Kegalauan Menuju Rumah Tangga - Denganmu,,

Rispira Lubis
Karya Rispira Lubis Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 14 Juni 2016
Kegalauan Menuju Rumah Tangga - Denganmu,,

Teruntuk Engkau, Abang...

Kau tahu, Bang. Semakin hari semakin banyak yang kurasakan menjelang hari pernikahan kita. Kata mereka hal itu lumrah terjadi bagi pasangan yang mau menikah. Ibadah, apapun bentuknya tidak pernah luput dari godaan syaitan. Bukankah Menikah juga adalah Ibadah!! meski begitu, maukah engkau mendengarku untuk sesaat. Berbagi segala kerisauan itu berdua dan tidak membiarkanku merasakannya seorang diri. Sudikah engkau mendengarkanku, Abang?

Aku sudah tidak lagi perduli dengan rasa cemas atau keraguan semacamnya. Semua itu sudah larut di dalam doa yang kupanjatkan kepada Tuhan yang maha Esa. Kini ada perasaan lain yang lebih besar dibandingkan hal tersebut. Perasaan yang semakin hari semakin menggerogoti hatiku, membuat jiwaku tidak tenang. Aku merasa sedih. 

Kedua orang tuaku, Abang. Sulit sekali rasanya membayangkan hidup jauh dari mereka. Rasanya lebih dari sulit namun begitu amat sulit bagiku. Hampir seluruh hidupku bersama dengan mereka. Aku menyayanginya, kurasa engkau pun tahu hal itu kan. 

Semua teman-temanku. Jujur saja seharusnya aku tidak memikirkan sesuatu hal sepele seperti ini, namun tetap saja membuatku sedih. Ya, aku sedih abang. Entah sudah berapa lama kami melalui waktu, sudah berapa lama guyonan dan celaan yang kami rasakan. Sudah berapa banyak tempat kami datangi bersama. Berbagi dan bergunjing tentang apa saja, hal yang tidak penting hingga yang sangat penting. Bagaimana caranya kukatakan pada mereka bahwa mungkin, aku tidak lagi bisa melakukan hal gila itu lagi selama hidupku. 

Mencintaimu, bagaimana caraku mencintaimu dengan benar nanti. Kita baru bertemu 3 bulan, menjalin ikatan tidak seperti pasangan lainnya. Entah Kau menyebutnya apa. Kita hanya berbincang via telfon, datang kerumahku dan bertemu dengan keluargaku tanpa ada sedikitpun kesempatan kita berdua berbincang lama membahas semua yang perlu dibahas. Bagaimana nanti jika kau membuatmu kecewa? bagaimana jika nanti kita saling menyakiti. Bagaimana caranya aku mencintaimu nanti. 

Rasanya banyak sekali yang berterbangan di atas kepalaku. Semakin hari semakin banyak. 

Rasanya akan banyak sekali yang kutinggalkan nanti, demi taat kepada engkau. 

Kau tahu, kalau aku dan teman-temanku selalu membicarakan soal pernikahan. Secara teori kami seolah sudah sangat paham seperti apa rumah tangga itu. Bahkan berani berkomentar pada rumah tangga orang lain. Kini, baru kusadari bahwa tidak ada satupun yang kupahami soal rumah tangga. Aku bahkan tidak lebih baik daripada seluruh wanita yang sudah lebih dulu menikah sebelum diriku. Aku, hanya pecundang yang berkoar-koar tentang teori pernikahan. 

Namun, di atas semua kegalauanku aku menemukan satu hal Abang. Satu hal yang penjabarannya begitu luas. 

bahwa Pernikahan adalah sebuah keikhlasan. Menikah adalah ibadah, bukankah ibadah harus dijalani dengan ikhlas?! 

Ikhlas menerima engkau, menerima perbedaan engkau dengan pria lain.

Ikhlas meninggalkan semua yang sudah kujalani bertahun-tahun demi mendapat keridhaanmu. 

Ikhlas pada ketentuan Illahi atas apa yang akan terjadi nanti.

Kuyakini bahwa buah sabar yang kuterima saat ini adalah engkau yang diberikan Allah kepadaku. Buah sabar penantian panjang selama ini. Seseorang yang bertahan dan menawarkan sebuah ikatan pernikahan, dan bukan hanya sebuah ikatan main-main. 

Kuyakini, yang baik akan berpasangan dengan yang baik. 

Kuyakini, berpacaran setelah menikah akan jauh lebih manis. Seperti yang selalu kau katakan padaku ketika aku merajuk bahwa kita jarang sekali berjumpa. 

Biarlah semua pertanyaan dan rasa sedih itu melebur bersama doa dan waktu. Seperti perasaan-perasaan lainnya yang ikut melebur bersama doa dan airmata. 

Terima kasih, Abang. Sudah memilihku.

 

  • view 111