Untuk Cinta yang tak Memiliki Logika

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 26 Februari 2016
Untuk Cinta yang tak Memiliki Logika

Tentang cinta, aku setuju dengan syair yang dinyanyikan oleh Agnes Mo. Cinta tak ada logika. Bahkan untuk seorang wanita sepertiku, yang secara umur tak pantas lagi membicarakannya, pun masih tetap beranggapan, yang namanya cinta memang tak pernah memiliki logika.

Adalah dia. Sae. Laki-laki muda yang baru saja lulus kuliah. Yang selama ini sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Yang entah mengapa, membuat logikaku benar-benar lumpuh.

Secara fisik dan penampilan Sae biasa-biasa saja. Bahkan ia tak lebih tampan dari Oki, suamiku. Maaf, aku tidak bermaksud membandingkan keduanya. Tapi memang begitulah kenyataannya.

Aku sadar pernyataanku ini akan mengundang asumsi yang buruk. Seorang wanita yang sudah bersuami, usia di atas tiga puluhan, sudah punya anak, mengapa masih "memperhatikan" laki-laki lain yang usianya jauh di bawahnya? Wanita macam apa dia? Di mana ia meletakkan otaknya? Apalagi sang suami bukanlah orang sembarangan. Memiliki kedudukan terhornat. Disegani dan berduit banyak.

Logikanya, jika aku tertarik pada laki-laki lain, harusnya ia lebih segala-galanya dari Oki. Bukan pada Sae yang masih bau kencur. Yang belum juga memiliki pekerjaan. Semut pun pasti menertawakanku.

Tapi begitulah. Saat mata tidak lagi terkecoh oleh gemerlap dunia yang penuh muslihat dan kepalsuan, maka ia akan beralih pandang melihat dari sisi yang lain, menggunakan mata lain. Mata hati.

Sae, padanya aku menemukan kedamaian. Ia memiliki hati yang lembut. Penyabar. Lebih tepatnya, ia seorang pendengar yang baik. Sangat baik.

Bercakap dengan Sae serasa menemukan telaga bening nan sejuk yang selama ini tak pernah kulihat pada diri Oki.

Maaf, maafkan sekali lagi, jika aku harus mengatakan ini.

Sejak jabatan Oki melambung, ia jarang menyisihkan waktu berdua denganku. Ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Pergi pagi dan pulang malam menjadi agenda rutin yang wajib dijalaninya. Ia nyaris tak memberiku kesempatan untuk sekedar menyandarkan kepala di pundaknya yang kokoh.

Ketika materi lebih mendominasi dan uang dianggap bisa menggantikan segalanya, termasuk membeli waktu, jangan salahkan hati jika perlahan ia mulai menjauh.

Sudah, aku sudah mengajak Oki bicara empat mata. Dari hati ke hati. Berharap ia membimbingku. Atau paling tidak? mengembalikan logikaku yang mulai terkikis ke muasalnya.

Tapi Oki lebih menghargai dan mencintai pekerjaannya.

Kini hanya Sae tempatku menuju. Hanya dia.

Meski kami berusaha untuk tetap menjaga jarak, selayak kakak dan adik yang saling menghormati, toh aku tak bisa membohongi perasaanku. Aku membutuhkan Sae lebih dari sekedar teman curhat.

Jika pada akhirnya timbul getar yang mengagetkan sekaligus menyenangkan, itu semata-mata karena khilafku. Aku telah membiarkan benih-benih itu tumbuh tanpa berusaha mencegahnya.

Benih yang benar-benar tidak pedulikan logika....

***

Sepanjang perjalanan menuju hari yang kian tak jelas mengenai hubunganku dengan Oki, kehadiran Sae cukuplah sebagai yang menguatkan.

"Kak Za harus tetap sabar...dan yakin akan kekuatan doa," begitu kerap kali ia mengingatkanku.

"Sabar dan doa, ya, Sae. Dua kata yang cukup ampuh sebagai senjata pamungkas," aku tersenyum kecut.

"Kakak terlalu baper," ujarnya tanpa bermaksud mengolokku.

Mungkin ia benar. Aku memang terlalu terbawa perasaan atas kehidupanku sendiri.

"Sae, kakak ingin berpisah dari Oki...."

Wajah Sae seketika berubah. Ada selintas kejut yang tak bisa ia sembunyikan.

"Tidakkah kalian berusaha mencari celah? Andai memang benar pintu utama sudah tak bisa dilalui lagi," tuturnya lirih. Aku, dengan dominasi keakuanku, menggeleng angkuh.

Sae terdiam.

Sementara aku semakin membiarkan logikaku lumpuh.

?

*Insya Allah kelak bersambung pada : # Kami Punya Kisah #

?

  • view 121

  • Putri Al Fatih
    Putri Al Fatih
    1 tahun yang lalu.
    tokoh yang sama dengan cerita selanjutnya, kenapa tidak dibuat satu hastag biar lebih seru

    • Lihat 2 Respon