Batas itu kamu, dan bukan aku

Risma Ma'rifah
Karya Risma Ma'rifah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Juli 2016
Batas itu kamu, dan bukan aku

Aku belajar banyak hal dari tiga kata ini, batas, kejujuran dan rasa percaya. Seseorang dulu pernah mengisi sebagian kehidupanku. Memberikan tanda tanya besar yang bisa kujawab dan kupahami dalam waktu yang sangat panjang. Aku memahaminya hari ini, setelah tahun-tahun berlalu, setelah hampir 3 tahun pergi meninggalkan .

Kita tidak akan pernah bisa memaksakan segala sesuatu agar sesuai dengan kehendak kita. Bukankah itu teramat egois untuk makhluk bergelar manusia? Ya.

Hari ini aku memahami bahwa kejujuran dan rasa percaya itu memiliki batas. Batas yang hanya diri kita sendiri yang mampu menembusnya. Batas yang kita buat sangat tinggi agar orang lain tidak bisa menggapainya. Batas yang teramat kokoh yang tidak bisa digoyahkan dan dirobohkan orang lain. Batas yang hanya bisa kita berikan untuk orang-orang terbatas saja, orang-orang, dan mungkin hanya seorang saja yang bisa menembus batas yang kita buat, batas yng sengaja kita hilangkan hanya untuk seseorang tersebut. Sehingga ia bisa menyelami kedalam jiwa kita yang kita berikan dengan kejujuran dan rasa percaya.

Mungkin sampai saat ini aku tidak bisa memahami makna di balik nama yang kamu tulis. Ya, karna aku tidak mampu untuk menembus batas yang kamu buat. Sekalipun aku berusaha untuk memanjat, namun aku jatuh karna terlalu tinggi. Sekalipun aku berusaha memukul batas itu keras-keras agar roboh, namun itu terlalu kokoh. Aku hanya melukai kaki dan tanganku hingga berdarah hanya untuk berusaha menembus batas itu. Tapi aku tidak bisa. Batas itu mungkin tidak akan pernah hilang, karna mungkin itu bukan aku.

Aku akan memahami batas yang kamu bangun. Aku tidak akan berteriak lagi untuk memintamu menghilangkan batas itu, apalagi memaksamu untuk merobohkannya. Aku hanya akan menunggu sampai kamu yang bersedia menghilangkan batas itu. Kalaupun tidak, tak mengapa. Karna itu adalah sepenuhnya hak-mu.

Aku hanya mengerti yang bahkan ternyata mengerti saja tidak cukup untuk hal ini.

Terimakasih untuk batas yang kamu buat, terimakasih untuk batas yang kamu bangun dengan tinggi dan kokoh. Karena dengan itu, aku mendapatkan pelajaran hidup yang sangat berharga. Pelajaran yang mungkin tidak pernah aku dapatkan dari orang lain.

Terimakasih.

Banjaran, 21 Juni 2016