Ketika Kejujuran Bicara

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Februari 2016
Ketika Kejujuran Bicara

Minggu belakangan ini ada yang mengganjal pikiranku. Aku harus segera menyelesaikannya. Karena sungguh, terlalu lama mengendapkan sesuatu, membuatku merasa sangat tersiksa.

Aku harus bicara jujur padanya. Harus.

Maka saat ia muncul, aku pun menghimpun keberanian.

"Kak, aku ingin bicara, serius..." ujarku seraya duduk di sampingnya.

"Bisakah tidak hari ini? Aku sedang banyak pikiran," ia menatapku dengan pandangan sayu. Kelelahan tampak jelas di wajahnya yang tirus.

"Tapi, Kak, ini...."

"Maafkan aku, Fa, aku benar-benar ingin istirahat sejenak. Please, mengertilah," ia menghela napas panjang. Aku terdiam. Kalimat yang sudah kutata rapi tiba-tiba lenyap.

"Fa, tadinya aku ingin melepas lelah di sini. Tapi setelah kupikir-pikir, lebih baik aku pulang saja," ia beranjak dari kursi.? Mendengar penuturannya, alis mataku mengernyit.

"Kakak baru saja datang dan sekarang sudah mau balik? Apakah Kakak merasa tidak nyaman lagi berdekatan denganku?" tanyaku sedikit tersinggung. Ia tidak menjawab. Aku tahu, ia memang selalu begitu.

Aku melepas kepergiannya dengan dada penuh.

#

Dua hari sesudahnya, akhirnya kesempatan itu ada. Kami duduk satu meja dan memutuskan untuk saling bicara.

"Bolehkah aku yang bicara dulu, Kak?" tanyaku agak bergetar. Ia mengangguk. Kesedihan tampak menyelimuti wajahnya.

"Kak, maafkan aku...." ujarku lirih.

"Maaf untuk apa?"

"Untuk kejujuranku ini...."

"Katakanlah. Bagaimanapun juga jujur selalu lebih baik meski terkadang menyakitkan," ia meredupkan matanya.

"Kak, aku telah jatuh cinta...."

"Pada yang selain aku?" ia merendahkan suaranya. Aku mengangguk. Ia meraih tanganku. Menggenggamnya erat.

"Aku juga ingin bicara, Fa."

Kali ini aku yang mengangguk.

"Tapi berjanjilah, kamu tidak akan melakukan sesuatu yang membuat aku sedih. Menangis, misalnya...."

"Yup, aku janji...."

"Fa, aku telah...."

"Ada orang lain selain aku?" aku menyela dengan suara gemetar

Ia terdiam. Mendadak ia merengkuh aku dalam pelukannya. Erat.

"Maafkan aku, Fa."

Hh, aku benci diriku. Sangat. Bukankah tadi aku sudah berjanji tidak akan menangis? Tapi mengapa aku mengingkari janjiku sendiri?

Aku terisak di dekap dadanya yang bidang.

"Sudah, Fa. Cukup." Ia mengangkat wajahku. Menghapus air mataku dengan ujung jemarinya.

"Tidak boleh ada yang lain selain aku di hati Kakak," bisikku lirih.

"Apakah aku juga boleh meminta hal yang sama padamu?" ia menurunkan kepalanya. Aku masih tergugu.

"Jangan jatuh cinta pada yang lain, Fa..." bisiknya sama lirihnya dengan bisikanku.

Dan waktu pun seolah berhenti. Menunggu kejujuran semasing hati kami untuk bicara sebenar-benarnya.

?

###

?

?

?

  • view 95