Surat Pendek Bidadariku

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Mei 2016
Surat Pendek Bidadariku

Dear Mama...

Hari ini adalah hari kelulusanku, aku minta maaf ya, Ma. Karena aku belum bisa memberi yang terbaik buat Mama yang sudah bekerja keras demi sekolahku. Aku tidak bisa menyampaikan kata-kata ini langsung ke hadapan Mama....

Ma, sebenarnya aku ini bisa juga menangis....Aku memiliki air mata seperti Mama. Cuma aku tidak ingin menangis di hadapan Mama. Gengsiku terlalu tinggi. Kenapa ya, Ma. Apa mungkin pengaruh darah Madura dari Papa yang mengalir di tubuhku?

Ma, sekali lagi maafkan aku jika hari ini aku belum bisa membuat Mama bangga. Tapi percayalah, aku sudah berusaha semampuku. Perjuanganku belum berakhir, Ma. Masih ada tahap-tahap lain yang harus kujalani.

Selanjutnya aku berjanji, aku akan lebih giat belajar lagi agar bisa diterima di perguruan tinggi favorit seperti yang kuidamkan. Aku ingin membanggakan sekaligus membahagiakan Mama. Aku ingin meraih cita-citaku setinggi yang aku mampu. Aku ingin seperti Albert Einstein dengan rumus-rumus hebatnya, atau Al Karaji ilmuwan Matematika muslim idolaku.

Mamaku sayang, aku mohon doa restu darimu...agar aku lolos masuk SNMPTN pada tanggal 10 Mei nanti. Inilah harapan terbesarku. Doakan aku yang terbaik ya, Ma....

Aku tahu beaya masuk dan belajar di perguruan tinggi itu mahal. Tapi aku akan berupaya untuk selalu berprestasi agar bisa mendapat beasiswa sehingga bisa meringankan beban Mama.

Ma...aku menyayangimu, selalu....

Anandamu

Surya Putri

Surat pendek itu aku temukan tergeletak di atas meja riasku sesaat setelah pengumuman kelulusan UN 2016 tadi pagi. Bidadari kecilku yang manis, yang selama ini tidak banyak bicara, mencurahkan perasaannya dan tentu saja membuat aku sangat terharu. Kuhampiri ia yang tengah merenung di dalam kamarnya. Kurengkuh tubuh remajanya ke dalam peluk hangatku. 

"Tumben anak Mama menangis?" ujarku menggodanya. Ia tersipu dan buru-buru menghapus air matanya.

"Sudah dibaca, ya, suratnya?" ia bertanya sembari menyungging senyum. Aku mengangguk. Ia membalas pelukanku.

"Tanpa diminta Mama akan selalu mendoakanmu, Nduk..." bisikku seraya menyentil hidungnya yang mungil. 

"Thank's, Ma. I love you...."

****

08 Mei 2016