[Ending Fikber Kompi] #10 The Hunters of Arjuna

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Mei 2016
[Ending Fikber Kompi] #10 The Hunters of Arjuna

[Ending Fiber Kompi]# 10  The Hunters of Arjuna

(Penulis Tamu)

Wajahku menegang ketika moncong pistol AK-MG 14 itu menyentuh pipiku. Sosok kekar dengan tatap mata dingin itu mendekatkan bibirnya tepat di belakang telingaku. Aku sempat merasakan desah napas yang keluar dari lubang hidungnya panas membara bagai bara api.

"Apakah kau masih yakin dengan motif yang kau simpulkan? Karena menurutku, tak akan ada yang pernah tahu, jika itu berkaitan dengan rencanaku. Salam kenal dari Sang Jinshu, Nona."

Seketika darahku menggelegak. Hh, jadi ini sosok yang selama ini dicari-cari itu? Ternyata ia tak lebih dari seorang pembunuh sadis berdarah dingin. Nyaris kutendang selangkangannya supaya aku bisa menjatuhkan pistol dari tangannya. Kalau saja tidak kulihat gerakan samar dan halus tubuh kakakku, Inspektur Ando yang membuatku menjerit dalam hati. Tuhan, ternyata kakakku masih hidup!

"Kali ini masih kuberi kau kesempatan menghirup udara, Nona. Entah nanti...." Pria bermata dingin itu mundur beberapa langkah. Menatapku dengan pandangan aneh. Masih dengan posisi senjata terarah padaku, tiba-tiba, klik, ia menarik pelatuk benda keparat itu. Terdengar bunyi letusan. Spontan aku memiringkan tubuhku ke kiri. Desing peluru hanya berjarak beberapa inci melewati pundakku. Timah panas itu tidak mengenaiku. Tapi aku jatuh tersungkur karena kehilangan keseimbangan.

Pria bernama Arjuna itu mengecup ujung senjatanya sebentar. Matanya nanar menatap sekeliling. Lalu ia tertawa terkekeh bagai orang sinting. Beberapa saat kemudian hening. Aku menahan napas.

Barangkali ia menganggap aku sudah mati. Sempat kudengar langkahnya berhenti tepat di atas kepalaku. Tapi tak lama kemudian terdengar langkahnya meninggalkan ruangan. 

Aku membuka mataku. Suara erangan kakakku membuatku lupa akan memar di pelipis akibat benturan pada lantai.

 Aku beringsut menghampiri tubuh kakakku yang bersimbah darah.

"Bertahanlah!" seruku panik. Kulihat ia meringis sembari memegangi lengan kirinya yang terluka.

Darah segar merembes di lantai. Aku melepas syal yang sedari tadi melilit di leherku. Kubebat lengannya yang terluka kuat-kuat untuk menghentikan darah yang terus mengalir.

"Olet, tenanglah, aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil," ia berusaha menenangkanku.

"Kamu, selalu meremehkan sesuatu," ujarku dengan mata mulai berair. Baru kali ini aku merasa, betapa aku sangat menyayangi lelaki gondrong menyebalkan itu.

"Bisa menangis juga, kamu Olet," ia tersenyum menggodaku. Aku menghapus airmata dengan punggung tanganku. Kutinju perutnya perlahan.

"Tolong kamu periksa tubuh teman-teman Kompiers yang bergelimpangan itu, Olet. Barangkali ada yang selamat," ia menyentuh pundakku. Aku bangkit dan berjalan gontai mengelilingi ruangan. Darah bercecer di mana-mana. Bau anyir mulai menyengat hidung.

Enam orang gadis cantik anggota Kompi terbujur kaku. Tak satupun yang bernapas.

Dua pemuda saling tindih di bawah jendela. Aku terkesiap. Salah satu dari tubuh itu bergerak-gerak.

"Aduuuh, tolong aku..." terdengar rintihan lirih. Aku menghampirinya.

"Lesmana, aku...Lesmana..."

 

"Kamu terluka?" tanyaku was-was sembari memeriksa keadaan pemuda yang berusaha bangkit itu.

"Mmm, anu, cuma rambutku...terserempet peluru sedikit," ia mengacak-acak rambut cepaknya.

"Hah, cuma rambut? Lalu ngapain posisi kamu tumpang tindih begitu?" tanyaku setengah heran bercampur kesal.

