Jika Berpisah Selamanya, Semoga Disisi Orang Yang Kita Sayangi

riza alhambra
Karya riza alhambra Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 09 Juli 2017
Jika Berpisah Selamanya, Semoga Disisi Orang Yang Kita Sayangi

Rumi, ia adalah sahabat dekatku. Aku mengenalnya sejak 5 tahun silam, karena kami satu kantor. Menyaksikan kisah perjalanan hidupnya sungguh pilu. Hijrah ke jakarta sejak umur delapan belas tahun. Membiayai kuliahnya sendiri, dengan orangtua di kampung halaman, Lampung, latar belakang ibu bapaknya petani. Terlahir dari dua bersaudara.

Tak ada kisah hidupnya yang luput dari ku. Segala hal yang membuat hatinya pilu ditumpahkan padaku. Barangkali dia percaya. Itu yang disebut sahabat. Rumi ditinggal ayahnya sejak 3 tahun silam. Sehingga ia hanya memiliki satu-satunya yang paling berharga di dunia yaitu Ibu. Pernikahannya hanya bertahan 3 bulan, lalu bercerai, karena diperlakukan tidak baik oleh suaminya. Ia membesarkan seorang diri anak semata wayangnya berusia satu setengah tahun. Sungguh berat.

Lalu, kemarin, Jumat, 7 Juli 2017, ketika saya sedang makan siang di kantor. Dia mengirimkan berita yang sangat mengejutkan sekaligus memilukan "teman-teman, mama meninggal". Lalu, aku menelponnya, untuk memastikan keberadaannya. Hari itu, Rumi memang sengaja cuti karena ingin mengantar mamanya pulang ke Lampung pukul tiga. Ya, pulang ke kampung halamannya, Lampung. Hal itu sudah ku ketahui sebelumnya, bahwa mamanya sudah sangat ingin pulang ke kampung halaman setelah usai lebaran.

Tahun-tahun sebelumnya, biasanya mamanya sangat enggan berlebaran di Jakarta. Entah tahun ini, apa yang mendorong mamanya berkeinginan berlebaran di Jakarta. 

Setelah mendapatkan kabar mengejutkan itu, aku segera bergegas menuju kontrakannya. Mataku tak berhenti berkaca-kaca sepanjang menuju  kontrakannya. Dengan hanya didampingi para tetangganya, tanpa sanak saudaranya. Mengurus jenazah dan seluruh administrasinya dengan dibantu tetangganya. Sedang kakakknya baru datang setelah tiga jam kemudian, karena kakak lelakinya tinggal di Parung. ku tak bisa membayangkan, betapa beratnya menghadapi ujian seperti itu hanya seorang diri.

Sesampainya di kontrakannya, dengan didampingi para tetangganya. Dia bercerita, "mba, aku tadi tinggalin mama sebentar ke warung sebentar, cuma buat beli kardus, buat persiapan pulang ke lampung. Terus pas balik aku manggil mama, aku liat kaki mama, oh lagi tiduran kecapean barangkali. Kayaknya kejadiannya pas tadi mama lagi angkat jemuran agak tinggi. Terus cuaca juga aga panas. Pas aku samperin kakinya udah dingin, badannya kaku. Mba kalo ga ke warung tadi mungkin mama ga begini ya. Kan bisa aku dampingin mba (proses kematiannya). Mba, semua keinginannya hari ini udah aku penuhin, masak pepes ikan, tuh semuanya udah jadi, belum dimakan sama mama (dengan nada terisak)." Ku ketahui mamanya memang mengidap penyakit diabetes tipe satu dengan efek penyakit jantung. 

"mba, kemarin aku habis bertengkar sama mama, mama maafin aku ga yah". Atau pertanyaan lain "mba, bajunya mama bawa ke kampung ga yah?" aku hanya menjawab "bawa aja, kan mama sudah diapin karena memang sudah mau pulang kampung". Kalimat bernada penyesalan, atau menyalahkan diri sendiri keluar dari mulutnya. Aku memakluminya.

Apa yang terjadi adalah kehendak Allah swt, bahwa ia wafat dalam keadaan disisi orang yang disayanginya, anaknya. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jika ibundanya wafat dalam keadaan seoarng diri, tanpa suami dan anak. 

Bagiku, apa yang terjadi pada dirinya, bagai tamparan keras ke wajahku. Tentang kekuatan memaafkan yang tak boleh ditunda, karena pada dasarnya memang hubungan anak dan orangtua pasti akan diwarnai perbedaan pendapat atau bahkan perdebatan. Itupun terjadi padaku. Nyatanya memaafkan sungguh tidak mudah dilakukan. 

Satu hal lagi, turuti apa yang orangtua inginkan, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa menit ke depan. Barangkali, bisa jadi seperti ibunda Rumi yang benar-benar pergi ke kampung keabadian. Allah, wafatkan kami dalam keadaan baik, dihari baik, dan berada disisi orang yang kita sayangi. Aamiin. 

Cimanggis, 9 Juli 2017.

 

  • view 99