Caramu Mencintaiku

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Februari 2016
Caramu Mencintaiku

Terkadang aku kesal padamu. Mengapa kamu tak pernah bersikap mesra padaku? Kamu tidak menggandeng tanganku di depan umum seperti yang sering dilakukan para pria yang mencintai kekasihnya. Kamu juga tak pernah bilang I love you atau memanggilku dengan sebutan sayang. Kamu biasa-biasa saja. Saat kita bertemu, kamu hanya menatapku sesaat. Lalu mengajakku bercakap tentang hal-hal yang menurutku sama sekali tidak menarik. Kamu bicara tentang komputer, urusan balik nama, Surat Hak Milik, rapat koordinasi Prona dan lain-lain yang tidak kumengeri.?

"Aku mesti bolak-balik ke Kantor Kelurahan. Pak Lurah yang baru sulit ditemui," ucapmu siang itu saat bertandang ke rumahku.

"Jadi itu alasannya kenapa kamu lama tidak datang ke sini?" ujarku ketus.

"Bukan, bukan seperti itu."

"Lalu kapan kamu menyisihkan waktu untuk kita berdua?" aku memprotes.

"Nantilah. Jika waktu berpihak padaku."

Rasa kesalku kian menjadi. Ingin rasanya aku menelan sendok atau garpu demi mendapat perhatian darimu.

"Yuk, kita makan di luar," ujarku membujukmu.

"Aku lebih suka makan di sini. Apalagi kalau kamu yang masak. Enak," kamu menyahut seraya melirik ke arah ponselmu yang berdering di atas meja.

"Telpon dari siapa lagi, sih..." aku mulai merajuk.

"Dari Pak RW, sebentar, ya..." kamu berdiri. Menjawab telpon yang masuk dan bicara cukup lama. Hh, rasa dongkol membuat aku diam-diam meninggalkanmu menuju ruang kerja.

Di depan laptop aku merutuk. Apes, apes, punya kekasih sama sekali tidak romantis. Aku kerap dicuekin. Eh, sebenarnya kamu itu sayang sama aku nggak sih?

Beruntung aku memiliki tempat pelarian yang positif. Menulis. Setiap kali aku kesal atau marah padamu, buru-buru aku menumpahkannya dalam bentuk tulisan. Entah itu berupa puisi atau cerita fiksi yang mampu membuat aku lupa akan kekesalanku.

Tak kusadari sudah berjam-jam aku asyik merangkai kata.

"Masih lama?" suaramu mengagetkanku. Rupanya sejak tadi kamu duduk menungguiku.

"Nggak istirahat dulu? Nanti kamu kecapean," kamu berdiri dan mengelus rambutku.

"Sebentar, jangan ganggu konsetrasiku," aku menepis tanganmu. Kamu duduk kembali. Diam tak bersuara.

Selang satu jam kemudian, tulisanku rampung. Kulihat kamu masih duduk di belakangku. Kedua matamu terpejam.

Saat itulah kupandangi wajahmu. Berlama-lama. Benarkah kamu tidak memiliki perhatian padaku? Benarkah kamu tidak romantis? Aku mencari-cari jawaban itu di sana.

Sejenak aku terpana. Kamu sebenarnya kekasih yang romantis. Kamu lebih suka makan di rumah bersamaku. Berbagi cerita denganku. Kamu bilang masakanku enak. Bukankah itu sangat romantis? Satu lagi, kamu sama sekali tidak marah meski kutinggal menulis berjam-jam. Kamu bahkan menungguiku dengan sabar. Bukankah kesabaran dan pengertian hanya dimiliki oleh seseorang yang benar-benar menyayangi kita?

Rasa bersalah menghinggapi hatiku. Aku keliru menilaimu. Aku kurang peka membaca caramu mencintaiku.

Perlahan kusentuh dagumu. Kamu terbangun.

"Aku tertidur ya?" kamu beringsut membetulkan posisi dudukmu.

"Kubuatkan kopi ya..." aku tersenyum sebagai ungkapan permintaan maaf. Kamu membalas senyumku.

Saat itulah aku melihat, pada senyummu tersimpan ketulusan cinta yang tak pantas kuragukan.

?

###

?

?

?