"Sama sepertimu. Berusaha menyelamatkan diri dengan cara berpura-pura mati."

Aku menggeram.

"Eh, kamu sepertinya tidak suka ya, melihat aku selamat?" pemuda itu menatapku. Aku tak menggubrisnya. Tanganku sibuk memencet beberapa angka pada layar ponsel.

Aku harus segera menghubungi Markas Besar Polisi.

*** 

"Ikuti instingmu Olet. Aku yakin kamu pasti menemukannya," kakakku, inspektur Ando yang tengah terbaring di atas sofa menatapku dengan pandangan yang tak biasa. Pandangan penuh harap. Aku merundukkan badanku. Kucium lembut pipinya yang pucat dan terasa dingin. 

"Jangan membangkang jika nanti anak buahmu membawamu ke Rumah Sakit," aku mengultimatumnya. Ia tersenyum lebar. Senyum yang mengingatkanku pada almarhum ayah kami.

"Briptu Lesmana, tolong temani adikku, Miss. Violet, ya..." ia mengangkat tangannya ke arah pemuda yang sejak tadi berdiri tak jauh dariku.

"Siiiap Inspektur!"

Briptu Lesmana? Seketika mataku terbelalak.

***

Kususuri jalan temaram tak tentu arah. Aku hanya mengikuti instingku.

"Miss. Viol, kita hendak kemana?"Briptu Lesmana  mengejar langkahku.

"Kemana saja yang aku suka!" aku menjawab tanpa menoleh.

"Tapi Miss, ini arah menuju hutan."

"Aku tidak peduli!"

"Dan ini sudah tengah malam."

"Aku tak peduli!"

"Apakah tidak sebaiknya...."

"Kamu bisa diam tidak sih? Kalau kamu keberatan, tinggalkan saja aku. Aku bisa pergi sendiri mencari keberadaan orang itu," aku mempercepat langkahku.

"Jangan bilang begitu, Miss. Viol. Mana berani aku menyalahi perintah Inspektur Ando agar selalu  menjagamu."

Aku terpaksa menghentikan langkah. 

"Kamu tahu tidak?" kutatap pemuda di hadapanku itu dengan kesal. "Kamu sama menyebalkannya dengan si gondrong itu!"

***

Langkahku terhenti di pinggiran hutan cemara. Angin malam mulai dingin menggigit. Butiran embun perlahan turun membasahi pucuk-pucuk dedaunan.

"Miss. Viol, Arjuna tak mungkin berada di sini," Briptu Lesmana menjejeriku.

"Aku tahu."

"Loh, lantas untuk apa kita berada di sini?"

"Untuk menemui orang itu!" aku menunjuk ke sebuah batu besar yang terletak tak jauh dari tempat kami berdiri. Briptu Lesmana menajamkan pandangannya. Kemudian ia terpekik.

"Guru! Guru Bay!"

***

Briptu Lesmana siap berlari menyongsong Pemimpin Bayangan ketika tiba-tiba, dhiegh! Sebuah pukulan jarak jauh tepat mengenai dadanya. Ia terpental. Lalu jatuh terjengkang tepat di sebelah kakiku.

"Hahaha...ternyata cadangan nyawa kalian banyak juga," Pemimpin Bayangan terkekeh sembari bersiap melontarkan sebuah pukulan lagi. Kali ini ia membidikku.

"Miss. Viol, jatuhkan dirimu!" Briptu Lesmana berseru. Agak terlambat aku menuruti perintahnya. Pukulan dasyat jarak jauh mengenai ulu hatiku. Aku terhuyung lalu ambruk tak sadarkan diri.

***

Entah berapa lama aku pingsan. Saat aku terbangun hari sudah pagi. Kurasakan seluruh tubuhku ngilu dan kaku. Di sebelahku tampak Briptu Lesmana meringkuk dalam keadaan terikat.

"Hei, apa yang terjadi? Di mana kita?" aku mencoba beringsut.

"Kita berada di sarang penjahat. Dan kamu tahu siapa pimpinan penjahatnya?" Briptu Lesmana bertanya lirih.

"Pemimpin Bayangan?" aku menebak. Briptu Lesmana menggeleng.

"Guru Bay hanya kaki tangannya. Pemimpinnya adalah Arjuna."

Seketika aku merasakan aliran darahku terhenti.

