Pria Musim Panas

Rissa Anggriani
Karya Rissa Anggriani Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Maret 2016
Pria Musim Panas

Kutarik mantelku lekat-lekat, kubiarkan ia membungkusku sampai benar-benar hangat.

Pagi ini dingin sekali. Tetesan-tetesan hujan subuh tadi masih tersisa beberapa.

Lalu aku merasa seseorang menggenggam tanganku.

"Ayo berangkat bersama.", katanya datar.

Aku hanya diam. Menggenggam tangannya selalu terasa hangat. Lebih hangat dari mantel yang kukenakan.

Entah sihir apa yang ada di antara kita.

Tetapi kita sangat-sangat berbeda dalam banyak hal. Kupikir itu akan melengkapi satu sama lain. Lambat laun, semuanya terasa tak masuk akal.

"Kita akhiri saja, Sam.", kataku pelan. Sejujurnya itu kata favoritku yang sering kutujukan padanya.

Ia diam tak menjawab, tetapi tanganku di genggamnya lebih erat. Di bisukan waktu, tak terasa sudah sampai di persimpangan jalan. Lalu ia melepas genggamannya dan berlalu pergi. Untuk kesekian kalinya aku hanya berhasil menyaksikan punggungnya tanpa ia menoleh atau tersenyum sekalipun.

Aku tidak berhasil menopang tubuhku, rasanya mau mati saja. Aku duduk di halte sambil menangis sesegukan. Tidak peduli waktu yang berjalan maju atau matkul pagi ini yang benar-benar di mulai setengah jam lagi. Aku hanya ingin waktu berputar kembali ke masa lalu sekali saja atau setidaknya berhenti selamanya.

---

Sam, itu kali terakhir kita bertemu. Kau benar-benar tahu itu tetapi kutahu kau juga takkan mungkin bisa mengucapkan 'selamat tinggal'. Seandainya kita berandai-andai, aku ingin bertemu lagi denganmu.

Tua bersamamu, seperti apa rasanya?

Aku ingin kita tak berbeda seperti ini. Seandainya kita seagama, seandainya orang tua kita ada di jalan yang sama-sama kita inginkan. Seandainya kita tak seserius ini.

Aku ingin bertemu denganmu dalam keadaan yang benar-benar sederhana seperti yang orang lain alami.

"Aduh.."

"Oh hai maaf, aku tidak pernah mengepel lantai jadi kau harus berhati-hati"

"Mengepel lantai?"

"Oh yah, aku tidak terlalu suka dengan pelajaran seni keterampilan. Jadi aku tidak mengerjakan satu tugaspun dan ini hukumannya."

Aku hanya terkekeh

"Oiya aku Sam."

"Junita"

Pria musim panas, aku hanya hujan deras yang tak sengaja hadir dalam takdir hidup yang kau miliki. Aku adalah asing. Jadi aku tak seharusnya menetap untukmu.

Tetapi jika kita bertemu lagi di kehidupan yang lainnya, aku tidak akan meninggalkanmu.

Pria musim panas, mungkin jika saat itu ada kita adalah musim semi yang panjang.

  • view 154