeda. Namun, sejak kekasihnya meninggal dan tidak ada seorang pun yang memberitahunya, sejak itulah ia tidak memiliki keinginan untuk menikah.

Dia bercerita bahwa yang tertua anaknya berusia 29 tahun, pekerjaannya PNS tapi gajinya hanya cukup memenuhi kebutuhan keluarganya yang sudah menikah dan memiliki seorang dan memiliki cicilan motor. Pak Ramli tidak terlalu berharap banyak pada anak tertuanya untuk nendapatkan bantuan finansial.  Anak keduanya, masih belum mapan, dan memiliki bisnis sablon. Sedangkan anak ketiganya fokus pada pelatihan-pelatihan guru ikut proyek dari dosennya di kampus sehingga jarang pulang kerumah. Nah, anak bungsunya terakhir mencoba peruntukkannya masuk UNJ namun belum diterima. Kini anaknya sedang mencoba keberuntungannya di UNILA. Tapi baginya uang sejumlah Rp 2.500.000 untuk sekedar biaya kos dan kebutuhan anaknya hingga diterima kuliah, amatlah berat.

Beban berat untuk membiayai kuliah anaknya di depan mata di usianya yang sudah tua renta dengan perjalanan hidup anak bungsunya yang masih panjang. Usaha yang ia miliki yaitu berdagang, masih belum menutupi mimpi anak bungsunya, berkuliah. Sehari-hari hasil menarik taksi boleh dibilang hanya bisa menambah kebutuhan keluarga Rp 50.000-Rp 100.000. Dia pun berucap "ya disyukuri saja, masih banyak yang kehidupannya dibawah". Suatu ungkapan yang lahir dari keadaan yang sulit, bisa jadi. Mencoba berlapang hati, barangkali.

Pak Ramli mungkin tidak sendirian, banyak diluar sana para orangtua yang usianya sudah menua masih harus berjuang mengepulkan dapur keluarganya masing-masing atau bahkan masih harus memperjuangkan mimpi anak-anaknya. Mimpi menjalani hari tua dengan nyaman bersama anak cucu tentu tidak ada di dalam benak pak Ramli. Tidak mudah apa yang dijalani Pak Ramli, tapi ia memiliki kelapangan hati untuk menjalani hari-harinya, kemauan berusaha, dan rasa syukur yang ia tumbuhkan dalam kondisi paling berat sealipun. Bagaimana dengan kita yang memiliki kelapangan dalam segala hal? sudahkah kita selalu berucap syukur?. Mari kita berkaca dari hati yang paling dalam. Agama kita mengingatkan "Alhamdulillah ala kulli haal" (alhamdulillah atas setiap keadaan).

 

 

 

   

  • view 35