Lelakiku

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Maret 2016
Lelakiku

"Kapan menikah, Tari?"

Selalu pertanyaan itu. Sampai bosan aku mendengarnya. Hanya gara-gara aku masih sendiri di usiaku yang hampir berkepala tiga ini, orang-orang di sekitarku seolah kebakaran jenggot. Rasa was-was yang sangat berlebihan kurasa. Terutama ibuku.

"Semua temanmu sudah menikah, lho, Nduk," Ibu menatapku dengan pandangan sedih. Aku hanya terdiam. Tak berani menyanggah kata-kata ibu.

Sebenarnya aku telat menikah bukan karena aku ini gadis yang tidak laku. Bukan, bukan karena itu. Banyak laki-laki yang mendekatiku. Hanya saja aku ini orangnya pilih-pilih. Aku ingin mencari laki-laki yang terbaik.

"Jangan menunda-nunda menikah, Nduk," kembali ibu menegurku.

"Bu, aku ingin laki-laki yang baik seperti ayah," akhirnya aku mengemukakan alasanku.?

"Ayahmu juga bukan orang yang sempurna, Tari. Ayahmu pun memiliki banyak kekurangan."

"Tapi setidaknya ibu terlihat bahagia saat hidup berdampingan dengan ayah," ujarku tersenyum. Mendengar penuturanku ibu hanya menarik napas panjang.

***

Figur ayah memang melekat erat di benakku. Ia seorang laki-laki penyayang. Imam yang baik. Penyabar dan setia. Kesetiannya pada ibu dibawanya hingga ke liang kubur.

Jaman sekarang ini mencari sosok seperti ayah sungguh sangat sulit. Bagai mencari jarum di atas tumpukan jerami. Kesetiaan menjadi barang langka yang cukup mahal. kebanyakan laki-laki jaman sekarang pandai berbohong. Mengaku setia, tapi di belakang suka menikung. Ah, sudahlah. Aku tak mau membahas soal itu. Intinya aku belum menemukan sosok yang sesuai dengan keinginanku.

Sampai suatu hari, Mas Ahmad, sepupuku, datang ke rumah membawa berita yang mengejutkanku.

"Tari, ada seorang temanku yang sedang mencari istri. Bukan pacar," Mas Ahmad berkata bersungguh-sungguh.

"Lalu apa hubungannya denganku?" tanyaku sedikit tersinggung.

"Tari, dengar dulu. Kamu boleh menolak jika memang ia tidak sesuai dengan pilihanmu. Tapi aku rekomendasikan, temanku ini seorang laki-laki yang sangat baik. Terutama ibadahnya."

"Ini bukan jaman Siti Nurbaya, Mas."

"Iya, aku tahu. Tapi tak ada salahnya kan, kamu membuka hati? Patah hati terlalu lama itu tidak baik, Tari," Mas Ahmad menepuk pundakku.

"Bawa saja temanmu itu kemari, Ahmad. Siapa tahu aku merasa cocok," ibu menimpali.

"Ha? Ibu yang merasa cocok?" aku merasa geli mendengar penuturan ibu.

"Piye, to, Nduk. Kamu menikah itu bukan untuk dirimu sendiri," Ibu mengumbar senyum.

'Bagaimana?" Mas Ahmad menegaskan.

"Baiklah. Jika sekedar berkenalan, aku tidak keberatan," akhirnya aku menyerah.

"Tapi sebelum itu, Tari. Kusampaikan padamu. Temanku ini seorang tuna daksa," Mas Ahmad menatapku serius.

"Maksud Mas?" aku terlonjak kaget.

"Kaki kanannya cacat sejak lahir. jadi jalannya sedikit timpang."

Aku terdiam. Ya, Allah. Apa-apaan ini. Mengapa Mas Ahmad malah memperkenalkan aku pada laki-laki yang cacat? Sedemikian tidak lakunya-kah aku?

"Tari, sekali lagi kamu bebas menentukan sikap. Jika kamu merasa tidak suka, kamu berhak menolak," Mas Ahmad berdiri. Lalu sepupuku itu pamit meninggalkan rumah kami.

***

Mas Ahmad akhirnya menepati janjinya membawa temannya itu ke rumah. Kami pun diperkenalkan. Nama laki-laki itu Ibrah.

"Maaf, mungkin Mas Ahmad sudah menceritakan tentang diri saya. Keinginan serta kekurangan-kekurangan saya," laki-laki itu membuka percakapan.

"Nak Ibrah, silakan kalian saling mengenal dulu," ibu mewakili diriku. Selama pertemuan itu aku memang lebih banyak diam. Tapi diamku memperhatikan.

Mas Ibrah hanya bertamu sebentar. Beberapa saat?kemudian?ia pamit pulang.

