To be Yourself

Lilik Fatimah Azzahra
Karya Lilik Fatimah Azzahra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Mei 2016
To be Yourself

Catatan kecil: Sekitar bulan Maret 2015, saya membukukan kumcer ke penerbit indie khusus saya persembahkan untuk anak-anak didik saya (usia SMP). Kumcer saya beri judul Tuan Sihir. Dan tokoh-tokohnya adalah...yup, mereka sendiri...^^

Kisah-kisah yang terangkum di dalam kumcer adalah fiktif. Tapi saya tidak mengubah karakter asli murid-murid saya. Kumcer sengaja saya buat untuk mengenang kebersamaan kami yang indah.

Selamat mencicipi....

Kisah ini  teruntuk ananda April  si tomboy...^^

*To be Yourself

Wuuussss....Kali ini aku nongol di sebuah rumah mungil bercat abu-abu. Seorang cewek hitam manis, mengenakan jean belel dan t-shirt pendek berwarna putih, tengah memagut diri di depan cermin.

"Sore, April!" tegurku riang. April menoleh dan langsung berteriak kaget.

"Tooolooong! Ada setan!"

Aku gugup. Bisa runyam nih kalau sampai ada yang mendengar teriakannya.

"VOICE MINIMIZE....!"

Sihirku mengubah suara April menjadi kecil dan pelan. Mirip suara Donal Bebek. 

"Namaku Dimas. Aku bukan setan. Aku seorang penyihir. Penyihir keren tentunya," ujarku sedikit narsis. Wajah April memucat.

"Jangan takut. Aku buka penyihir jahat, kok," lanjutku.

"Pe-nyi-hir?" April gemetar. Aku jadi bingung. Duh, harus bagaimana nih menghadapi cewek penakut seperti dia?

Kuputuskan mengucap satu mantra sihir lagi.

"UJINYALI!"

Nah, berhasil. Kali ini April tidak takut lagi melihatku. Dia malah menyalamiku.

"Senang dapat teman baru," ujarnya dengan suara Donal Bebeknya.

"Ada yang bisa kubantu?" tanyaku sok penting.

"Sore ini aku diundang pesta ulang tahun seorang teman. Aku bingung mau pakai baju apa..." April menunjuk tumpukan baju di atas kasur.

"Pakai saja yang sesuai dengan karakter kamu. To be yourself," saranku.

"Iya juga sih...Tapi aku ingin tampil beda. Cos kata teman-temanku, aku ini terlalu tomboy," April mengeluh.

"Lalu?" aku memicingkan mata.

"Ya, sekali-sekali pingin terlihat feminin, gak pa-pa kan?" April meraih sebuah gaun berwarna pink. Menempelkan pada tubuhnya dan mulai berputar-putar di depan cermin.

"Boleh juga."

"Eh, bener kamu ini seorang penyihir?" Tiba-tiba cewek itu membalikkan tubuhnya. 

Aku mengangguk.

"Please, tolong sihir aku jadi cewek anggun dan feminin, dong..." pintanya memelas.

Aku menarik napas panjang. Tanpa sengaja mataku mulai mengamati cewek hitam manis di hadapanku itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Suer, menurutku ia sudah cocok dengan penampilannya yang sekarang. Manis dan modis.

"Kenapa? Aku nggak pantes jadi cewek feminin, ya?" April menebak pikiranku.

"Bukan, bukan begitu," sahutku serba salah. April menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Wajahnya berubah murung.

"Oke, deh, aku akan menyihir kamu," akhirnya aku mengalah. Aku memang paling tidak tahan melihat cewek bersedih.

Segera kukeluarkan tongkat sihirku.

April terperangah.

"Itu, kenapa tongkat sihirnya cuma seuprit gitu?"

"Ini tongkat sihir pemberian kakekku," aku memamerkan tongkat sihir imut di tanganku dengan bangga.

"Siap-siap ya!" kuacungkan tongkat sihir ke arah April. 

"MENORIUS!"

Cling! Seketika keadaan April berubah. Dia tidak lagi memakai jean belel, tapi memakai gaun panjang berwarna pink. Lengkap dengan sepatu high heel  corak senada.

"Thanks, Dimas," wajah April berseri-seri.

"Tambahkan riasan pada wajahmu biar semakin oke," aku memberinya semangat.

"Boleh juga usulmu!" April berseru riang. Kemudian berjalan dengan gemulai menuju meja rias. Tapi, eits...kakinya tersandung. Nyaris saja ia jatuh terjerembab.

"Emm, ternyata aku perlu adaptasi nih...untuk jadi cewek feminin," ujarnya sembari melirikku. Aku tersenyum.

Dengan bersenandung kecil, cewek itu mulai memoleskan bedak pada wajahnya. Menambahkan perona pipi berwarna pink dan lipstik merah menyala.

"Bagaimana? Apa aku sudah terlihat oke?" ia mengedipkan mata ke arahku.

"Bercerminlah lagi. Nilai dirimu sendiri," sahutku seraya mengangkat bahu.

April memagut dirinya di depan cermin sekali lagi. Kali ini berlama-lama. Mula-mula ia kelihatan narsis. Tersenyum-senyum sendiri. Memonyongkan bibirnya yang bergincu. Mengerlingkan matanya dengan genit. Juga membusungkan dadanya yang terlihat lebih besar dari biasanya.

Tapi sejurus kemudian wajahnya berubah.

"Kenapa?' tanyaku.

"Kok aku jadi aneh, ya..." ia mendekatkan wajahnya nyaris menempel pada cermin.

"Apanya yang aneh? Kamu terlihat cantik kok," pujiku.

"Cantik apa-an? Aku terlihat menor, tahu!" April memberengut. Ia pun mulai menghapus riasan di wajahnya dengan tisu.

"Kok dihapus? Katanya ingin tampil beda..." aku menggodanya.

"Nggak! Aku nggak mau berubah. Aku lebih nyaman menjadi diriku sendiri." Ia mulai melepas gaunnya tanpa ragu-ragu. Eits,..sepertinya ia lupa kalau ada aku di belakangnya.

"BALIKUS!"

Buru-buru aku mengucap mantra. Syukurlah, seketip kemudian ia sudah mengenakan jean belel dan t-shirt putihnya kembali.

April menatapku gembira. Ia menghampiriku. Sesaat sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, aku sudah menghilang dari pandangannya.

Cling!

Ups, ada yang terlupa.

Aku  belum mengembalikan suara Donal Bebek cewek itu....

***

02 Mei 2016