Lelaki dan Pohon Ara

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Lelaki dan Pohon Ara

Setiap pagi, usai sholat subuh, lelaki itu selalu berdiri menatap pohon Ara di samping rumahnya. Matanya berkejap-kejap. Lalu ia melantunkan syair. Serupa mantra.

Pohon Ara, pohon Ara....

Setiap detik tumbuhlah

seperti rasa ini

Jangan pernah mati

karena jika kau mati

habis sudah kenangannya

Tentang cinta yang

tak sempat memiliki judul, tetaplah berkisah...

Jangan pernah pergi

Kecuali jika

reinkarnasi

memang benar adanya

 

Aku tergugu mendengar larik-larik yang diucapkannya. Seketika pikiranku sibuk menilai. Siapa laki-laki bertubuh kurus semirip lidi itu? Apakah ia seorang pujangga yang tengah patah hati?

Mataku tak juga beranjak dari sosoknya.

Usai melantunkan bait-bait indah dari bibirnya yang kering, lelaki itu menyandarkan tubuhnya pada pohon Ara. Matanya terpejam.

#

Begitu pula pagi itu. Ia kembali berbicara dengan pohon Ara. Aku mengintip dari jarak yang tak seberapa jauh.

Pohon Ara, pohon Ara....

Ah, kukira ia akan melanjutkan kalimatnya. Ternyata tidak. Mendadak ia memalingkan wajah dan memergokiku. Aku terkejut setengah mati. Antara malu dan takut.

"Kemarilah, mari kita bicara," ia menghampiriku. Senyumnya mengembang. Dadaku berdesir. Duh, senyum itu. Aku seolah tersihir.

Lelaki itu membimbing tanganku. Mengajakku menuju ke sebuah bangku yang terbuat dari bambu. Kami duduk berdampingan. Menatap halimun yang perlahan menghilang.

"Siapa namamu?" ia bertanya lembut. Aku tak menyahut.

"Boleh kutahu, siapa namamu?" ia mengulang pertanyaan.

"Namaku, pohon Ara," sahutku pelan.

 

###

  • view 134