***

"Kita bertemu lagi, Nona," suara itu, tatapan dingin itu. Aku kembali berhadapan dengannya. Dengan laki-laki pembunuh itu.

"Ternyata besar juga nyalimu, Nona. Berani datang ke sarang harimau. Bagaimana kau tahu kami bersembunyi di hutan cemara ini?"

"Mudah bagiku melacakmu, Jinshu," aku tertawa.

"Sombong sekali kau, Nona. Tapi tak masalah. Aku suka gadis yang sombong sepertimu." Ia mendekat. Mengamatiku dari ujung kaki hingga ujung rambut.

"Aku baru menyadari ternyata kau manis juga, Nona detektif," ia terkekeh. 

"Lesmana, apakah ini gadismu?" matanya beralih ke arah Briptu Lesmana yang masih duduk meringkuk tak berdaya.

"Jangan asal bicara!" wajahku memerah. Arjuna berpaling lagi ke arahku.

"Nona, apa sebenarnya yang kau inginkan? Membalas dendam atas kematian teman-temanku? Atau..."

"Kau biadab!" aku melontarkan kemarahanku.

"Luapkan amarahmu, Nona. Jangan kau pendam dalam hati. Jangan kau biarkan dirimu terkungkung dalam kepura-puraan seperti yang selama ini kualami...."

"Lesmana! Sudahkah kau ceritakan kisah hidupku pada gadis ini? Bagaimana aku mendapatkan semuanya dengan mudah? Bagaimana Guru Bay memperlakukan aku sebagai anak emas? Bagaimana para gadis berebut ingin kukencani?"

"Untuk apa aku mesti mendengar kisah hidupmu yang penuh kepalsuan itu?" aku mencibir.

"Kau...bagaimana kau tahu hidupku penuh kepalsuan?"

"Matamu yang mengatakannya," aku menegaskan. Arjuna tertegun. Ia kembali menatapku. Kali ini cukup lama.

"Tahu apa kau tentang mataku?" ia mendekatkan wajahnya. Teramat sangat dekat. Hingga aku dapat merasakan kembali napasnya yang panas bagai bara api.

"Matamu itu, begitu kesepian..." ujarku tanpa sadar. 

***

Tiba-tiba terdengar suara riuh di kejauhan. Kulihat Pemimpin Bayangan masuk dengan tergopoh.

"Polisi mengepung tempat ini, Juna. Kita harus segera pergi dari sini."

"Kita? Mengapa kau bilang kita? Seyakin itukah aku akan membawa serta dirimu? Duhai, Pemimpin Bayangan, jangan terlalu banyak berharap padaku. Jikalau aku harus pergi, maka aku akan pergi sendiri tanpa siapapun. Kau tahu kenapa, Guru Bay? Karena aku muak dengan segala kemanjaan yang kau berikan. Kau pikir aku ini manusia setengah dewa? Kau lihat kan Guru Bay, bagaimana aku bisa menjelma menjadi iblis pembunuh karena kasih yang berlebih darimu...Sadarkah kau, sebagai guru kau telah ikut andil dalam proses pembentukan karakterku."

Terdengar suara helikopter mendarat di sekitar hutan cemara.

"Ah, sayang sekali, teman-teman. Aku harus pergi ke suatu tempat yang cukup jauh. Tempat paling timur di negeri ini. Tempat di mana aku bisa mewujudkan mimpi dan obsesiku." Arjuna melongokkan wajahnya melalui jendela. Sebelum pergi ia sempatkan menoleh sejenak ke arahku.

"Nona detektif, senang bertemu denganmu. Kucabut kata-kataku kemarin. Aku tak akan menyakitimu. Karena siapa tahu kelak kita dipertemukan kembali." Ia tersenyum hangat. Tatapannya juga berubah hangat. Ah, aku segera membuang muka.

***

Semua sudah berakhir. Kisah ini pun segera berakhir. Aku berusaha tidak memikirkan lagi apa yang terjadi pada diri Arjuna. Biarlah ia pergi ke mana ia suka. Biarlah Arjuna hanya sepenggal kisah. Biarlah ia merasa ada dalam tiada.

Juga mengenai Pemimpin Bayangan. Aku tak berusaha mencegahnya ketika ia pamit pergi dan melesat bagai angin untuk kemudian menghilang di tengah rerimbunan hutan cemara. 

Tamat

***

11 Mei 2016

*Sumber foto by google

 

 

.