Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 10 Mei 2016   00:00 WIB
[Fikber KOMPI] #10 Misteri Hilangnya Sang Arjuna

[Fikber KOMPI] # 10 Misteri Hilangnya Arjuna

(Penulis tamu)

Lelaki gondrong itu mencorat-coret secarik kertas di atas meja. Sesekali ia bergumam. Beberapa menit kemudian disodorkannya kertas itu ke hadapanku.

"Apa ini?" aku melebarkan mataku.

"Info orang hilang. Namanya Arjuna. Biasa dipanggil Juna. Sudah tiga hari ini ia raib," ujar lelaki gondrong itu seraya menyelipkan sebatang rokok di sela kedua bibirnya.

"Apakah pihak kepolisian sudah mengambil tindakan?" tanyaku serius.

"Sejauh ini belum. Ada beberapa hal yang mesti dipertimbangkan," ia meraih geretan dan mulai menyalakannya.

"Oh, ya? Lantas kamu dengan seenaknya menyerahkan tugas ini padaku?" aku tersenyum kecut. Lelaki gondrong itu tertawa.

"Jika butuh informasi lebih detail, kamu bisa bertanya pada mereka," ia menggendikkan kepala ke arah serombongan anak muda yang duduk melingkar tak jauh dari meja kami.

"Siapa mereka?" aku mengikuti arah pandangannya.

"Para muda yang tergabung dalam satu wadah bernama KOMPI." Lelaki gondrong itu mengisap rokoknya dalam-dalam. Lalu menghembuskan asapnya perlahan hingga membentuk bulatan-bulatan kecil.

"Kamu harus bicara dengan dia," lelaki gondrong itu menunjuk seseorang yang berjalan tergesa menghampiri kami.

"Siapa dia?" aku menautkan kedua alisku.

"Pemimpin Bayangan."

***

"Bay! ini adikku, Miss. Violet. Awas, menyebut namanya nggak boleh disingkat, ya..." lelaki gondrong itu memperkenalkan diriku. Pria berpakaian serba hitam itu tersenyum dan menganggukkan kepala ke arahku. 

"Senang berkenalan dengan Anda, Miss. Vi...."

"Violet, Bay!"

"Oh, ya, maaf, Miss. Violet. Inspektur Ando sudah bercerita banyak mengenai diri Anda."

"Sorry, Olet. Terhadap sohib kentalku ini, aku tidak bisa menyembunyikan rahasia apapun. Termasuk keahlianmu memecahkan kasus ala detektif idolamu itu," lelaki gondrong menyebalkan itu tersenyum nakal.

"Jangan panggil aku Olet, dong!" aku memberengut. 

"Kau lihat Bay, beginilah cara kakak adik yang jarang bertemu melepas rasa kangen. Mesti berantem dulu."

Lelaki yang dipanggil Bay itu tak bereaksi. Ia hanya tersenyum tipis.

"Bay, maaf, ya, kalian kutinggal sebentar," kakakku menepuk pundak pria kurus itu. Lalu beralih menatapku.

"Dan kamu, Olet. Bantu Bay menemukan kembali murid kesayangannya!"

***

Pria yang bergelar Pemimpin Bayangan itu menarik sebuah kursi. Ia duduk tepat di hadapanku. Ini kesempatan baik bagiku untuk mencermati sosoknya yang menurutku agak misterius.

Kuawali dari raut wajahnya. Tampak guratan halus menghitam di sekitar matanya. Pertanda ia seorang koruptor  jam tidur kelas kakap. Fisiknya pun jauh dari kata ndayani. Kurus, kerempeng, mengingatkanku pada tokoh Shaggy dalam film lawas Scooby Doo.

Satu poin yang patut diperhitungkan, ia memiliki sorot mata tajam penuh selidik. Sorot mata seperti ini hanya dimiliki oleh orang-orang berilmu setingkat para dewa.

"Miss. Violet, bisakah kita memulai perbincangan?" pria kurus itu membuyarkan deduksi awalku tentang dirinya.

"Ten-tu saja Mister Pemimpin," aku menjawab agak tergagap.

"Panggil saja saya Bay." 

"Oh, baiklah. Silakan Pak Bay menceritakan kronologi hilangnya Arjuna."

***

Pemimpin Bayangan membetulkan posisi duduknya. Setelah mengatur napas, ia pun mulai bertutur.

"Arjuna adalah murid kesayangan saya selain Dinan. Ia memiliki karakter yang hampir sama dengan Arjuna putra Pandu itu. Berdedikasi tinggi, berprinsip teguh, cerdas, idealis, berbudi luhur dan...."

"Banyak digandrungi  kaum wanita," aku menambahkan. Pemimpin Bayangan mengangguk.

"Anda benar, Miss. Violet. Arjuna memang sosok yang fenomenal.  Banyak gadis cantik tergila-gila padanya. Termasuk ke enam wanita yang tergabung dalam KOMPI ini. Tapi sayang, hati Arjuna hanya untuk satu orang saja."

"Larasati?" aku menegaskan.

