Surat Panjang untuk Sherlock Holmes

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Mei 2016
Surat Panjang untuk Sherlock Holmes

Tuan Sherlock Holmes....

Ketika langit senja mulai menggayut, semburat awan jingga memercik hingga kaki langit, kutulis surat panjang ini untukmu. Angin Desember yang dingin menggigit memporakporandakan semburat awan menjadi siluet tak beraturan. Sebentar membentuk wajah penuh senyuman, sebentar kemudian berubah menjadi sosok raksasa menakutkan.

Ah, senja memang selalu begitu. Mendramatisir suasana. Tapi biarlah. 

Tuan Holmes,

Sesaat senja berubah murung. Gumpalan awan mulai turun dan berubah menjadi butiran-butiran kristal yang bening. Butiran itu jatuh untuk kemudian meleleh di atas tanah. Seperti hatiku saat ini. Jatuh dan meleleh karenamu.

Entah mengapa lamunku kian fokus pada sosokmu. Sosok jangkung misterius dengan sorot mata elang yang tajam, cerdas  namun menyimpan kelembutan. Jika boleh berterus terang, mata elangmu itulah yang telah menyambar hatiku. 

Ah, Tuan Holmes, sepertinya aku telah jatuh cinta padamu....

Di luar hujan jatuh kian meluruh. Deras. Jemariku pun semakin lincah merangkai kata demi kata untukmu. Tak kupedulikan tangan-tangan kekar yang dengan kasar mendorongku.

"Selamat datang di hotel prodeo..." salah seorang pemilik tangan kekar itu tersenyum dingin. Lalu mengunciku di dalam bilik ukuran sempit yang pengap dan berbau.

Tuan Holmes....

Biarkan aku menceritakan sedikit apa yang telah terjadi. Mengapa aku bisa berada di tempat asing seperti ini. 

Dua hari yang lalu, ketika aku sedang duduk bersantai di sebuah taman, seorang pria tak dikenal tetiba muncul di hadapanku. Wajahnya putih dengan sorot mata yang sama sekali tidak bersahabat.

"Buku apa yang kamu baca?" ia bertanya sinis. Aku tak menyahut. Aku masih fokus pada kisah petualanganmu.

"Buku Holmes lagi?" pria itu mendekatkan wajahnya. Aku mulai merasa terganggu. Kututup buku di pangkuanku. Kutatap wajah pria asing itu.

"Siapa Anda?" aku balik bertanya. Pria itu memicingkan matanya. 

"Seorang pecinta Sherlock Holmes tidak bisa mengenaliku?" ia mendengus. Sesaat aku tertegun.

"Oh, Anda Jim Moriarty!" aku hampir saja menjatuhkan buku di tanganku. 

"Yup! Kamu benar. Akulah musuh bebuyutan detektif bodoh itu!" pria asing itu membentangkan kedua tangannya.

"Jaga mulut Anda. Jangan asal menghina Tuan Holmes!" aku menatap pria itu geram.

"Hohoho...rupanya detektif sialan itu telah berhasil merasuki pikiranmu," Moriarty membalas tatapanku. Bibirnya yang tipis tersenyum mengejek. Entah mengapa aku seperti melihat iblis merasuki jiwa pria di hadapanku itu.

"Dasar perempuan bodoh! Holmes itu tidak lebih dari seorang pecundang dan seonggok sampah!" ia melepas kata-kata hinaan seraya merampas buku di tanganku. Lalu dengan kasar ia melemparkannya ke tanah dan menginjak-injaknya.

Tuan Holmes! Habis sudah kesabaranku. Jangan salahkan jika tiba-tiba aku berubah menjadi kalap. 

Kuhajar pria asing di hadapanku itu sekuat tenagaku. Kutendang tubuhnya hingga jatuh terjerembab. Napasku memburu. Dadaku sesak menahan amarah. 

Kuambil buku kisah petualanganmu dengan mata dan wajah memerah. Kudekap erat-erat di dadaku.

"Sekali lagi berani menghina Tuan Holmes, akan kuhabisi kau!" ancamku. Pria bernama Moriarty itu berusaha bangkit. Tubuhnya terhuyung sebentar. Lalu tanpa terduga ia merangsek maju. Menyerangku membabi buta.

Mendapat serangan yang tiba-tiba, aku lengah. Ia berhasil mencekik leherku. Membuatku megap-megap tak bisa bernapas.

"Kamu adalah perempuan paling tolol dan konyol yang pernah kutemui!" Moriarty memperkuat cengkeramannya.

"Arrrg...le-pas-kan..." aku meronta-ronta. Kembali buku di tanganku terjatuh. 

"Akan kulepaskan jika kamu berjanji tidak akan mendewakan detektif sinting itu! Berjanjilah!" Moriaty mengendurkan cengkeramannya.

"Aku tidak sudi!" ujarku lantang. 

"Woow, jadi begitu, ya...baiklah. Aku ingin tahu apa yang bisa dilakukan detektif bodoh itu saat melihat pecinta sejatinya menghadapi maut..." perlahan Moriarty mengeluarkan sebuah benda dari dalam sakunya. Benda itu runcing dan berkilau. Sebuah pisau!

"Kuberi kamu kesempatan berpikir sekali lagi. Jangan menggilai Sherlock Holmes lagi!" Moriarty menjambak rambutku. Ia mendekatkan pisaunya tepat di leherku. 

Aku terdiam.

"Hei, kamu jawab kata-kataku!" Moriarty menatapku nanar. Wajah iblisnya terbakar.

Aku masih terdiam.

Moriarty siap menghujamkan pisau di tangannya ke leherku. Sontak aku menendang selangkangan pria itu sekuat tenagaku. Ia jatuh terjungkal. Pisau tajam yang dipegangnya tertancap tepat pada ulu hatinya. Darah muncrat membanjiri tanah. Sekejap kulihat tubuh pria itu mengejang. Lalu diam tak bergerak. Mati.

Tuan Holmes, aku masih berdiri di taman itu dengan mendekap buku kisah petualanganmu ketika dua orang polisi bertubuh kekar  menggelandangku. Memasukkanku ke dalam sel tahanan ini.  

Tuan Holmes....Begitulah kisah sesungguhnya.

Ah, sayup-sayup lonceng penjara berdentang. Malam kian melarut. Tuan, kusudahi dulu surat panjangku ini ya....

Kuharap pada persidanganku nanti, Tuan sudi datang untuk memberi kesaksian pada para juri di pengadilan. Bahwa aku bukanlah seorang pembunuh. Aku hanya seorang maniak kisah-kisah petualanganmu. 

***

06 Mei 2016

 

"