Edelweis Biru untuk Zi

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Maret 2016
Edelweis Biru untuk  Zi

Zeriko membetulkan tali sepatunya yang terlepas. Sementara Zi, gadis berusia delapan belas tahun itu menatapnya tak berkedip.

"Sebentar lagi aku berangkat. Aku pasti akan membawakanmu Edelweis itu, Zi," Zeriko berdiri. Mengembangkan senyum ke arah Zi yang masih berdiri mematung.

"Kamu yakin?" Zi berkata pelan.

"Maksud kamu?" Zeriko mengangkat alis.?

"Kamu yakin bisa membawakan aku Edelweis berwarna biru?" Zi bertanya dengan suara bergetar. Zeriko mendekat. Menyentuh pundak gadis itu.

"Aku akan berupaya mencarinya, Zi. Untukmu," Zeriko kembali tersenyum.

?

***

Itulah kalimat terakhir yang diucapkan Zeriko sebelum ia benar-benar pergi. Kalau saja waktu itu Zi bisa mencegahnya. Ya, Zi ingin mencegahnya. Ia ingin Zeriko tidak usah pergi. Ia ingin Zeriko tetap berada di sini bersamanya.

Tapi keinginan Zeriko tak bisa dihalangi. Jiwa petualangannya selalu menggebu-gebu. Ia memang pecinta alam sejati. Dan mendaki gunung adalah tantangan yang paling disukainya.

"Tiga orang pendaki dikabarkan hilang. Tim SAR kini sedang mengadakan pencarian." Seorang reporter melaporkan berita terkini melalui stasiun televisi swasta.

Dan berita itu semakin membuat hati Zi teriris. Manakala ia tahu, salah satu dari ketiga pendaki yang hilang itu adalah Zeriko!

?

***

"Zi, ini malam keempat puluh sejak kepergian Zeriko. Kamu harus ihklas," Riri memeluk pundak Zi erat.

"Zeriko jasadnya belum ditemukan, Ri. Berarti ada kemungkinan ia masih hidup...."

"Tapi Tim SAR sudah menyatakan...."

"Sudah! Jangan bilang Zeriko sudah mati! Ia masih hidup Ri! Dan ia akan pulang membawakan aku Edelweis biru...."

Riri hanya terdiam.

?

***

"Kamu benar, Ri. Zeriko memang sudah mati," Zi memilin-milin ujung rambutnya.

"Kamu harus ihklas, Zi."

"Eh, dokter, apa kabar?" Zi beranjak dari duduknya. Menyalami dokter Sebastian yang melintas di depannya.

"Bagaimana keadaanmu, Zi?" dokter muda yang tampan itu menghentikan langkah.

"Baik, dokter."

"Syukurlah. Kamu sudah bisa menerima kenyataan bukan?"

Zi mengangguk. Tanpa sengaja mata gadis itu tertumbuk pada sepatu dokter Sebastian.

"Mengapa dokter memakai sepatu itu? Lepaskan dokter! Dokter telah membunuhnya dan merampas sepatu milik Zeriko!" Zi menubruk dokter muda itu secara membabi buta.

Dua orang petugas berseragam putih berlari-lari menghampiri. Secepat kilat mereka memborgol tangan Zi dan membawanya masuk kembali ke kamar khusus pasien sakit jiwa.

***

09 Maret 2016