"Bagaimana Anda tahu itu, Miss. Violet?" Pemimpin Bayangan menatapku heran.

"Saya mendapat bocoran sedikit dari kakak saya yang selengekan itu," jawabku ringan.

"Juga kisah tragis mereka?"

Aku mengangguk.

"Pasca kecelakaan yang menewaskan kekasihnya, Arjuna berubah seratus delapan puluh derajad. Ia bukan lagi Arjuna yang saya kenal."

"Begitulah cinta...dengan kuasanya ia mampu mengubah dan membolak-balik jiwa sang pecinta. Karena sejatinya cinta tak lebih dari siksaan yang menyenangkan." Tanpa sadar aku menggumamkan sebait syair entah gubahan siapa. Mataku terpejam. Anganku menerawang jauh menembus batas cakrawala di bawah alam sadarku.

"Miss. Violet? Apakah Anda baik-baik saja?" Pemimpin Bayangan menjentikkan jemarinya tepat di depan hidungku.

"Eh, iya, Pak Bay...maaf. Silakan Anda lanjutkan," aku membuka mataku. Wajahku memerah dadu.

***

"Bagi saya Arjuna bukan sekedar murid. Ia juga teman diskusi yang menyenangkan. Kami kerap membicarakan banyak hal. Tentang keilmuan, hakikat hidup dan kehidupan itu sendiri. Juga kematian. Di mata saya Arjuna adalah titisan putra Pandu Dewanata. Sebaliknya, di mata dia, saya adalah wujud nyata sang guru Drona. Tapi sejak petaka itu, Arjuna tak lebih dari seorang pecundang yang berjiwa kerdil, rapuh dan kehilangan arah. Saya benar-benar kecewa. Teramat sangat kecewa."

"Terkadang kita keliru mengartikan perjalanan takdir, Pak Bay...."

"Mungkin. Saya sempat berpikir. Barangkali kebagusan yang terlalu sempurna tanpa sadar menggiring kita pada kekhilafan yang sempurna pula." Pemimpin Bayangan terdiam sejenak. Wajah tirusnya berubah murung.

"Anda ingin kopi, Pak Bay?" aku berdiri. Beberapa saat kutinggalkan pria itu untuk memesan secangkir kopi tanpa gula.

"Bagaimana Anda tahu saya sedang menghindari gula, Miss. Violet?" keheranan kembali menyelimuti wajah pria itu. Aku hanya tersenyum.

Sembari menangkupkan tangan pada  punggung cangkir kopi di hadapannya, Pemimpin Bayangan meneruskan kalimatnya.

"Tiga hari yang lalu, ditemani oleh Dinan, Arjuna menemui saya di basecamp. Saya melihat wajahnya begitu murung dan gelisah. Sesekali ia mencuri pandang ke arah saya. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Tapi hari itu saya sangat sibuk. Jadi agak mengabaikan kehadirannya. Saya hanya menyarankan agar ia membaca kitab Wanaparwa yang berisi kisah pengasingan Arjuna putra Pandu di hutan belantara. Saya berharap, usai membaca kitab itu, Arjuna akan memperoleh sedikit atau banyak pencerahan."

"Bagaimana reaksinya saat itu, Pak Bay?"

"Sangat antusias. Beberapa jam kemudian, saya menyudahi pekerjaan. Saya menawarkan minum kopi bersama di kafe seberang jalan. Tapi Arjuna menolak. Ia mengatakan ingin melanjutkan membaca kitab Wanaparwa hingga tuntas. Akhirnya saya pergi ke kafe berdua dengan Dinan. Satu jam kemudian, kami kembali ke basecamp. Alangkah terkejutnya kami. Keadaan basecamp porak poranda. Kertas-kertas berserakan. Meja kursi bergelimpangan. Seolah baru saja terjadi perkelahian sengit. Dan yang lebih mengagetkan, kami tidak menemukan keberadaan Arjuna."

"Anda sudah berusaha menghubunginya?"

"Sudah. Tapi ponselnya tidak aktif. Saya lalu merapikan ruangan yang berantakan dibantu oleh Dinan. Saat membersihkan meja kerja, saya menemukan ini tertempel pada belakang komputer." Pemimpin Bayangan menunjukkan secarik kertas kepadaku.

Serta merta kuraih kertas itu. Mataku terpaku pada sederet aksara yang tertulis di atasnya.

Aku pernah melihatnya. Sebelum ini, juga sesudahnya, entah di mana. Mungkin di sudut hatiku sendiri, tanpa kusadari. Atau bisa jadi itu diriku, sepenggal ruhku yang terpisah. Yang masih melayang bimbang meninggalkan raganya... ( Sang Jishnu)

*Jika ingin Arjuna selamat, jangan pernah menghubungi Polisi...!!!

Aku tersenyum dalam hati. Sepertinya aku tahu, motif apa sebenarnya yang mendasari kasus menghilangnya Arjuna ini!

 

Bersambung ke Fikber 11

*Sumber gambar google

 

 

 

 

 

 

 

 

Karya : Lilik Fatimah Azzahra