DI PENGHUJUNG SENJA

Risya Hanika
Karya Risya Hanika Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Juli 2016
DI PENGHUJUNG SENJA

DI PENGHUJUNG SENJA

Sore itu langit sangat mendung,… perlahan rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membasahi halaman rumah tua yg berada di sebuah sudut gang . Seorang kakek tua terlihat sedang duduk di beranda rumah itu. Rumah itu terlihat sangat asri, walaupun bangunannya tak lagi segagah rumah-rumah yg ada di sekelilingnya. Halamannya penuh dengan pepohonan yg rindang serta bunga-bunga yg berwarna-warni menambah keindahan rumah tua tersebut. Kakek tua itu merenung membayangkan apa yang akan terjadi nanti di hari tuanya ini. Bayang- bayang kelabu tentang hari tua yang suram., atau mungkin di terlantarkan oleh anak-anaknya yang tak pernah lagi datang menjenguknya atau sekedar bertanya apa kabarnya.

“Assalamualaikum……….” Suara seorang anak gadis membuyarkan lamunannya
“Wa’alaikum salam…….” Jawab sang kakek, “dari mana saja kau nak?
Mengapa baru sore begini kau baru pulang?” lanjutnya,
“Iya yah tadi di sekolah kebetulan ada rapat bulanan rohis jadi KeKe harus terlambat pulang yah,… maaf ya yah”
“Ya sudah tidak apa- nak, kau sudah makan ke?”
“sudah yah,… Ke tadi makan di sekolah.”
“mandilah, sholat ashar jangan lupa ya nak.”
Iya yah…”
keke berlalu meninggalkan sang ayah kembali dalam lamunan senjanya.

M. Rustam Effendi seorang pensiunan tentara yang memilki 2 orang putra dan 2 orang putri, ia tinggal bersama putri kecilnya Keysia Ramadhani. Ketiga anaknya yang lain telah menikah dan punya kehidupan sendiri, mereka sibuk dengan kehidupan mereka sendiri hingga lupa dengan sang ayah yang saat ini sangat membutuhkan mereka, bukan dari segi materi tapi kasih saying dan perhatian mereka untuk sang ayah yang tua renta. Setelah kepergian istrinya 3 tahun yang lalu, pak rustam begitu orang-orang kampung memanggilnya, ia seperti kehilangan semangat untuk hidup. Hanya Keke satu-satunya harapan yang Ia punya. Ia banyak menghabiskan waktu di warung, mesjid atau di forum pengajian dan mingguan yg ia ikuti.

Masa tua yg ia jalani penuh dengan warna-wani kehidupan yg memenuhi raut wajahnya, seolah ingin menggambarkan sebuah perjalanan panjang yg telah ia lalui.
Mungkin beginilah gambaran perjalanan seorang pensiunan yg tak lagi aktif di bidang pekerjaan yg telah ia geluti puluhan tahun.

Seperti Pagi ini,… Pak Rustam tertuduk sendirian di teras rumah berteman embun yg menitik perlahan di sela dedaunan. Masih sama seperti hari kemaren tak ada yg istimewa.
Hanya ada sepi dan sunyi yg menemani. Keke datang menghampiri sang Ayah membuyarkan lamunan sang ayah.
“Yah, ke berangkat ya,…”
“Iya nak,.. hati-hati di jalan ya,..:
“Iya yah,.. assalamualaikum”
“wa alaikum salam”

Malam ini, tak seperti biasanya Pak Rustam lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Sholat magrib yg biasanya ia laksanakan di Mesjid yg terleatk tak jauh dari rumah
Hari ini hanya di laksanakan di dalam kamar saja. Selesai sholat, alunan suara pak Rustam terdengar perlahan melantunkan ayat-ayat suci alqur’an. Terdengar merdu dan menyamarkan hati yg mendengarkannya. Malam semakin larut, suara pak Rustam perlahan menghilang tak lagi terdengar walau sayup sekalipun.

Azan Subuh, seketika membangun kan Keke dari tidur lelapnya. Di antara kantuk dan sadarnya ia menuju ke dapur membersihkan diri dan berwudhu’. Membasuh satu persatu bahagian tubuhnya, mencoba melawan dingin dan kemalasan yg mencoba menggoda untuk tetap berbaring. Ia pun mulai berbenah, hingga sesaat tersadar bahwa sang Ayah masih belum keluar dari kamar tidurnya. Ia lalu berjalan menghampiri kamar tidur sang ayah. Mengetuk nya beberapa kali sambil memanggil sang Ayah. Tak ada sahutan dari dalam, tetap hening tak bersuara. Keke pun membuka pintu kamar secara perlahan. Namun betapa terkejutnya ia ketika mendapati sang Ayah tergeletak di atas sajadah yg masih membentang, alqur’an yg masih terbuka.

Pagi itu pak Rustam telah pergi bersama sunyi dan sepi yg selalu menjadi teman sejati sebagai pengobat hati. Ia pergi dalam diam tak bersuara tanpa kata hingga tak seorang pun tau bahwa ia telah menghadap kembali kepada Sang Pemilik nya.

Pagi itu ada isak tangis Keke yg terdengar sayup di kejauhan, seolah mencoba menggambarkan hancurnya hati sang gadis kecil yg hari ini tak lagi berayah dan tak punya ibu,..

Sunyi dan sepi di rumah mungil itu semakin mendekap seolah tak mau pergi tak ingin berlalu, masih ingin tetap menemani dan menghampiri,..


Medan, 14 July’16
Meja kerja ku… ^___^

  • view 212