"Bagaimana menurutmu, Tari?" tanya ibu hati-hati.

"Laki-laki itu, Bu? Biasa saja. Tidak ada yang istimewa," aku menyahut. Tampaknya ibu sangat kecewa dengan ucapanku.

***

Satu minggu usai pertemuan singkat itu, Mas Ahmad menghubungiku lewat telpon. Ia menanyakan kepastian apakah aku berkenan meneruskan hubungan dengan Mas Ibrah.

"Tari, Ibrah menunggu keputusanmu. Jika kamu oke, maka ia akan segera melamarmu."

"Secepat itu, Mas?"?

"Dalam Islam tak ada istilah pacaran. Pertemuan kalian kemarin adalah proses ta'aruf, Tari."

Aku belum mampu menjawab. Aku minta waktu untuk mempertimbangkannya lagi.

Tengah malam usai menerima telpon dari Mas Ahmad aku memutuskan untuk sholat istikharah. Memohon petunjuk kepada Allah mengenai keputusan terbaik yang hendak kuambil.

Usai melaksanakan sholat aku masih berkutat dengan perasaanku. Antara bersedia dan tidak.

Esoknya, aku menemui ibu. Kukatakan aku menerima kehadiran Mas Ibrah. Tentu saja ibu sangat gembira mendengarnya. Beliau sampai meneteskan air mata saking terharunya.

"Biar ibu yang menghubungi Ahmad, ya, Nduk," ujar ibu. Aku mengangguk.

***

Satu bulan kemudian, Mas Ibrah resmi mempersunting diriku. Usai prosesi pernikahan, laki-laki yang kini menjadi suamiku itu mengajakku untuk menempati rumah baru.

"Tari, rumah sederhana ini aku beli dari hasil keringatku yang halal. Semoga kamu betah dan senang tinggal di sini. Mari kutunjukkan kamarmu," ia berjalan mendahuluiku.

"Kamu tidur di sini ya. Sementara aku tidur di kamar kita."

Aku terdiam.

"Tari, aku tahu kamu belum sepenuhnya menerima kehadiranku. Keputusanmu untuk menikah denganku, mungkin karena kamu tidak ingin mengecewakan ibumu, atau kamu merasa kasihan padaku. Aku memakluminya."

Mas Ibrah menatapku sejenak. Aku masuk ke dalam kamar dengan dada penuh sesak.

***

Sejak tadi ponselku berkedip-kedip. Banyak sekali pesan yang masuk. Dari teman-teman dan kerabat dekatku. Mereka mengucapkan selamat atas pernikahan kami.

"Barokahllah, Ya, Tari. Cepat dapat momongan."

"Selamat menempuh hidup baru, Tari. Semoga Sakinah, Mawadah dan Warahmah. Amin...."

"Jangan tunda-tunda malam pengantinnya ya, Tari."

Dan masih banyak lagi pesan-pesan penuh kebahagiaan mengiringiku. Begitu banyak kalimat doa terucap untukku. Lalu mengapa aku sendiri masih meragukannya?

Kegelisahan mulai merasuki jiwaku. Aku menutup wajahku dengan bantal. Nyatanya kegelisahan tetap tak mau pergi. Kuputuskan untuk melakukan sholat malam agar hatiku tenang.

Aku bermaksud mengambil air wudhu. Ketika hendak ke kamar mandi secara tidak sengaja aku berpapasan dengan Mas Ibrah di ruang tengah.

"Tari mau wudhu juga? Biar kuantar, ya." Mas Ibrah berjalan mendahuluiku.

"Tari mau sholat berjamaah?" tanya Mas Ibrah begitu aku keluar dari kamar mandi.

"Eh, iya...Mas."?

"Di mana? Di kamar Tari atau di kamar kita?"

"Emm, anu, Mas. Di kamar kita saja..." aku menyahut malu-malu. Wajahku memerah.?

***

Malam itu untuk pertama kalinya Mas Ibrah menjadi Imamku. Sajadahku basah oleh air mata haru dan bahagia. Aku menangis memohon ampun kepada Allah atas keraguanku terhadap pilihan-Nya. Selama ini hatiku bimbang karena ketidaksempurnaan fisik Mas Ibrah. Aku lalai, tidak melihat kesempurnaannya sebagai laki-laki yang beriman.

Kami berdoa cukup lama. Segala perasaan tertumpah ruah. Mas Ibrah memunajahkan bait-bait doanya dan aku mengamini.

Doa-doa telah usai. Mas Ibra menoleh ke arahku. Ia mengulurkan tangan kanannya. Gemetar aku menyambut tangan suamiku itu. Kucium tangan itu berlama-lama. Ada perasaan lain yang teramat indah tengah memenuhi jiwa ragaku.

***

10 Maret 2016

?